A Living Art

91 11 2
                                        

Suara denting lembut lonceng angin dari jendela galeri terdengar samar, seperti bisikan yang menyambut Jeong Yunho seorang Fashion Stylist ternama di korea saat ia masuk ke ruang rahasianya. Pintu besi tipis itu menyatu sempurna dengan dinding putih, nyaris tak terlihat bagi orang awam. Tapi bagi Yunho, pintu itu adalah gerbang menuju surga kecilnya.

Di dalam, suhu dijaga tetap sejuk. Lampu redup menyoroti koleksi yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Dindingnya penuh dengan bingkai foto, beberapa hitam putih, sebagian besar berwarna lembut, semuanya merekam satu subjek, Park Seonghwa.

Ada foto saat Seonghwa tertawa kecil di taman belakang rumahnya, tertangkap lensa dari balik semak. Ada pula foto dirinya saat berjalan sendirian sepulang sekolah dengan tangan menyentuh rambutnya. Bahkan, Yunho memiliki potret ketika Seonghwa menatap dirinya di sebuah pesta pertemuan para pebisnis besar dikorea, tatapan itu hanya berlangsung dua detik, tapi Yunho mengulangnya ratusan kali dalam pikirannya. Ia membesarkan gambar itu, mencetaknya dalam ukuran kanvas, lalu menuliskan di bawahnya,

"Dia mengenaliku. Dia melihatku."

Meja kerjanya penuh coretan tangan, sketsa wajah Seonghwa dari berbagai sudut, lengkap dengan ukuran simetris wajahnya, ketebalan bibir, dan lekuk mata yang sangat Yunho hafal di luar kepala. Ia bahkan membuat patung dada dari lilin yang menyerupai Seonghwa dalam posisi duduk, mengenakan kimono transparan, dengan kepala agak miring seperti boneka porselen.

Yunho tersenyum sambil menyentuh bibir patung itu dengan jari telunjuknya. "Kamu manis sekali hari ini...," bisiknya.

Sore kemarin di belakang panggung yang ramai, Seonghwa berdiri sendirian dengan wajah penuh riasan dan pernak pernik ballet membalut tubuhnya. Keindahan matanya mengundang seseorang untuk jatuh pada keinginan yang dalam dan terlarang.

"Kamu punya wajah yang luar biasa." Sapa Yunho menghampiri.

Pria cantik itu menoleh cepat pada seorang pria tinggi dengan rambut hitam rapi dan gaya berpakaian artistik berdiri di sampingnya, menyunggingkan senyum penuh pesona. Jeong Yunho, stylist ternama yang sering bekerja sama dengan brand kelas atas.

"Maaf... kita pernah bertemu?" tanya Seonghwa sopan, agak terkejut tapi tetap tenang.

Yunho tertawa kecil, tawa yang terdengar ringan namun penuh perhitungan.

"Mungkin tidak secara langsung. Siapa yang tidak tahu, Putra kedua dari Park Corporation?"

Nada suaranya netral, tapi sorot matanya menyelami lebih dalam dari sekadar basa-basi. Ia melihat Seonghwa seperti seseorang menatap lukisan mahal di balik kaca, terpukau, namun penuh hasrat untuk memilikinya secara pribadi.

"Tarianmu sangat indah."

Seonghwa tersenyum sambil membungkuk formal "Ahh~ Terimakasih"

Yunho memasukkan tangannya ke saku mantel, memasang tubuh santai tapi tetap dengan tujuan awalnya yang ingin bernegoisasi pada pria cantik itu

"Saya sedang mencari model untuk acara fashion eksperimental bertajuk SANS di awal musim semi nanti.

Tidak ada batas.

Tidak ada aturan.

Saya ingin menampilkan kebebasan tanpa memandang gender apapun, kejujuran, dan ekspresi yang tidak disaring. Melihatmu menari dengan indahnya diatas panggung tadi, sangat menarik perhatian Saya sebagai pengagum seni. Kamu... adalah gambaran sempurna dari semuanya."

Seonghwa mengernyit gugup. "A.. Aku bukan model."

"Bukan masalah. Kamu tahu, dengan wajah seperti itu... Kamu bisa jadi model majalah paling mahal di Korea" Yunho menyela cepat, berusaha meyakinkan targetnya.

DUNE (TAHAP REVISI)Stories to obsess over. Discover now