Shift Malam

180 9 0
                                        

Langit sudah gelap. Lampu-lampu lorong rumah sakit menyala redup, menyisakan bayangan panjang di sepanjang koridor. Jam digital di ruang dokter menunjukkan pukul 23.47. Di luar, hanya suara ambulans sesekali dan angin malam yang menggerakkan tirai di ruang jaga.

Jennie duduk sendiri di balik meja kerja, menatap layar komputer. Tangannya mengetik pelan, mengisi laporan pasca-operasi
Wajahnya lelah tapi fokus, seperti biasa.

Pintu terbuka perlahan. Lisa masuk tanpa suara, membawa dua kaleng kopi dingin dari vending machine di lantai bawah. Ia mengenakan jaket dokter setengah terbuka, ID card menggantung di leher, rambutnya sedikit acak-acakan.

"Masih di sini," gumam Lisa sambil mendekat, meletakkan satu kaleng kopi di meja Jennie.

Jennie hanya menoleh sekilas. "Tumben kamu gak langsung pulang."

"Tumben kamu belum selesai," balas Lisa dengan senyum tipis.

Jennie memutar mata kecil. "Aku habis ambil pasien trauma kepala. Operasi jam delapan malam. Baru sempat isi laporan sekarang."

Lisa mengangguk. Duduk di kursi sebelahnya. Hening beberapa detik, hanya terdengar bunyi klik keyboard dan dengungan AC.

"Aku suka shift malam," Lisa tiba-tiba berkata.

Jennie menoleh sedikit, alis terangkat. "Kamu suka tidur di ruang dokter maksudnya?"

Lisa tertawa pelan. "Nggak. Maksudku... lebih tenang. Lebih jujur. Gak banyak orang. Gak banyak basa-basi."

Jennie diam sejenak. Lalu menjawab, pelan. "Mungkin karena di malam hari, kita kelelahan, jadi lebih jujur pada diri sendiri."

Lisa melirik ke arahnya. "Termasuk soal perasaan?"

Jennie berhenti mengetik.

Hening.

Lisa cepat-cepat membuang pandang, membuka kaleng kopinya. "Maksudku-ya, misalnya... perasaan lapar. Atau ngantuk. Gitu."

Jennie menghela napas pendek. Lalu mengangguk. "Iya. Termasuk soal perasaan."

Lisa tersenyum kecil, tapi hatinya berdetak dua kali lebih cepat.

Mereka duduk berdua di bawah lampu putih pucat ruang jaga. Tak ada yang spesial. Tak ada musik. Tak ada pengakuan cinta.

Tapi ada dua orang yang saling memahami bahkan tanpa kata.

Dan itu cukup untuk malam itu.

White is yourStories to obsess over. Discover now