bab 1 "awal pertemuan"

14 2 0
                                        

Briano Lita Angreani. Itulah namanya. Seorang gadis berusia 17 tahun yang hari ini melangkahkan kakinya ke dalam sekolah elite Ravenwood Academy sebagai siswi beasiswa.

Tidak seperti murid lain yang datang dengan mobil mewah atau diantar sopir pribadi, Riri-panggilan akrabnya-hanya berjalan kaki dari halte bus, merasakan tatapan aneh dari siswa-siswa yang lewat. Bagi mereka, kehadiran seseorang seperti Riri di sekolah ini adalah anomali.

Sekolah ini hanya menerima dua siswa beasiswa setiap tahun, dan tahun ini, Riri adalah salah satunya. Itu berarti dia harus bekerja lebih keras dari siapa pun untuk bertahan di sini.

Saat melewati lapangan luas yang dikelilingi oleh taman indah dan gedung megah, Riri merasakan ketimpangan yang nyata. Dunia mereka dan dunianya sangat berbeda.

Namun, dia berjanji pada dirinya sendiri:

Aku tidak boleh menonjol. Aku hanya perlu belajar, lulus dengan nilai tinggi, dan pergi dari sini.

---

Di sisi lain sekolah, seorang pemuda berusia 18 tahun sedang bersandar di dinding koridor utama. Bastian Putra Divanasa.

Bagi semua orang di sekolah ini, dialah penguasa.

Putra tunggal dari Tuan Dirga Divanasa, pemilik perusahaan ternama yang namanya dikenal di seluruh negeri. Dengan wajah dinginnya yang tajam, sorot mata gelap penuh kebosanan, dan postur tubuh tegap penuh dominasi, Bastian Putra Divanasa-atau Ian, seperti yang biasa dipanggil-adalah seseorang yang tidak boleh dilawan.

Semua siswa takut padanya, bahkan para guru pun memilih untuk menutup mata atas semua yang dia lakukan. Karena di sekolah ini, uang dan pengaruh menentukan segalanya.

Dikelilingi oleh beberapa teman gengnya, Ian terlihat malas mendengarkan ocehan mereka. Ia menarik napas panjang, merogoh saku jasnya, dan melirik jam tangannya. Pagi yang membosankan.

Dan kemudian, tabrakan itu terjadi.

Tubuh Ian sedikit terdorong ke belakang, namun tidak sampai membuatnya jatuh. Tapi gadis yang menabraknya? Terduduk di lantai dengan buku-bukunya berserakan.

Suasana koridor langsung membeku.

Tidak ada satu pun yang berani bergerak. Semua mata tertuju pada gadis yang baru saja melakukan kesalahan fatal.

Mereka semua tahu tidak ada seorang pun yang berani menyentuh Bastian Putra Divanasa tanpa konsekuensi.

Ian menurunkan pandangannya ke arah Riri, matanya yang dingin menatap lurus ke dalam mata gadis itu.

Sementara Riri, yang masih terkejut, perlahan mendongak-dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Riri menelan ludah, tubuhnya menegang saat melihat tatapan dingin lelaki di depannya. Mata hitam pekat itu penuh dengan kebosanan, tetapi juga menyiratkan sesuatu yang lebih gelap-sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang.

Dengan tangan gemetar, Riri buru-buru meraih buku-bukunya yang berantakan di lantai.

"M-maaf..." suaranya bergetar, hampir seperti bisikan.

Tidak ada jawaban.

Ian hanya menatapnya dari atas, seolah dia adalah serangga kecil yang tidak layak mendapatkan perhatiannya.

Teman-teman gengnya mulai tertawa kecil, beberapa dari mereka berbisik dengan nada mengejek.

"Berani-beraninya dia menabrak Ian?"
"Dia cari mati, ya?"
"Anak beasiswa? Wah, makin menarik."

Riri menggigit bibir bawahnya, mencoba menghindari tatapan mereka. Dia tahu dia harus segera pergi sebelum semuanya menjadi lebih buruk.

Namun, sebelum dia bisa berdiri-

you're mineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang