Hari-hari berikutnya, Akuze tak pernah melewatkan bawah jembatan itu tanpa singgah. Setiap pulang sekolah, ia menyempatkan diri membeli roti dari warung di dekat gang, lalu berjalan perlahan menuju tempat yang kini tak lagi asing baginya.
Di sana, seperti biasa, gadis itu duduk diam di pojok jembatan, memeluk lutut dengan wajah kosong menatap sungai kecil yang mengalir pelan.
“Hari ini aku bawa roti isi cokelat”
Akuze duduk di sampingnya, menyodorkan plastik bening berisi dua potong roti.
Gadis itu menoleh. Matanya masih terlihat waspada, tapi tak setegas pertemuan pertama. Ia menerima roti itu dengan tangan ragu.
“Makannya pelan-pelan ya. Masih hangat,” tambah Akuze.
Beberapa detik hening. Lalu gadis itu menggigit rotinya kecil-kecil. Untuk pertama kalinya, Akuze melihatnya mengunyah, dengan ekspresi sedih, seperti menahan air mata.
“Akuze,” kata pemuda itu pelan. “Namaku Akuze Fuskyi.”
Gadis itu terdiam. Lalu bibirnya bergerak sedikit. “Miruka… Miruka Satoa.”
Akuze tersenyum. “Nama yang cantik. Senang bisa kenalan, Miruka.”
Miruka Satoa hanya menunduk, menggenggam roti lebih erat. Tak ada senyum, tapi juga tak ada penolakan. Bagi Akuze, itu cukup.
Minggu berganti. Hujan sesekali turun, membasahi jalanan dan mengguyur atap seng jembatan yang menjadi rumah Miruka. Namun setiap kali Akuze datang, ia selalu membawa sesuatu—kadang roti, kadang jas hujan bekas yang ia pinjam dari kontrakannya.
“Kenapa kamu tinggal di sini, Miruka?” tanya Akuze suatu sore, saat angin berhembus kencang dan daun-daun berjatuhan.
Miruka hanya menjawab dengan gelengan pelan. “Nggak ada tempat lain.”
“Aku tinggal di kontrakan sendiri, dulu aku tinggal di desa dengan nenek dan kakakku, Kemi. Namun, sayangnya nenekku sudah tidak ada, dan... aku tinggal disini karena kakakku ingin menyekolahkanku dengan lebih baik”
Miruka tak menjawab. Tapi matanya menatap Akuze sedikit lebih lama dari biasanya.
Hari itu, mereka hanya duduk diam berdua. Dan dalam diam itu, sesuatu tumbuh perlahan di antara hati yang sama-sama sunyi.
Hari selanjutnya langit sore itu tampak tak biasa. Awan hitam menggumpal tebal di atas kota, angin bertiup kencang seperti akan ada sesuatu yang buruk. Akuze berdiri di depan toko roti, menatap langit dengan gelisah.
“Wahh...Bakal hujan gede, nih…”
Tapi seperti biasa, ia tetap membeli dua potong roti dan memasukkannya ke dalam tas. Langkahnya mempercepat menuju bawah jembatan, berharap bisa menemui Miruka sebelum hujan turun.
Namun semesta berkata lain.
Baru saja ia melintasi gang terakhir, hujan turun seperti ombak. Deras, beringas, dan tanpa ampun. Dalam hitungan menit, jalanan tergenang, dan sungai kecil di bawah jembatan berubah jadi arus deras yang mengamuk. "Gawat..."
Akuze berlari sekuat tenaga. Saat tiba di bawah jembatan, ia terkejut.
Tempat itu… kosong.
Matanya menyapu sekitar—karung lusuh, baju bekas, dan alas tidur Miruka… semua terseret arus. Tak ada tanda-tanda Miruka.
--Episode 2 END--
//KARYA Nazz
YOU ARE READING
Aku tinggal bersama bidadari yang ku selamatkan
RomanceMenceritakan tentang gadis yang malang dan ditolong oleh seorang pria.
