Geraman keluar dari mulutku, sejak tadi pagi, jari dan tanganku tiada berhenti untuk membalas dan mengirim E-Mail yang sadisnya terus bertambah dan menumpuk setiap harinya. Bahkan, belum selesai dengan ini pun. Choi Yuna; sekretarisku, mengetuk pintu dan masuk, menyemburkan senyuman canggung.
Tahu, ia harus memberikanku pekerjaan lagi.
"Lagi?" Aku bertanya dengan tangan yang sudah menahan kepala karena terlalu berat untuk leherku pikul.
Yuna mendekat, membawa beberapa tumpukan kertan. "Kau tahu.. Administrasi parawisata kita di pulau Jeju bermasalah, penginapan disana.. Sedikit ada kecurangan."
"Ugh! Ya Tuhan!" Aku meracau seraya menatap tumpukan yang Yuna pegang, "Kemarikan, berarrti. Rapat jam 3 nanti, kita batalkan.." Lanjutku seraya menggeser kertas-kertas yang bahkan belum aku selesaikan.
Dengan hati-hati, Yuna meletakan tumpukan kertas itu diatas mejaku. Ia.. Adalah teman, rekan, sahabat, keluarga, dan apapun bentuk manusia yang selalu aku jadikan andalan selain diriku sendiri.
"Mana yang lebih urgensi menurutmu?" Aku bertanya, "Jeju, Busan, atau.. Diriku? Haha!"
Yuna langsung tertawa juga, tetapi, tawa ia lebih terdengar tidak palsu, ia memijat pelan kedua bahuku dengan lembut, "Jelas, dirimu.. Itu semua dapat ditunda, bahkan, kau bakar juga tidak apa-apa.."
"Tetapi, habis itu. Reputasiku yang akan ayah bakar.." Responku cepat, kini, menatap lurus kearah pintu. "Kau sudah punya kekasih?"
Tiba-tiba, pijatan lembut menjadi pukulan ringan yang aku terima dari Yuna, "Kau pikir aku ada waktu untuk berkencan?"
"Ah.. Benar, sekretarisku saja tidak punya waktu, apalagi.. Ak─"
"Uh?" Aku dan Yuna langsung fokus pada notifikasi pesan yang tersambung kekomputer kerjaku. Dari tuan Han, ia ini. Sekretaris ayahku.
"KENCAN BUTA?"
Aku langsung menarik leher wanita itu dan memukul bokong Yuna pelan, "Pelan-pelan!" Tekanku berbisik. Yuna langsung menutup mulutnya dan kini, menatap laptop lalu menatapku.
Ruanganku masih hening, kami berdua, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai Yuna tiba-tiba saja memblok nama orang yang akan aku temui, jika setuju dengan kencan buta yang tuan Han atur.
Park Sunghoon.
"Nama ini sangat familar, geser!" Dengan enaknya, Yuna menggeser kursiku, dan kini, ia yang mendominasi meja kerja. Aku bahkan hanya bisa mengintip dari bahunya. "Ah! Benar! Park. Sung. Hoon!" Tiba-tiba wanita itu heboh, layaknya menemukan jarum ditumpukan jerami.
"Ada apa?"
Yuna lalu belum menjawab, ia seperti─ sedang menilai jiwaku. "Memangnya cocok?" Yuna bergumam pelan, lalu, kepalanya kembali ke layar monitor dan menggulir biodata Park Sunghoon itu sampai kebawah.
"Spesialis obgyn.. 31 tahun.. Wah.." Yuna masih saja bergumam ria, aku bahkan belum mengeluarkan sepatah kata untuk berkomentar.
"Kau bisa mencoba, jika kau tertarik.." Ucapnya santai, ada senyuman yang ditahan. Ia lalu berdiri dan mengambil beberapa berkas yang sebelumnya ada dimejaku, "Kali ini, aku akan bantu, asal kau pergi kencan buta hari ini.."
Aku terdiam sebentar, melihat foto Park Sunghoon dilayar monitor. Sepertinya, kulitnya pucat, bahkan aku bisa kalah putih darinya, alis itu.. Alis itu tebal sekali, ia sepertinya punya wibawa yang ku─
"Hey! Kim Jia!" Panggil Yuna, karena mungkin, aku tiba-tiba termenung seraya menatap layar monitor. "Jadi, ingin atau tidak?" Tanya gadis itu memastikan, ia masih menatapku lekat.
"Sepertinya, ti─"
"Baiklah, kerjakan ini semua."
Aku langsung menahan pakaian Yuna, tersenyum canggung. "Hanya.. Datang, pulang dan selesai, 'kan? Kau harus mengerjakan ini, hanya untuk aku pergi, bukan.. Untuk berhasil, iya, 'kan?" Ucapku dengan hati-hati, mencoba untuk menjelaskan apa yang sedang aku pikirkan.
Yuna perlahan mengangguk, ia segera mengambil tumpukan kerta itu lagi. "Benar, coba datang, terbuka dan berikan aku cerita baik setelahnya.." Koreksi gadis itu.
Kepalaku akhirnya mengangguk, dan melepaskan tahanan pada bajunya. "Baiklah, hanya harus membacakan cerita dengan ending yang bahagia.. Aku bisa!" Aku merespon dengan percaya diri.
"Ah!" Tiba-tiba Yuna seperti mendapat sebuah ketukan mukzizat, ia merogoh sakunya lalu memberikan lipstik padaku, "Ini adalah lipstik perayu, aku beli ini karena ibuku ke salah satu guru spiritual kepercayaannya, lalu mendoakan lipstik ini agar bisa menarik jodoh untukku. Kau pakai saja hari ini, siapa ta─"
"Silahkan pergi.."
"Baik.."
Aku tertawa lembut melihat punggung sempit Yuna perlahan meninggalkan ruang kerjaku, setelahnya, aku membalas pesan tuan Han dan menyetujui kencan buta kali ini. Karena, sudah melihat wajahnya, mungkin aku tidak bisa cemas akan fisik lelaki itu sekarang.
Mungkin.. Yang harus aku cemaskan, kini.. Wawasannya? Atau.. Koneksinya? Atau.. Bahkan.. Wanita-wanita yang sudah bertemu dengannya lewat kencan buta yang lain?
Aku menggelengkan kepala dengan pelan, ingin menghilangkan pikiran berlebih yang merasuk kedalam kepalaku. Dan, aku membuka laci. Lipstik andalanku, jika ingin menarik hati investor. Apa.. Ini juga bisa menarik hati laki-laki?
YOU ARE READING
Letter of Bond
Fanfiction[ Ft. Sunghoon of ENHYPEN ] "You look pale, let me paint you with─ letter of bond." Story arranged by DDELUNS-2026.
