DIBIASAKAN MEMBACA DESKRIPSI CERITA TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEBACA CERITA!!
***
***
***
***
***
***
***
***
***
Malam itu angin berhembus pelan namun membawa hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Udara seolah enggan bergerak, seolah tahu bahwa sesuatu yang kelam akan terjadi. Langit tak berawan, namun bulan terlihat pucat dan merah, menggantung seperti mata para dewa yang memalingkan pandangan dari dunia.
Desa Thael, terletak di antara dua gunung sepi dan dikelilingi oleh hutan tua, sudah lama diteror oleh sesuatu yang tak kasat mata. Anak-anak tiba-tiba jatuh sakit tanpa sebab, ternak mati dengan mata kosong, dan para tetua bermimpi buruk yang sama berulang-ulang: bayangan bertaring dalam kabut.
Warga desa tak tahu apa itu. Mereka hanya menyebutnya: kutukan.
Namun malam ini, tiga tubuh tergeletak di tengah alun-alun desa. Lelaki dewasa, wajah mereka menua dalam ketakutan yang membeku. Kepala mereka terpisah bersih dari tubuh, mata terbuka menatap langit, seolah melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah terlihat oleh manusia.
Di samping mereka, berdiri seorang gadis berpakaian serba hitam. Rambut panjangnya yang hitam berkilau tertiup angin, mengungkapkan sepasang mata keperakan yang menatap kosong ke arah mayat-mayat itu. Di tangannya, ia menggenggam pedang panjang yang meneteskan darah, cahaya bulan memantul di permukaan bilahnya.
Aeryna Kaelith.
Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membunuh. Terlalu tenang untuk dianggap manusia.
Penduduk desa mulai berdatangan, satu per satu, dipanggil oleh bunyi lonceng peringatan. Tak ada yang bersuara pada awalnya. Hanya suara detak jantung dan napas tertahan yang bergema di udara. Lalu, seperti biasanya, seseorang akhirnya berkata:
"Dia... dia yang melakukannya."
Aeryna tidak menoleh.
Lalu terdengar suara wanita tua, gemetar namun lantang.
"Itu Lark dan dua anaknya! Mereka nelayan, mereka tak bersalah! Mengapa kau membunuh mereka, iblis?! Kau bawa kutukan ke desa kami!"
Kata "iblis" meluncur begitu mudah dari lidah mereka, meski tak satu pun dari mereka melihat apa yang ia lihat. Mereka tak tahu bahwa tiga lelaki itu telah mati tiga hari lalu-jasadnya hanyalah wadah. Bayangan dalam tubuh mereka telah mencuri jiwa manusia yang dulu menghuni raganya.
Mereka siluman-pemakan jiwa yang bisa bersembunyi di balik wajah manusia.
Aeryna akhirnya berbicara. Suaranya rendah, nyaris tanpa emosi. Tapi setiap katanya memotong udara seperti bilah dingin.
"Mereka bukan manusia lagi."
Tak ada yang percaya. Selalu begitu.
"Bohong! Kami makan bersama mereka tadi siang!" teriak seorang pemuda muda.
Aeryna tak menjawab. Ia menyarungkan pedangnya, Vaenra, ke dalam sarung hitam yang digantung di punggungnya. Suara logam yang meluncur masuk terdengar jelas dalam keheningan.
Darah masih mengalir dari tubuh-tubuh itu, mewarnai tanah dengan bentuk aneh seperti simbol. Beberapa warga menutup mata, beberapa memeluk anak-anak mereka. Tapi tak ada yang berani mendekat ke Aeryna. Ketakutan mereka lebih besar dari amarah mereka.
ESTÁS LEYENDO
THE DEVIL IS NOT ME
FantasíaCerita ini termasuk cerita fantasi kerajaan!! Aeryna Kaelith, seorang gadis cantik dengan mata keperakan dan rambut hitam seperti malam, dikenal oleh rakyat sebagai pertanda petaka. Ia datang ke desa-desa setelah senja, membantai orang-orang yang me...
