Part 48

45 2 1
                                        


Jangan lupa vote dan koment ya
\( ̄▽ ̄)/

Min Yoonji tak pernah berniat jatuh cinta.

​Tidak kepada pria seperti Kim Taehyung—dingin, tak tersentuh, dan terlalu penuh luka dalam diamnya.

​Tapi begitulah cara hati bekerja, bukan? Ia tak bertanya dulu sebelum tumbuh. Tak meminta izin sebelum mengakar.

​Dan di antara ribuan manusia yang lalu-lalang, Yoonji jatuh hati pada pria itu—dengan cara yang paling sunyi dan menyakitkan.

​Ia tahu, rencana pertunangan akan dibicarakan, dan yang ditunangkan kepadanya adalah Kim Taehyung.
​Semuanya dimulai saat Yoonji menjadi sekretaris pribadi Taehyung. Berkat koneksi Ayahnya ia bisa bergabung dengan Kim Group dan berada disebelah Kim Taehyung yang baru saja menduduki posisi CEO.

​Ia cerdas. Sigap. Rapi. Semua orang memujinya.

​Tapi takdir mengikatnya pada satu tempat.

​Di samping pria itu.
​Awalnya profesional. Mengatur jadwal rapat, menyiapkan catatan penting, mendampingi presentasi bisnis, mengantar dan menjemput dokumen larut malam.

​Tapi perlahan... jarak itu menipis.
​Yoonji mulai mengingat semua hal keci, Bagaimana Taehyung selalu minum kopi hitam tanpa gula setiap pagi. Bagaimana jemari panjangnya mengetuk meja saat ia gelisah. Bagaimana matanya kosong saat membahas keluarga.

​Dan bagaimana... senyum samar, yang tak pernah ia tunjukkan padanya, muncul di bibir pria itu saat menyebut satu nama. Satu nama yang membawa kehancuran sunyi.

​"Hana."

​Itu adalah luka pertama.

​Yoonji membenarkan: Hana manis, lugu, polos—persis antitesis dari dirinya. Awalnya, itu hanya relasi saudara. Tapi tatapan Taehyung akhir-akhir ini berbeda. Bukan sekadar protektif. Ada rasa memiliki. Sesuatu yang lebih dalam dan rumit, yang bahkan sulit Yoonji definisikan tanpa merasa sesak.

​Saat itu Yoonji masih naif, terlalu yakin bahwa kedekatan mereka berarti sesuatu. malam itu, ia datang ke rumah kediaman Kim untuk mengantar berkas mendesak.

​Rumah itu sepi, hanya suara angin malam dari jendela yang terbuka, membuat tirai tipis bergoyang pelan.
​Lampu temaram membuat bayangan Taehyung tampak lebih tinggi, lebih dingin, tapi juga rapuh.

​Ia tampak lelah... dan tiba-tiba begitu dekat.

​Dan tanpa peringatan, pria itu menariknya ke dalam ciuman. Bukan ciuman yang melambangkan hasrat, tapi lebih seperti amarah pada dunia, dilepaskan melalui bibirnya.

Terburu-buru. Kasar. Menghukum.
​Yoonji membeku. Jantungnya berdentum gila. Tapi ia membalas, meraih kehangatan itu, memaksakan keyakinan bahwa ciuman ini adalah penanda—pembuka untuk sesuatu yang lebih dari sekadar sekretaris dan atasan.

​Tapi saat ciuman itu terputus, Taehyung menatapnya dengan mata kosong.

​"Maaf... seharusnya aku tidak melakukannya."

​Suaranya dingin, datar, penuh penyesalan yang tidak Yoonji pahami.
​Maaf?
​Yoonji menatapnya, masih gemetar. Bibirnya masih panas. Hatinya berdebar kencang.

STEP BROTHER [M].Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang