Ketika langkah hidupmu hari ini, menentukan arah mana yang akan kamu tuju.
Warning!!! 21+++
Cerita ini mengandung narasi yang bersifat dewasa karena terdapat kata-kata vulgar yang tidak cocok untuk anak di bawah umur.
WARNING!! CERITA INI MENGANDUNG UNSUR DEWASA YANG VULGAR DAN MUNGKIN DAPAT MENIMBULKAN RASA TIDAK NYAMAN BAGI PEMBACA.
BAGI YANG MASIH DI BAWAH UMUR SKIP SAJA!!!
21+
.
.
Malam tahun baru ini, kami memesan satu kamar hotel hanya untuk menghindari hiruk pikuk jalanan, merayakan pergantian tahun, sekaligus ulang tahun kami yang jatuh di tanggal yang sama.
Kami duduk di lantai yang dilapisi karpet, bersandar di tempat tidur, menghadap ke arah jendela besar yang langsung menampakan Bundaran HI yang penuh manusia.
Bundaran HI di luar jendela kamar kami ramai luar biasa. Sorot lampu neon, klakson mobil, dan keriuhan orang-orang yang merayakan pergantian tahun memenuhi udara. Kami duduk di kursi empuk yang menghadap jendela besar, memandangi gemerlap kota. Di meja kecil di depan kami, ada sebotol Lambrusco yang sudah kosong, sebotol lagi yang masih penuh, beberapa bungkus keripik aneka rasa.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Waktu menunjukkan pukul 23:55. Tinggal lima menit lagi menuju pergantian tahun. Aku menoleh ke Vincent, yang sedang mengisi ulang gelas kami dengan botol Lambrusco kedua.
"Vin, lo gak kasih gue kado apa-apa?" tanyaku sambil nyengir.
Vincent tertawa kecil, matanya berbinar di bawah cahaya lembut lampu kamar. "Lah, kamar ini, minuman, snack, makan malam tadi di resto hotel, kan dari gue semua. Kurang apa lagi, Clar?"
"Yaa, iya sih," jawabku sambil terkekeh, tapi entah kenapa hatiku berdegup sedikit lebih kencang. Mungkin efek Lambrusco, pikirku.
"Emang lo mau kado apasih, Clar?" Tanya Vincent seraya menyeruput minumannya lagi.
Belum sempat aku menjawab, kembang api bertaburan di langit. Indah sekali. Aku termenung menatap percikan cahaya itu.
"Selamat tahun baru, selamat ulang tahun, Clar."
Aku menoleh ke arahnya, tapi wajahnya ternyata begitu dekat denganku.
"Selamat ulang tahun dan tahun baru, Vin." Kataku yang lebih tepat disebut bisikan.
Mata Vincent menatap mataku dalam diam.
Kami diam.
Napas kami terlalu terdengar.
Wajah kami hanya sejengkal.
Ada ruang kosong kecil antara bibir kami, tapi tidak ada yang mundur. Dan dalam jeda itulah, kami mengerti: kalau kami melangkah, kami mungkin tidak bisa mundur.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.