Sore itu, jendela masih setengah terbuka, menyisakan aroma tanah basah yang meresap ke dalam ruangan. Tirai putih tipis bergoyang pelan, digerakkan angin sisa hujan yang sejuk dan jinak.
Di ruang tamu yang tak luas tapi penuh kenangan itu, mereka duduk berseberangan. Di antara mereka, meja kayu tua yang sudah sering jadi saksi: tawa, perdebatan, air mata kecil, juga secangkir teh yang kini mengepul pelan.
Tujuh tahun bukan waktu sebentar, tapi juga bukan waktu cukup untuk menjawab semua pertanyaan hidup. Tak ada pertanyaan yang perlu dijawab-cukup ada.
Tapi di hari itu ada yang tak biasa dengan Si wanita. Mendung bergelayut di wajahnya, hangat yang biasa berseri di wajahnya, seperti terserap habis oleh teh hangat yang terhidang di atas meja
Sang suami memperhatikannya dalam diam. Matanya menangkap bayangan yang tak biasa-bukan pada langit, tapi pada wajah yang selama ini ia kenal seperti rumah. Ada jeda di matanya, ada sunyi di antara tarikan napasnya.
Teh di tangannya belum disentuh, uapnya sudah memudar, seperti kehangatan yang pelan-pelan menguap dari dalam dirinya.
Ia tak bertanya, bukan karena tak peduli, tapi karena terlalu mengenalnya-wanita itu akan bicara kalau waktunya datang. Tapi hari itu, ia mulai ragu... apakah kali ini ia masih termasuk dalam waktu yang wanita itu tunggu?
Sunyi makin pekat. Hanya detak jarum jam dinding tua yang menemani.
Sang pria menangkap gelisah dan jarak yang tiba tiba terbentang. Dia meraih tangan isterinya mengajak duduk di sampingnya. Firasat buruk mulai mengundang prasangka. Apakah ada orang kedua?
Sang wanita tidak menepis tidak juga menyambut, dia seperti berada di dunianya yang lain. Dia bergelut dengan kegamangannya sendiri.
"Sayang... Duduklah di sampingku."
Sang wanita masih terperangkap dalam gelisahnya.
" Sayang... ? " Belum pernah selama mengenal perempuan di hadapannya ini, dia sampai memanggilnya dua kali.
Suara itu akhirnya menembus kabut yang menyelubungi benaknya. Ia menoleh perlahan, matanya tampak berkaca, tapi belum jatuh. Ada pergolakan di sana-antara kata-kata yang ingin diucapkan, dan luka yang belum tahu caranya disampaikan.
Ia beranjak, duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat jarak yang tadi membentang terasa sedikit menyempit.
Tangannya diletakkan di pangkuan, saling menggenggam satu sama lain-bukan untuk menyembunyikan sesuatu, tapi seolah sedang berdoa pada dirinya sendiri.
Dan di tengah keheningan itu, wanita itu akhirnya bicara.
Pelan.
"Aku ..ada yang harus kukatakan padamu..." ucapnya pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menghentakkan dada sang pria.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya hati-hati, nyaris berbisik.
Si wanita menatap ke luar jendela, ke sisa hujan yang masih menetes dari atap. Lalu akhirnya ia menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam sore itu, mata mereka saling bertemu.
"Aku sudah pindah keyakinan."
Seketika, waktu di ruang tamu itu seperti berhenti. Uap teh benar-benar habis. Detak jarum jam terdengar lebih keras dari biasanya. Mata sang pria membelalak kecil, bukan karena marah, tapi karena dunia yang ia kenal tiba-tiba retak di titik yang tak pernah ia bayangkan.
Lama ia tak berkata-kata. Ia hanya menatap wanita yang selama ini ia genggam dalam doa, dalam rencana, dalam satu langit kepercayaan.
Bibirnya sempat terbuka, tapi tertutup kembali. Bukan karena ia tak punya kata, tapi karena ia tahu: apapun yang keluar dari mulutnya saat ini bisa jadi jembatan atau jurang.
Akhirnya, ia memilih bertanya pelan, nyaris seperti bisikan seorang anak kecil pada ibunya,
"Sejak kapan?"
Mata yang biasanya menatap penuh rindu, kini berselimut kabut. Tak ada ruang untuk menyelam di dalamnya.
Ruang tamu itu berubah menjadi aula besar yang dingin.
"Sejak kapan...?"
Terbata, tanpa makna, ia mengulang pertanyaannya.
Sang wanita masih mengenali lelaki di hadapannya. Ia menangkap kegusarannya, merasakan kehampaannya. Tapi ia tahu, ia tak lagi berhak menuntut kehangatannya. Dirinya sendirilah yang memutuskan hak itu.
Jendela menjadi pelariannya.
"Tahun lalu," jawabnya pada akhirnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, tapi udara terasa berat di dadanya. Nama Tuhan yang dulu mereka sebut bersama sebelum tidur, kini seperti mengambang di antara mereka-tak tahu harus berteduh di hati siapa.
"Kenapa nggak bilang dari awal?" suaranya lirih, tapi tidak marah. Lebih seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah di kota yang dulu hafal jalan pulangnya.
Wanita itu menunduk. Jemarinya meremas sisi rok yang telah lusuh oleh duduk diam terlalu lama.
"Aku takut kamu hilang... dan ternyata, aku tetap kehilanganmu juga."
Sunyi kembali mengalir di sela kata. Tak ada yang bergerak. Hanya hujan sisa yang menetes pelan dari ujung genteng-seperti waktu yang ikut menangis, tapi tak bisa mengubah apapun.
Sang pria memejamkan mata. Ia tahu cinta mereka belum mati. Tapi kini, cinta itu berdiri di dua tanah yang berbeda.
Dan di tengah ruang tamu yang dulu hangat, mereka duduk berdua. Masih saling mencintai, tapi mungkin tak lagi bisa hidup dalam doa yang sama.
Di antara mereka, waktu terasa melambat. Tak ada amarah yang meledak, tak ada air mata yang memohon. Hanya dua orang dewasa yang saling mencintai, tapi sadar bahwa cinta tak selalu cukup untuk mengikatkan dua jiwa yang kini berbeda arah.
"Aku masih sayang kamu," katanya, jujur, dengan suara yang seperti baru keluar dari luka.
Wanita itu mengangguk, lalu menatapnya, kali ini dengan senyum paling getir yang pernah ia berikan.
"Aku tahu... dan itu yang paling menyakitkan."
Ia menggenggam tangan suaminya, bukan untuk kembali, tapi untuk mengucapkan terima kasih atas semua hari yang pernah mereka bagi.
Tak ada yang berdiri. Tak ada pintu yang dibanting. Hanya dada yang sesak menahan pamit yang terlalu sunyi.
Di luar, hujan sudah reda. Tapi dalam hati mereka, badai itu baru saja dimulai.
"Aku takkan menghalangimu pergi... tapi bolehkah aku bertanya?"
Ia tak berani memandang wajah yang selama ini selalu dirindukannya setiap kali kata pulang terucap.
Suaranya pecah, tapi tertahan.
"Apakah aku... bukan lelaki yang baik?"
-
Kalimat itu menggema di udara, menembus dinding-dinding hati yang retak.
Sang wanita terdiam lama. Hujan sudah reda, tapi genangan di matanya tak bisa dibendung.
Pelan, ia menyentuh tangan pria itu. Kali ini lebih dekat. Lebih dalam.
"Kamu lelaki yang baik. Terlalu baik, mungkin... sampai aku merasa tak pantas berjalan di belakangmu."
Dan pada titik itu, mereka tahu:
cinta masih ada, tapi jalan yang mereka tempuh sudah tak searah.
Ia menarik napas, lalu bangkit perlahan, berjalan menuju rak kecil di sudut ruangan. Diambilnya sebuah album foto, kusam tapi penuh kenangan. Ia letakkan di meja di antara mereka.
"Aku nggak akan memintamu tetap tinggal," katanya. "Tapi... maukah kamu buka ini, sekali lagi, bersamaku? Bukan untuk kembali, hanya untuk mengenang... agar kita tak perlu saling membenci saat berpisah."
Wanita itu mengangguk. Mereka membuka halaman demi halaman, dalam diam. Foto pernikahan. Liburan singkat. Tawa lama yang kini hanya gema. Tak ada tawa hari itu. Tapi juga tak ada penyesalan.
Saat album ditutup, senja mulai gelap. Mereka saling menatap untuk yang mungkin terakhir kalinya-bukan sebagai suami isteri, tapi sebagai dua manusia yang pernah menjadi rumah satu sama lain.
Dan di luar sana, hujan telah berhenti. Tapi di dalam hati mereka, badai itu baru saja dimulai.
Terinspirasi dari Mangu - 4.20
Ditulis bersama AI sebagai teman berimajinasi. Sebuah kolaborasi rasa.
YOU ARE READING
Episode
Non-FictionHanya fiksi. Ditulis bersama AI sebagai teman berimajinasi. Sebuah kolaborasi rasa.
