Bab 1 The First Glare

547 72 10
                                        

JANGAN VOTE, YANG VOTE SEMOGA PALAMU KELAP-KELIP





Lokasi: Studio utama Kingdom Stage, Shanghai
Waktu: Hari pertama rekaman – pukul 10.00 pagi

Lisa melangkah ke dalam studio megah tempat acara dance survival terbesar Asia akan dimulai. Sorotan lampu, layar LED, dan puluhan trainee yang sudah duduk menanti—semua mata langsung tertuju padanya.

Rambut pirangnya dikepang ke belakang, pakaian hitam fit body, aura bintang yang tak bisa disangkal.
Lalu terdengar bisik-bisik:

> “Itu… Lisa BLACKPINK?”
> “Dia datang dari Korea buat jadi juri? Gila…”

Dia hanya tersenyum kecil. Bukan karena ingin ramah. Tapi karena dia tahu—dialah ratu panggung. Dan hari ini, tak seorang pun boleh mengalahkannya.

Lalu langkah seseorang terdengar masuk dari sisi lain panggung.
Dingin. Tegas. Mantap.

Wang Yibo.

Rambut hitam, jaket kulit, dan tatapan tajam tanpa ekspresi. Ia bahkan tak melihat ke arah Lisa, hanya melempar satu pandangan cepat.

Namun cukup.
Lisa merasakan itu.
Tatapan dingin yang seolah berkata:

> “Aku gak terkesan.”

Lisa menyipitkan mata, duduk di bangku juri tepat di sebelahnya.

> “Kamu gak akan bilang halo dulu, huh?” katanya pelan.

Yibo meliriknya tanpa senyum.

> “Aku gak datang buat basa-basi.”

Lisa mengangkat alis. Oke. Jadi dia tipenya yang dingin.
Game on.

---

Cut to: Ruang juri setelah sesi trainee pertama selesai

Lisa menekan mic untuk memberi komentar:

> “Tarian kalian bagus, tapi terlalu kaku. Kalian harus belajar ekspresi. Feeling.”

Yibo menekan mic-nya, menatap layar.

> “Aku gak setuju. Teknik kalian kuat. Perbaiki sedikit transisi dan kalian bisa masuk line debut.”

Lisa mendelik padanya.

> “Kalau teknik doang, robot juga bisa nari.”

Yibo akhirnya memandang langsung ke matanya — tajam dan tenang.

> “Robot gak punya rasa. Tapi kamu mungkin terlalu banyak main rasa sampai lupa fondasi.”

Seketika, ruangan sunyi. Para trainee menahan napas.
Juri lainnya: “Oke, oke, kita istirahat dulu ya…”

Lisa menyandarkan diri ke kursinya.

> “Kita lihat siapa yang benar nanti.”

---

Malamnya, di ruang latihan pribadi…

Lisa berlatih koreografi sendiri, gerakan cepat dan tajam — tapi matanya terbayang ekspresi Yibo.

Di tempat lain, Yibo berdiri di depan cermin. Matanya fokus. Tapi tangannya memutar ulang video Lisa menari di panggung Coachella di ponselnya — berkali-kali.

Ia tersenyum kecil — hanya sejenak.

> “Terlalu banyak feeling, huh? Tapi… kenapa aku gak bisa berhenti lihat?”

---

Dimohon untuk tidak memvote cerita Enemy to Lovers, ini cuman karya acak yang gila. Sengaja ku publish biar aku baca berulang, soalnya takut kalau ni akun gak bisa masuk lagii 😭😭

HAPUS GAK VOTE KALIAN, HAPUS GUYS 😭😭😭

EHH KOPLAK GUE BILANG JANGAN VOTE OYYY, BISA-BISANYA LO PADA YEE 😭😭😭

Enemy to LoversWhere stories live. Discover now