Prologue: Before the Collision: An Arclight Morning

18 2 0
                                        

Pukul tujuh kurang seperempat, dan The Arclight International School menggeliat seperti biasanya. Udara pagi Jakarta, yang telah disaring oleh jajaran pohon palem dan taman-taman artifisial di sepanjang jalan masuk, terasa segar namun sarat akan rutinitas. Gerbang utama masih setia menelan arus mobil-mobil mewah yang mengantarkan para pewarisnya, diikuti oleh siswa-siswi lain yang datang dengan berbagai moda transportasi, menciptakan simfoni klakson pelan, derap sepatu mahal di atas paving blok, dan gumaman percakapan yang belum sepenuhnya terjaga. Ini adalah Arclight di jam-jamnya yang paling biasa, sebuah mesin yang berjalan dengan presisi sebelum bel pertama berdentang membelah ketenangan.

Di antara keramaian yang terstruktur itu, sebuah sedan hitam legam meluncur tanpa suara ke zona drop-off. Pintu pertama terbuka, dan Hajirin Arafat-sang Pangeran Surya-melangkah keluar. Senyumnya yang secerah julukannya langsung terbit, seolah sengaja dirancang untuk menghalau sisa kantuk siapa pun yang melihatnya. Beberapa siswi yang kebetulan berada di dekatnya sontak menghentikan langkah, bisik-bisik dan senyum malu-malu menjadi respons otomatis. Rinz, dengan rambut undercut hitamnya yang sempurna dan seragam yang membalut tubuh atletis setinggi 185 sentimeter itu, membalas dengan lambaian kasual dan sapaan hangat yang sudah menjadi ciri khasnya. Wakil Ketua Dewan Siswa itu adalah definisi dari energi pagi.

"Pagi, Rinz!" pekik seorang gadis dari kejauhan, suaranya nyaris tertelan oleh hiruk-pikuk.

Rinz menoleh, matanya menyipit mencari sumber suara, lalu tersenyum lebih lebar. "Pagi juga! Jangan telat masuk kelas!"

Sesaat kemudian, pintu di sisi lain mobil terbuka, menghadirkan kontras yang begitu nyata. Arthur Sunarkho, sang Pangeran Es, muncul dengan aura dingin yang seolah mampu membekukan udara di sekitarnya. Kacamata berbingkai kotak bening bertengger di hidungnya, tak mampu menyembunyikan tatapan tajam dan ekspresi datar dari wajah putihnya. Rambut koma hitamnya tertata rapi tanpa cela. Ketua Dewan Siswa itu hanya memberi anggukan singkat pada sopirnya sebelum melangkah dengan tempo yang terukur, ranselnya tersandang rapi, seolah tak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa mengusik ketenangannya-atau menarik perhatiannya. Reaksi yang ia terima pun berbeda; bukan pekikan, melainkan desahan kagum yang tertahan dan tatapan penuh puja yang tak berani bertemu langsung.

"Lo nggak pernah ya, Thur, nyoba senyum dikit gitu pas turun mobil?" Rinz sudah menunggunya, menyandarkan sebelah bahunya ke pilar lobi. Nada suaranya santai, khas obrolan mereka di kelas XI IPA 1 atau di ruang Dewan Siswa. Arthur hanya melirik sekilas.

"Bukan prioritas." Jawaban singkat itu sudah cukup bagi Rinz untuk menarik kesimpulan bahwa mood sahabatnya itu seperti biasa: stabil di suhu nol derajat. Mereka berdua adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem Arclight, kutub yang berbeda namun memegang kendali yang sama.

Sementara itu, jauh dari pusaran perhatian yang mengelilingi kedua pangeran, di salah satu koridor menuju gedung kelas XI yang lebih sepi, dua gadis berjalan beriringan, larut dalam dunia mereka sendiri. Ayudya Luci, dengan hoodie abu-abu yang menelan sebagian postur mungilnya, tampak sibuk memperbaiki letak kacamata ovalnya yang sedikit melorot. Rambut wolfcut pendeknya yang berponi membingkai wajahnya yang kecil dan berpipi chubby. Ia lebih banyak mendengarkan, sesekali menimpali dengan gumaman pelan.

"Gue serius, Yud, semalem gue mimpi dikejar-kejar diskon gede, tapi pas mau checkout, aplikasinya error!" Nathalie Hwang bercerita dengan penuh semangat, tangannya bergerak-gerak memperagakan kepanikannya. Rambut hitam panjangnya yang bergelombang bergoyang mengikuti gerakannya. "Stres banget, kan? Kayaknya gue emang ditakdirkan buat jadi kaya karena nggak bisa belanja."

Ayudya terkekeh pelan, suara tawanya hampir tak terdengar. "Lo aneh banget sih, Nath. Mimpi aja soal duit."

"Ya gimana, realistis aja. Cinta nggak bikin kenyang," sahut Nathalie, lalu matanya tanpa sengaja menangkap sekilas kerumunan kecil di ujung koridor dekat mading utama, tempat Arthur dan Rinz biasanya terlihat. Ia memutar bola matanya. "Tuh kan, mulai lagi ritual pagi para pemuja."

Ayudya mengikuti arah pandang Nathalie sekilas, lalu kembali menatap langkah kakinya. Baginya, Pangeran Es dan Pangeran Surya tak lebih dari sekadar nama dan reputasi-bagian dari lanskap sekolah yang tak pernah benar-benar bersinggungan dengan orbit hidupnya yang tenang di kelas XI IPA 3. Begitu pula Nathalie, meski lebih vokal, ia punya seribu satu hal lain yang lebih menarik untuk dipikirkan daripada popularitas mereka.

Saat mereka hampir mencapai belokan menuju tangga, pandangan Arthur yang sedang berbicara dengan Rinz tanpa sengaja menyapu kerumunan, melewati beberapa wajah, dan untuk sepersekian detik yang tak berarti, terkunci pada sosok Ayudya yang berjalan menunduk. Sebuah gangguan minor dalam sistemnya, sekelebat gambar yang langsung ia abaikan. Ayudya sendiri tak menyadarinya, sibuk merespons celotehan Nathalie tentang rencana menabung untuk konser.

Bel pertama belum berbunyi. Semua berjalan seperti skenario pagi yang telah dihafal mati oleh setiap elemen di The Arclight International School. Para siswa bergerak menuju kelas masing-masing, membawa agenda dan ekspektasi hari itu.

AlignHistórias para pegar e não largar. Descubra agora