Di negeri yang katanya merdeka, perempuan masih jadi tubuh yang dibungkam. Nirbita bicara, dan karena itu ia dihancurkan. Tapi apakah suara bisa benar-benar dibunuh?
“Barangkali mereka memang tak butuh suara. Mereka hanya butuh tubuh yang patuh.”
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
written by Nona Merona
***
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak memperhitungkan harga dari sebuah tubuh perempuan, maka kecerdasannya tak lebih dari debu dalam topan: melayang, pamer, lalu hilang.
Aku belajar bahwa dunia ini bukan tempat untuk perempuan bersuara. Tidak di jalanan. Tidak di kantor. Tidak di meja makan. Tidak di ranjang yang katanya tempat cinta tinggal. Apalagi di lembar-lembar makalah yang diketik dengan huruf-huruf perjuangan.
Namaku Nirbita. Lahir dari rahim seorang perempuan yang tak pernah tahu caranya membenci, tapi sepanjang hidupnya diadili oleh lidah-lidah tetangga. Ibuku tak pernah membaca Simone de Beauvoir. Tak kenal Virginia Woolf. Tapi dia tahu rasanya ketika seorang laki-laki memanggilmu manja, padahal maksudnya tunduklah.
Sejak kecil aku melihat bagaimana ibu menghapus air mata di balik tudung dapur. Aku mendengar suaranya tercekat, bukan karena kehabisan kata, tapi karena tahu—tak ada satu pun kata yang bisa menyelamatkan perempuan yang dianggap terlalu keras kepala untuk diam. Ia tahu diam itu bukan emas, tapi peti mati.
Dan seperti semua anak yang tumbuh dengan luka orang tuanya, aku menyerapnya. Tak dengan air mata. Tapi dengan huruf-huruf. Aku menulis sejak usia belasan, dengan tangan gemetar dan mata yang tak bisa tidur. Aku menulis bukan karena ingin dibaca, tapi karena takut mati pelan-pelan. Karena suara yang tak disalurkan akan membusuk di dada, dan tak ada kuburan yang cukup hening untuk menampungnya.
Waktu masuk ke kampus, aku pikir dunia akan sedikit lebih adil. Aku pikir, dengan buku-buku dan ruangan-ruangan ber-AC, manusia akan berhenti memandang tubuh perempuan seperti papan iklan atau tempat mengendapkan birahi. Tapi aku keliru. Di tempat yang katanya “paling progresif”, aku mendengar suara-suara yang sama, hanya memakai jas yang lebih mahal.
“Kamu terlalu emosional.” “Kritikmu bagus, tapi terlalu personal.” “Skripsi ini bagus, hanya saja terlalu sarat agenda.” “Perempuan kayak kamu cocoknya nulis puisi, bukan menggugat sistem.”
Dan ketika itu aku tertawa. Tertawa pahit yang tak keluar dari bibir, hanya dari rongga dada yang menganga seperti jendela tua.
Aku pernah menulis satu esai tentang bagaimana perempuan selalu diukur dari seberapa bisa mereka membuat orang lain nyaman. Aku tulis dengan darah, dengan luka, dengan air mata perempuan-perempuan yang ceritanya kutampung secara diam-diam. Tulisan itu viral. Tapi yang viral bukan ide-idenya. Yang viral adalah wajahku. Profilku. Tubuhku.
Ada yang bilang aku cari perhatian. Ada yang bilang aku trauma belum sembuh. Ada yang bilang aku hanya butuh dicintai. Ada yang bilang aku belum ketemu laki-laki yang tepat.
Padahal tak satu pun dari mereka pernah bertanya: Apa yang membuat perempuan menulis sampai jari-jarinya mati rasa?
Di negeri ini, menjadi perempuan saja sudah sebuah pergulatan. Tapi menjadi perempuan yang bersuara—adalah kutukan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Aku pernah menyaksikan seorang kawan perempuan dipecat hanya karena menolak bosnya yang suka menyentuh tanpa izin. Ia keluar dari kantor dengan mata sembab, membawa kotak kardus dan reputasi yang dipelintir.
Aku pernah bertemu ibu-ibu yang tak bisa baca, tapi bisa menghitung hari datang bulan karena itu satu-satunya cara menghindari kehamilan dari suaminya yang pemabuk.
Aku pernah mendengar cerita seorang gadis SMA yang dipermalukan gurunya di depan kelas karena pakaiannya dianggap ‘menggoda’.
Dan aku menulis mereka. Aku dokumentasikan suara-suara yang tidak sempat dijadikan sejarah. Aku beri nama pada jeritan yang terlalu lelah untuk disebutkan.
Mereka pikir kami akan diam. Mereka pikir setelah dikutuk, ditertawakan, dan diancam, kami akan kembali ke dapur dengan kepala tertunduk. Tapi mereka lupa, perempuan bukan hanya bisa diam. Kami bisa menunggu. Menyimpan. Merawat luka hingga ia menjadi taring. Dan pada waktunya, kami akan menggigit.
Ada kalanya aku bertanya: untuk apa semua ini? Untuk siapa aku menulis sampai mataku rabun dan tubuhku sakit? Apa gunanya suara ketika dunia sudah terlalu bising untuk mendengar?
Tapi malam-malam panjang mengajarkanku satu hal: lebih baik mati karena menulis kebenaran, daripada hidup sebagai bayang-bayang lelaki yang tak pernah mengerti tubuh perempuan bukan ladang pemilikannya.
Mereka bilang aku keras kepala. Bahwa aku radikal. Bahwa aku tidak tahu tempatku. Tapi jika tempat seorang perempuan hanya di ruang tamu, di dapur, dan di ranjang, maka aku memang tidak ingin tahu tempatku. Biarlah aku hidup di pinggir dunia, asal suaraku masih bisa menggema.
Dan jika kelak kau membaca ini, entah kau laki-laki atau perempuan, entah kau pernah mencintai atau dicintai, aku ingin kau tahu: Aku bukan pahlawan. Aku bukan martir. Aku bahkan bukan penulis besar.
Aku hanya perempuan biasa, yang suaranya pernah dikubur hidup-hidup. Dan cerita ini adalah upaya untuk menggali kembali suara itu.
Jika mereka ingin membungkam kami, biarkan aku jadi gema. Jika mereka ingin menenggelamkan kami, biarkan aku jadi arus deras yang menarikmu masuk. Jika mereka ingin melupakan kami, biarkan aku mengabadikan luka-luka ini dalam kata-kata yang tak bisa mati.
Aku Nirbita. Dan inilah kisah tentang perempuan yang tidak lahir untuk tunduk, tapi untuk diingat.
***
Aku tidak tahu apakah kau akan menyukai cerita ini, atau membencinya. Aku juga tidak tahu apakah kau akan menyelesaikannya hingga halaman terakhir, atau justru berhenti setelah prolog. Tapi jika kau sudah sampai sejauh ini, izinkan aku berterima kasih.
Namaku Nona Merona.
Aku menulis ini bukan karena aku tahu segalanya tentang perempuan, atau karena aku merasa paling menderita. Tidak. Aku menulis karena aku percaya bahwa kata-kata bisa jadi cara untuk bertahan, ketika dunia terasa terlalu bising tapi juga terlalu sepi.
Dan mungkin... kau tak akan pernah benar-benar tahu siapa Nirbita. Karena aku sengaja tidak memberi wajah padanya. Aku ingin kau membayangkannya sendiri, dengan segala luka dan keberanian yang pernah kau lihat dalam hidupmu.
Selamat membaca. Semoga suara yang kau dengar dalam halaman-halaman ini, bukan hanya suara Nirbita—tapi juga gema dari hatimu sendiri.