The Unseen BEAUTY 🥀 01.

3 0 0
                                        

GET STARTED, HAPPY READING!
The Unseen BEAUTY
_____🎀___🎀___🎀_____

Luna, seorang gadis cantik berusia 17 tahun, Dia sekarang sudah kelas 11, dia duduk sendirian di pojok kelas. Dia selalu berusaha keras untuk memahami pelajaran, tapi otak dia tidak selancar teman-temannya. Anak-anak lain sering mengolok-oloknya, dan guru-guru lebih fokus pada siswa yang berbakat.

Di rumah, Luna tinggal bersama ibunya yang selalu bekerja keras untuk membiayai hidup mereka. Ibunya sering memberikan semangat, tapi Luna merasa seperti dia tidak bisa memenuhi harapan ibunya. Dia merasa seperti beban bagi ibunya.

Setiap hari, Luna merasa seperti dia tidak termasuk di sekolah itu. Dia selalu menjadi bahan ejekan, dan tidak ada teman yang mau mendekatinya. Guru-guru sering memberikan tugas yang lebih sulit dari teman temannya, dan Luna merasa seperti dia tidak bisa mengimbanginya.

Di kelas, Luna sering merasa seperti dia tidak bisa mengikuti pelajaran. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan guru, dan tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Teman-temannya sering tertawa dan mengolok-oloknya, membuat Luna merasa seperti dia tidak berharga.

Pak Guru Matematika, Bapak Bambang, sering memintanya untuk maju ke depan kelas dan menjawab soal-soal matematika. Tapi, Luna selalu merasa dia benar benar lemah dan tidak bisa menjawab dengan benar. Bapak Suharto sering memberikan komentar yang menyakitkan, membuat Luna merasa seperti dia tidak cukup pintar.

"Sebelum bapak menjelaskan pelajarannya bagaimana jika bapak minta tolong kepada Luna agar menajwab materi ini."

"SETUJU PAK."

"WEHH WOI MAJU LU LELET."

"WOI TULI MAJU KWKWK."

"PLUS GAGAP COK."

"WOI WOI LIHAT GUA, A...akuh G-gak Bbis...a P...pak." itu sarkasme yang sangat menyakiti hati Luna karena dia lambat dalam semua hal, termasuk berbicara.

"HAHAHHAHAHAHAHAHAHAHHAA."
semua orang tertawa melihat siswa yang meniru cara bicara Luna, Luna hanya menunduk dan Luna ingin berdiri.

"tapi kan belum di jelaskan pak."
itu bukan Luna, tapi itu seorang siswi rambut pendek yang memberitahu.

"Si lelet pasti bisa mengerjakannya," ucap sarkas dari seorang siswi berambut panjang, dia adalah pembully Luna selama dia kelas 10, kenapa Luna selalu sekelas dengan dia hahhh Luna merasa dia hanya hidup untuk di bully.

"A-aku.. em co.ba," Luna berjalan dengan pelan ke depan papan tulis, jantungnya berdetak kencang. Dia merasa seperti sedang berjalan menuju eksekusi. Bapak Suharto memberikan soal matematika yang sulit karena belum di jelaskan, dan Luna merasa seperti dia tidak bisa menjawabnya.

"Ayo, Luna, tunjukkan kemampuanmu!" kata Bapak Suharto dengan nada mengejek. Teman-temannya tertawa dan mengolok-oloknya, membuat Luna merasa semakin tidak percaya diri.

Luna mencoba menuliskan jawabannya, tapi tangannya gemetar dan pikirannya kosong. Dia tidak bisa memikirkan apa pun, kecuali ejekan dan olok-olok teman-temannya.

"Tuliskan jawabannya, Luna!" kata Bapak Suharto dengan nada keras. Luna terkejut dan dengan tangan gemetar dia menuliskan sesuatu yang tidak masuk akal, dan Bapak Suharto langsung mengoreksinya.

"Ini apa? Ini bukan jawaban matematika, ini jawaban orang gila!" kata Bapak Suharto dengan nada mengejek. Teman-temannya tertawa lagi, dan Luna merasa seperti dia tidak bisa menahan air matanya lagi.

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka, dan seorang siswa masuk ke dalam kelas. "Pak, saya terlambat karena ada keperluan," kata Arman dengan sopan. Bapak Suharto memandangnya dengan marah, tapi Arman tidak peduli. Dia melihat Luna yang sedang menangis pelan, dan dia langsung tahu apa yang terjadi ini sudah terjadi sejak lama ya.

"Pak, mungkin saya bisa membantu Luna menjawab soal ini," kata Siswa itu dengan percaya diri. Bapak Suharto terkejut, tapi dia tidak bisa menolak tawaran siswa itu. Dan Arman langsung mengambil spidol dari tangan luna dan membantu Luna menjawab soal matematika dengan benar. Teman-teman kelas lain mendesah kesal, dan Luna merasa di bantu lagi, pemuda itu lagi.

____Time skip ( jam istirahat )

Luna berjalan sendirian di koridor sekolah, menuju ke taman yang terletak di sebelah belakang sekolah yang sepi. Dia ingin makan bekalnya yang sudah disiapkan oleh ibunya pagi ini. Bekal itu adalah nasi goreng dengan telur mata sapi, favorit Luna.

Saat berjalan, Luna merasa sedikit lebih baik setelah kejadian di kelas tadi. Dia berharap bisa menikmati makan siang di taman tanpa gangguan. Tapi, saat dia berbelok ke koridor yang menuju taman, dia melihat gadis rambut panjang yang merupakan pembullynya dari kelas 10, Nadya.

Nadya berdiri di depan Luna, dengan senyum mengejek di wajahnya. "Eh ada si lelet kwkwk, mau kemana, Let? Makan bekal lagi?" kata Nadya dengan nada mengejek dan di sahutin dengan tertawaan dari teman temannya, Luna merasa sedikit takut, tapi dia mencoba untuk tidak menunjukkan.

"I...iya, A-aku i..ngin ke-," kata Luna dengan susah payah. Nadya langsung memotong perkataan Luna, " Stop ngomong, muak banget gua denger lo ngomong, waktu gua nanti kebuang sia sia."

Salah satu teman Nadya bercelutuk "Eh nad lu liat gak si lelet itu ngebekal mulu, gak punya duit kali ya buat beli makanan di kantin?."

Luna merasa sedikit tersinggung, tapi dia tidak membalas. Dia hanya ingin menghindari konflik dengan Nadya. Tapi, Nadya tidak mau melepaskannya begitu saja. "Hahaha iya kali ya, heh bener gak?" kata Nadya dengan nada keras.

Luna merasa sedikit ketakutan, dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya ingin pergi dari sana dan menikmati makan siangnya di taman. Tapi, Nadya masih memblokir jalannya, dan Luna tidak bisa bergerak. "JAWAB DONG, tuli lo?" kata Nadya dengan nada mengejek. Luna merasa seperti dia terjebak, dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"A-aku...m-mohon, N-Nadya...aku hanya ingin...m-makan di taman," kata Luna seperti biasa jelas sih jelas, itu karena Luna susah berbicara, beginilah cara dia berbicara makanya dia sering diam dari pada berbicara. Nadya tertawa, " Hah apa? haha lu gak bisa bicara normal ya?"

Luna merasa semakin tidak nyaman, dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya ingin pergi dari sana dan menikmati makan siangnya di taman.

"Lo gak bisa pergi sebelum gua bolehin," kata Nadya dengan nada mengejek. Luna merasa seperti dia terjebak, dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tiba-tiba, Nadya mengambil bekal Luna dari tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. "K-kamu tidak perlu...m-makan bekal itu...k-kamu bisa...m-makan sampah saja," ejek Nadya menirukan cara bicara ku, dan berakhir aku di tertawakan oleh keempat teman Nadya yang ternyata sudah berkeliling di sekitar melihat Luna.

Nadya langsung menumpahkan bekal Luna ke lantai, "Hah, lo itu emang ga berguna, Luna . Lo gak bisa apa apa, lo pantas makan sampah." Luna merasa sangat sakit hati, dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya ingin pergi dari sana dan menangis sendiri.

"Bersihin tolol pakai tangan, kalau bisa pakai muka lo noh, coba gua ambil pel dulu," ujar salah satu teman Nadya, dia mulai maju bukan untuk mengambil pel, tapi dia mencengkram rambut panjang Luna dan menjatuhkan wajah Luna ke arah bekalnya yang sudah berserakan di lantai, itu membuat sorakan ramai dari mereka berlima, aku menangis dalam diam.

hahh Luna hanyaa ingin tenang, ibu.

TBC.
Maaf jika ceritanya agak sedikit brutal, tapi ini hanya tentang cerita Luna, beginilah adanya, terkadang aku terlalu takut jika harus membuat cerita bully bully gini, tapi aku membuat cerita ini agar orang orang sadar kalau PEMBULLYAN itu sangat tidak baik, itu bisa membuat orang down loh, oh iyaa jika ada kata kata yang tidak cocok atau salah penggunaan kata kata, aku boleh minta tolong untuk kaliann koreksi? Terimakasih teman temanku.....

JANGAN LUPA VOTE DAN COMENT OKE...
i love you guys, enjoy ya 🌷

* realtata___tatta

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 17 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Unseen BEAUTY Stories to obsess over. Discover now