1. 😼Dunia Tanpa Tiket😼

7 1 0
                                        

Jam menunjukkan pukul 22:41 saat Nayira akhirnya menutup laptopnya. Layar penuh file tugas akhir, tapi
fokusnya udah melayang entah ke mana. Bukan karena dia malas.

Tapi malam ini adalah malam konser BTS di Singapura, dan sekali lagi dia nggak bisa hadir.
Di atas meja, ada lightstick ARMY Bomb generasi 3. Udah lama baterainya mati, tapi Nayira tetap
menyimpannya di samping tempat tidur, layaknya jimat kecil. Dia udah biasa melewati malam konser dengan nonton fancam dan live tweet dari fans yang beruntung.

Nayira berdiri dan menatap cermin. Rambut diikat asal, hoodie oversized, mata berkantung karena kebanyakan scroll tentang BTS di instagram dan
twitter. Dia ketawa kecil melihat bayangannya sendiri.
"Nayira, 21 tahun. Suka nulis puisi dan curhat sama
orang yang bahkan gak tahu kamu ada."ucap nayira sambil melihat foto BTS di HP nya

Setiap kali BTS rilis lagu baru, Nayira bikin puisi versi dia sendiri. Kadang tentang makna tersembunyi dari
lirik suga, kadang tentang rasa sakit yang dibungkus beat keren. Tapi semua puisinya dia simpan di notes
pribadi. Belum pernah di-publish. Dunia luar gak perlu tahu isi hati seorang fans yang terlalu sayang, tapi gak punya tempat di dunia mereka.

Keesokan paginya, Nayira bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat, tapi karena harus
ambil shift pagi di Bean Days Café, tempat dia kerja part-time. Kafe kecil itu ada di pojok Blok M, tempatnya cozy dan jarang ramai di pagi hari.
Langit Jakarta yang masih agak mendung. Udara masih
basah sisa hujan semalam. Nayira naik Transjakarta sambil dengerin playlist Yoongi’s verse only. Dia suka bagian Suga yang tenang tapi nusuk. Kalimat-kalimatnya kayak tembakan peluru yang dibungkus tisu.

Sesampainya di kafe, dia langsung nyalain mesin espresso dan mulai merapikan meja. Sekitar pukul 08:10, bel pintu berbunyi. Seorang pria masuk dengan hoodie hitam, topi, dan masker hitam. Gerak-geriknya tenang, nyaris gak bersuara. Nayira refleks menyapa,
“Selamat pagi! Mau pesan apa, Kak?”
Laki-laki itu menatap papan menu sebentar. Suaranya dalam dan pelan, “Americano. Panas.”
Nayira sempat bengong. Suaranya... mirip. Tapi nggak mungkin.
Dia menyerahkan kopi itu tanpa
banyak tanya. Tapi matanya tak lepas dari cincin kecil di jari pria itu. Cincin perak, tipis, desain minimalis. sama persis seperti yang pernah dipakai Suga dalam wawancara BE album era.

Deg. Jantungnya langsung naik ke tenggorokan. Tapi
Nayira tetap tersenyum profesional.
“Silakan duduk, Kak.”
Dia memilih pojok dekat jendela membuka laptop, mengetik seperti penulis lepas atau pebisnis introvert. Tapi Nayira tahu.. bukan, tapi dia tahu terlalu banyak
tentang satu orang dan dia tahu itu dia.
Yoongi.
Tapi kenapa dia ada di sini?
Dan kenapa hatinya berdebar seperti ini?
.
.
.
.
.
.
hallo👏🏻 gimana bab 1 nyaa ?seru ga ?agak bosenin ya ?hihi gapapa masih awal
oh yaa aku mau kasih tau jadi cerita ini aku bikin kalo yoongi ngerti bahasa indo kaya umumnya orang indo gitu,jdi mereka bakal ngobrol kaya kita biasa
jangan lupa vote dan komen✨

Imajinasi Nyata✨Stories to obsess over. Discover now