Kisah diawali saat seorang laki-laki bernama Fusyki Akaze pulang sekolah ia hendak menyebrang, namun ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Huh?, jangan asal menepuk pundak orang.!!"
Ternyata yang menepuk dia adalah seorang nenek."Hallo nak, boleh aku minta bantuan?
"Eh... Nek, maaf nek.. Aku ngak tau, tentu saja mau minta bantuan apa ya nek??"
"Tak apa, maaf mengangetkanmu ya, bisa bantu nenek menyebrang ke jalan seberang?, suami dongoku malah menyebrang duluan dan meninggalkan nenek disini"
Dari depan terlihat seorang kakek yang senyam-senyum disebrang.
"Nyengir lagi"
"Ya udah nek, ayo aku bantu menyebrang, lagian aku juga mau ke seberang"
Sesampainya diseberang kakek itu mendekati sang nenek
"Terimakasih ya nak-
"Sa-sayang, maaf-
Hemphh....(marah)
Nenek itu pergi.
"Heyy.... Sayang aku sudah membelinya roti kesukaanmu"
"Udah ngak doyan" (sambil melangkah pergi)
Akuze mencoba pergi dari situasi saat ini. "Ka-kakek, aku duluan ya-
"Tunggu...!!!, terimakasih ya sudah membantu istriku menyebrang, aku rada pikun jadi wajar aku lupa. Sekalian ambil roti ini"
"Bu-bukan kah ini untuk istrimu?"
"Kau lupa tadi dia bilang apa?, yahh... sudahlah, ambil saja... aku tidak suka rasa melon, daripada ku buang, ambil saja"
Akuze melanjutkan perjalanan, menatap roti itu di tangannya. Ia tidak lapar, tapi hatinya hangat oleh kebaikan kecil tadi. Entah mengapa, roti itu seperti membawa sesuatu yang lebih dari sekadar rasa manis-ia membawa makna.
Saat melintasi bawah jembatan dekat jalan menuju kontrakannya, langkah Akuze terhenti. Di bawah jembatan yang gelap dan lembap, ia melihat seseorang. Seorang gadis, duduk sendirian dengan lutut dipeluk, wajahnya tersembunyi di balik rambut panjang yang kusut.
Akuze ragu sejenak, lalu perlahan mendekat.
"Kamu... tinggal di sini?" (tanya pelan)
Gadis itu mendongak. Wajahnya pucat, matanya besar dan tampak kelelahan. Ia hanya mengangguk.
Tanpa pikir panjang, Akuze mengulurkan roti yang tadi ia terima dari nenek. "Ini... makanlah. Aku nggak lapar kok."
Gadis itu menatapnya bingung, lalu menerima roti itu perlahan. Ia membungkuk kecil sebagai tanda terima kasih, meski tak satu kata pun keluar dari bibirnya.
Hari itu menjadi awal dari sesuatu yang tak pernah Akuze bayangkan. Nama gadis itu, ia baru tahu nanti. Tapi hari itu, satu roti jadi awal dari cerita meremerek
--Episode 1 END--
//KARYA Nazz
YOU ARE READING
Aku tinggal bersama bidadari yang ku selamatkan
RomanceMenceritakan tentang gadis yang malang dan ditolong oleh seorang pria.
