sepotong kue, sebatang lilin

298 26 2
                                        

Sebuah rumah bukanlah tempat, melainkan rasa. Tanpanya, kau hanya singgah di dalam bangunan hampa.

*****

Langit masih sepucat susu, saat Kim Seungmin memutuskan hari ini akan berbeda.

Harus berbeda.

Sebab hari ini adalah harinya. Hari di mana ia genap menjejak dunia selama satu dekade penuh. Sepuluh jari tangan, sepuluh jari kaki, dan sepuluh tahun penantian. Angka yang terdengar begitu agung, begitu bulat, begitu penting. Setidaknya, begitulah yang ia yakini di dalam kepalanya yang masih separuh terlelap.

Ia menggeliat di atas ranjang, selimut tebalnya ia tendang. Udara pagi yang dingin menyergap, tapi semangatnya lebih panas dari seribu tungku arang. Ia melompat turun dari kasur, kakinya yang telanjang mendarat di lantai kayu yang dingin tanpa suara. Seperti ninja. Seperti agen rahasia. Seperti anak laki-laki yang punya misi paling krusial di alam semesta: mengingatkan seluruh dunia bahwa hari ini, ia berulang tahun.

Target pertamanya adalah Ibu. Sosok yang selalu wangi kopi dan tergesa-gesa di pagi hari. Seungmin menemukannya di dapur, sudah rapi dengan blus kerja dan rok pensilnya. Tangannya bergerak secepat kilat, mengoleskan selai pada selembar roti, sementara matanya terpaku pada tablet yang menyajikan grafik-grafik membosankan.

"Pagi, Bu," sapa Seungmin, berusaha terdengar senormal mungkin. Padahal, jantungnya berdebar seperti drum yang ditabuh orang kalap.

"Pagi, Sayang," jawab Ibunya, tanpa mengalihkan pandangan. Satu alisnya terangkat, mungkin karena grafik saham yang warnanya merah. "Sudah bangun? Tumben sekali. Sarapanmu ada di meja, habiskan, ya. Jangan lupa vitaminnya."

Seungmin menarik kursi di seberang meja, menatap punggung ibunya dengan sorot penuh harap. Inilah saatnya. Peluang emas. Jendela kesempatan.

"Ibu tahu tidak, hari ini hari apa?" tanyanya, suaranya dibuat sedikit lebih riang dari biasanya.

"Rabu," jawab sang Ibu, singkat, padat, dan salah total. Ia akhirnya menoleh, tapi hanya untuk mengambil tas kerjanya yang tersampir di kursi. "Kenapa memangnya?"

Senyum Seungmin sedikit goyah, tapi ia pantang menyerah. "Bukan, maksudku... tanggalnya. Hari ini tanggal dua puluh dua, kan? Bulan September. Angka yang cantik, ya? Dua-dua."

Ibunya berhenti sejenak, menatapnya. Seungmin menahan napas. Inikah dia? Momen 'oh!' yang ditunggunya? Momen di mana ibunya akan menepuk dahi, lalu memeluknya seraya berseru, "Astaga, Ibu hampir lupa! Selamat ulang tahun, jagoan Ibu!"

"Iya, tanggal dua puluh dua," kata Ibunya, lalu tersenyum tipis. "Cepat habiskan sarapanmu, Seungmin. Ibu harus berangkat sekarang, ada rapat penting pagi ini. Ayahmu mungkin pulang malam, jadi jangan menunggunya. Kalau Kakakmu berulah, bilang saja padanya Ibu akan memotong uang jajannya."

Sebuah kecupan singkat mendarat di puncak kepalanya.

Cepat, dingin, dan tanpa rasa.

Seperti cap stempel pada dokumen yang tidak penting.

Lalu, ia pergi.

Wangi kopinya memudar, digantikan oleh suara pintu yang tertutup rapat.

Seungmin menatap rotinya. Selainya rasa stroberi, manis. Tapi yang ia rasakan di lidahnya hanyalah pahit.

Misi pertama: Gagal.

Target kedua adalah Kakaknya, Kim Donghyun. Penguasa kamar lantai dua, monster video game, dan makhluk paling menyebalkan yang pernah Seungmin kenal. Tapi, dia tetaplah seorang kakak. Dan di dalam kamus dongeng anak-anak, seorang kakak seharusnya peduli.

Afterward || Chanmin Where stories live. Discover now