Langit kota Esvarra, abu-abu seperti niatnya pagi itu.
Denting jam dinding berdentum tujuh kali.
Tapi bagi Abigail Alexavier Lucca Vaughan, waktu bukan lagi sesuatu yang dia pedulikan.
Hari ini bukan hari untuk tunduk. Ini hari untuk kabur.
“Abigail.”
Suara itu menggaung dari ruang tamu vila tua yang dibungkus kemewahan dingin.
“Papa ingin kamu mengambil alih bisnis, mulai minggu depan.”
Abigail berdiri membelakangi pria paruh baya bersetelan jas gelap—ayahnya sendiri, Alarico Vaughan.
“Aku bilang dari awal, aku nggak mau hidup dengan aturan keluarga. Aku bukan mesin.”
“Kalau begitu kamu bukan bagian dari keluarga ini,” ucap sang ayah datar. “Tangkap dia.”
Dan seketika semuanya berantakan.
---
Abigail lari.
Langkahnya menghantam marmer.
Sepatu boots-nya menjejak keras di lantai lorong, sampai dia menerobos pintu belakang vila.
Di luar, motor tua miliknya sudah menunggu.
Yamaha klasik 750cc, hasil bongkar-bongkar diam-diam di bengkel temannya dulu.
“Maaf, Papa,” gumamnya lirih.
Dan gas ditarik habis-habisan.
---
Tiga mobil hitam mengejar di belakang.
Bodyguard bersetelan gelap, helm fullface.
Satu di antara mereka menurunkan kaca jendela.
Sebuah laras pistol menonjol keluar.
TAR TAR TAR!!
Peluru menghantam lampu jalan, menghancurkan cermin toko, dan membuat warga berteriak panik.
Tapi Abigail tetap melaju. Melewati pasar, menukik di tikungan sempit Esvarra, naik ke gang-gang berbatu.
“Lu pikir lu bisa kabur dari sistem keluarga?” teriak salah satu dari mereka lewat pengeras suara motor.
Abigail tak jawab.
Fokus. Napasnya cepat. Matanya nyalang. Dia hafal rute ini. Dia hafal semua jalan… kecuali satu.
BRAK!
Motor tergelincir di jalanan basah. Tubuhnya terpelanting.
Dan di detik berikutnya—
TAR.
Satu tembakan menghantam dada kirinya.
Udara terasa seperti ditarik dari paru-paru.
Dunia buram. Sunyi.
---
Lalu... gelap.
Dan…
---
Suara denting sendok. Aroma kopi.
Abigail membuka mata.
Langit-langit putih, suara tawa samar, dan... aroma espresso?
Dia duduk. Di sekelilingnya, ruangan cozy. Rak kayu. Alunan lagu jazz lembut.
Nametag kecil di dadanya bertuliskan:
> “Abigail lucca duvalier — Cook”
"Bangun juga lo, ngiler lo tadi," suara ceria datang dari arah dapur.
Seorang cewek dengan rambut panjang terikat dan apron barista nyengir sambil naruh croissant di meja.
“Selamat datang di Caffè Velluto, Thalvora, Mr. Kabur Dari Dunia,” sambungnya sambil cekikikan.
Abigail menatap tangannya. Tak ada luka. Tak ada bekas tembakan.
Tapi jantungnya berdetak cepat.
Kenapa dia di sini?
Apa semua itu mimpi?
Atau…
Dia duduk. Di sekelilingnya, ruangan cozy. Rak kayu. Alunan lagu jazz lembut.
Nametag kecil di dadanya bertuliskan:
> “Abigail Lucca duvalier— Cook”
Tanpa "Vaughan".
Nama baru.
Identitas baru.
Dan mimpi barusan… terasa terlalu nyata.
YOU ARE READING
POR PERRO
General Fiction"Por Perro" adalah kisah cinta, kekacauan, dan karma instan yang dibalut dalam bumbu ke-ngeluh-an hidup anak muda zaman sekarang. Cerita ini ngikutin seorang tokoh cowok (yang kadang ngeselin, kadang kasihanin) yang kehilangan segalanya-pacar, pride...
