Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena musim dingin datang lebih awal, tapi karena hawa tegang yang menyelimuti kediaman keluarga Kim. Rumah yang biasanya penuh keheningan, kini seolah membeku oleh tekanan.
Di kamar Hana, sang gadis masih terbaring dalam diam. Matanya sembap, pipinya dingin, dan tubuhnya terasa lelah oleh badai yang menerpanya. Ia tak membuka mata meski sinar matahari sudah menyusup lewat sela tirai. Sementara di kamar sebelah, Kim Taehyung sudah terbangun sejak subuh. Ia berdiri di balkon, mengenakan kemeja putih bersih dan celana bahan hitam. Bukan untuk berangkat kerja-tapi untuk menghadapi perang.
Perang yang tak bisa lagi ia hindari.
Pandangannya menatap kosong ke kejauhan, tapi sorot matanya penuh gelora. Ada kemarahan, luka, dan sesuatu yang lebih dalam, tekad untuk melindungi orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Semalam ia duduk di tepi tempat tidur Hana, menyaksikan gadis itu tertidur dengan air mata. Saat itulah hatinya bulat. Ia tak bisa lagi diam. Ia tak bisa lagi bersembunyi.
Jika seluruh dunia ingin menentang mereka biarlah. Tapi ia akan berdiri di garis depan, memeluk Hana erat dan tak membiarkan siapa pun menyentuhnya.
Kantor Pusat Kim Group
Pagi itu kantor terlihat lebih sibuk dari biasanya. Media-media sudah berkumpul di depan gedung, memburu jawaban atas satu pertanyaan besar, apakah Kim Taehyung benar-benar menjalin hubungan dengan "adik kandungnya sendiri"?
Tagar #TaehyungScandal dan #KimSiblings menjadi trending topic. Para investor cemas. Saham mulai goyah. Dan nama keluarga Kim menjadi pembicaraan panas di segala platform.
Di ruang rapat utama, para petinggi Kim Group berkumpul. Di meja panjang itu, para direksi berbisik penuh kekhawatiran. Mereka bingung, marah, dan yang paling nyata-panik.
Saat pintu terbuka dan Taehyung masuk, semua tatapan langsung tertuju padanya. Langkahnya tenang. Sikapnya dingin. Tapi matanya menyala.
"Kim Taehyung-ssi," ujar seorang direksi tua, "sebelum kita mulai rapat hari ini, kami ingin mendengar penjelasan langsung darimu."
Taehyung tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja, menatap semua wajah itu satu per satu.
"Apa yang ingin kalian tahu? Bahwa aku mencintai Hana?" tanyanya datar.
"Dia adikmu!" seru salah satu dari mereka.
Senyum miring menghiasi wajah Taehyung. "Bukan."
Ruangan langsung senyap.
"Kim Hana bukan adik kandungku. Bahkan, kenyataannya... akulah yang bukan bagian dari keluarga Kim."
Kebingungan langsung menyebar.
"Apa maksudmu, Taehyung-ssi?"
"Aku diadopsi," ujar Taehyung pelan namun mantap. "Keluarga Kim mengangkatku saat aku masih kecil, setelah aku kehilangan kedua orang tuaku. Ayah menganggapku sebagai anak sendiri, dan aku bersyukur untuk itu. Tapi darah yang mengalir di tubuhku bukan darah keluarga ini."
Beberapa direksi mulai gusar.
"Itu tidak penting! Selama ini masyarakat tahu kalian saudara!"
"Ya, karena itu juga bagian dari permainan mereka," balas Taehyung.
"Kami tinggal serumah, tumbuh bersama, tapi aku dan Hana tidak pernah sedarah. Mereka menutupi statusku sebagai anak angkat demi citra keluarga. Dan Hana... dia hanya korban dari semua ini. Dia tidak pernah diminta menjadi bagian dari permainan itu."
"Jadi kau... mencintainya, gadis yang selama ini dianggap adikmu?" tanya seorang direksi pelan, seolah masih belum percaya.
"Ya. Dan aku tak malu mengakuinya." Taehyung menatap lurus. "Cinta bukan tentang ikatan darah atau konstruksi sosial. Aku mencintai Hana bukan karena dia berbeda. Tapi karena dia satu-satunya tempat di mana aku merasa... hidup."
KAMU SEDANG MEMBACA
STEP BROTHER [M].
FanfictionON GOING. (M) Mature content. Ini kisah tentang Kim Taehyung yang menyukai adiknya sendiri Kim Hana. Dan Jungkook hadir di tengah-tengah mereka, memperjuangkan adiknya agar menjadi miliknya. Apakah perjuangan Taehyung selama ini akan menjadi sia-si...
![STEP BROTHER [M].](https://img.wattpad.com/cover/242277525-64-k847141.jpg)