Prolog

15 4 0
                                        

Halo semuanya, aku nulis cerita ini tuh pengen nyoba nyoba aja, karna aku penasaran aku ini bakat atau ngga kalau nulis cerita, soalnya kalau untuk bakat baca, jgn di tanya lagi 😏

doain aja moga ga tiba tiba berhenti di tengah jalan kaya yg udah udah yaa..

Happy reading~

•••

"Aduh, ini buku Matematika gue mana, sih?" keluh Arina yang sudah merasa jengah. Sudah sekitar 15 menit ia mencari buku Matematika nya di antara tumpukan buku dan kertas di atas meja belajarnya yang berantakan, namun tak kunjung ia temukan.

Nama dia Arina, Arina Fauziah. Sekarang dia sudah duduk di bangku kelas 2 SMA dan bersekolah di SMAN 1 Banjarmasin. Dia seneng banget waktu tau kalau dia keterima di sana, walaupun guru nya ada beberapa yang galak, salah satu nya si Pak Budi ini, makanya dia panik banget pas tau buku tugas Matematika yang harusnya di kumpulkan ke Pak Budi hari ini hilang.

"Bisa-bisa gue di hukum Pak Budi nih kalau gini ceritanya" gumam Arina cemas. Ia tahu persis betapa tegasnya Pak Budi terhadap murid yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu.

"ARINAAA!!! KAMU MAU SAMPE KAPAN DI KAMAR? INI UDAH JAM 07.30!!" teriakan nyaring Ibu Arina dari lantai bawah membuat Arina tersentak. Ia langsung saja bergegas untuk turun ke lantai bawah.

Arina turun ke lantai bawah dengan wajah lesu. Melihat itu, Ibu Arina mengerutkan kening. "Kenapa? Kamu sakit?" tanyanya, lalu mengambilkan makanan yang ada di atas meja makan untuk Arina.

"Enggak, Bu. tapi buku tugas Matematika aku hilang" kata Arina, sembari memakan makanan yang sudah diambilkan oleh ibunya tadi.

"Kamu sih kalau barang habis di pake selalu di taruh sembarangan, jadi nya hilang kan sekarang!"

"Ihh, Nggak mungkin! Kemaren aku masih inget banget naruh di atas meja belajar, apa bukunya jalan sendiri, ya?" Arina mengerutkan dahi, jari telunjuknya menyentuh dagu, berpura-pura sedang berpikir keras.

"Ngawur kamu, mana ada buku bisa jalan sendiri? Udah sana cepet habisin makanannya, nanti telat lagi!" final Bu Tiya, Ibunya Arina.

Akhirnya Arina dan Bu Tiya menghabiskan makanannya dengan tenang, sampai tiba-tiba Arina melirik jam yang ia gunakan sudah menunjukkan jam tujuh lewat empat puluh tiga menit. Yang dimana gerbang sekolahnya akan segera di tutup tujuh belas menit lagi.

Sontak saja Arina buru-buru pamit kepada Ibunya. "Arina pergi sekolah dulu ya, Bu. Bye!" pamit Arina sembari mencium punggung tangan Ibunya.

Saat berada di depan rumahnya, Arina buru-buru untuk memesan ojek online, namun hasilnya nihil, tidak ada yang menerima pesanan Arina.

Arina mengepalkan tangannya, "Akkhh! kenapa ga ada yang nerima orderan gue sih, mana tinggal 13 menit lagi gerbang udah di tutup!" pekik Arina, setelah buku tugasnya hilang, kini ia terancam terlambat sekolah karena tak dapat ojol, Hari ini benar-benar hari terburuknya.

Namun, di tengah keputusannya, Arina tiba-tiba mendapatkan ide agar ia tak terlambat datang ke sekolah, "Apa gue minta tolong ke Rafael buat jemput gue aja ya? Eh tapi kalau dia udah sampai di sekolah duluan gimana ya? Ah bodoamat deh, moga-moga tuh anak belum berangkat sekolah" dengan semangat 45, Arina buru-buru menelfon Rafael, berharap sahabatnya yang satu itu- ralat, sahabat satu-satunya itu belum berangkat ke sekolah.

"Please, Raf, angkat dong.."

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya panggilan telepon tersebut di terima oleh Rafael.

"Halo Rin, kenapa?"

"Rafa, gue boleh nebeng ke sekolah bareng lo, gak?"

"Tumben?"

"Tadi gue udah berusaha mesen ojol, tapi gak ada yang nerima pesanan gue. Jadi boleh gak gue nebeng sama lo? gue takut telat nihh!!"

"Oh, boleh kok Rin, tunggu ya, gua masang sepatu bentar"

"Okee, Raf, makasih yaa"

"Iye, kaya sama siapa aja sih lo, haha." mendengar kekahan Rafael dari sebrang sana, Arina pun ikut tertawa. Dan setelahnya, sambungan telepon itu dimatikan oleh Arina.

"Huftt untung aja Rafael belum berangkat, jadi nya gue bisa nebeng."

TBC

Segini dulu deh, nanti kalau ada mood aku lanjutin lagii ᓚ₍⑅^..^₎♡

𓂃˖˳·˖ ִֶָ ⋆🌷͙⋆ ִֶָ˖·˳˖𓂃 ִֶָ

- Thanks for reading

Di Antara Dua RasaStories to obsess over. Discover now