HAI! Welcome (back) (setelah dari 2021 kayaknya nggak ada cerita baru di Wattpadku). Perkenalkan, namaku Monica, dengan nama pena Mimanuflores (haha agak cringe y? thx). Anyway... aku memberanikan diri untuk posting setelah nemu judul yang menurutku "tepat" untuk keseluruhan cerita ini, "I Dropped a Handkerchief, and He Took It" adalah idiom yang aku dapetin dari Elizabeth Adelin (walaupun udah buanyak banget yang pake), setelah izin, aku baru berani naikin ini, karena jujur akupun bosen kalo judul2nya pake nama atau singkatan nama hehe.
Yasudah, tanpa berlama-lama lagi, kita coba cek ombak ya, teman2. Selamat membaca! Tinggalkan komen yang membangun atau like kalian, atau save sekalian juga boleh banget hihi.
PLIS JANGAN COPY CERITAKU YA!! -xx, Monica
*
Gadis itu memasuki area sekolah sambil menguap, tidak kuat menahan rasa kantuknya. Ia sejenak mengucek matanya pelan, andai bisa izin di mata pelajaran pertama dan kedua, ia pasti akan ke UKS untuk melanjutkan tidurnya.
Tanpa ia duga, sang sahabat, Btari, menghampiri gadis itu dengan napas tersengal. "Schalea! Gawat!" ucapnya dengan nada tidak santai.
Schalea, nama gadis itu berdecak. "Ganggu dikit, nggak ngaruh. Kenapa, sih, elah," jawabnya dengan nada sedikit kesal.
"Itu, si Alvaro dan teman-temannya, pungli lagi! Benci banget gue! Masa mesti ngasih duit mulu ke mereka, lo tau, kan, mereka itu anak orang kaya semua?! Schal, ayo bantu," rengek Btari.
Schalea lantas menghela napas kesal. "Mereka caper banget! Sini, coba, gue ajak ribut dulu, si kakak kelas tidak berguna itu," Schalea menanggapi. Mereka akhirnya berjalan beriringan dengan langkah panjang, menuju ke tempat Alvaro, Edbert, dan Andro melakukan pemalakan. Ternyata di tangga arah lantai dua, tempat kelas sepuluh dan sebelas berada.
Mereka mengikuti antrian terlebih dahulu, berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Sampai pada akhirnya...
"Permisi, Kak, kami mau lewat," ujarnya masih berusaha sopan.
Andro, salah seorang dari geng Alvaro yang terkenal tukang tebar pesona, langsung sadar kalau yang bicara adalah Schalea. "Eh, Schalea. Gimana kegiatan photoshoot kemarin? Aman? Denger-denger mau kontrak iklan, ya, setahun? Perlu dianterin nggak, nih, kalau ada acara-acara lagi?" goda Andro.
Schalea menjawab walaupun super males-malesan. "Lancar, Kak."
"Nah, bagus kalau lancar, bayaran juga udah diterima, dong? Coba sini setoran ke kami, nggak banyak, lima ratus ribu aja. Pasti penghasilan lo besar, kan?"
"Enggak ada, Kak. Ini jalanan umum. Nggak usah sok basa-basi sampah kayak gini, kalian emang tukang palak!" balas Schalea dengan nada mulai sengak.
Tentu saja, Schalea langsung mendapatkan bombastic side eye dari Alvaro. "Eits, hati-hati kalau ngomong, Schal," kata Andro. "Jangan sampe boss gue yang turun tangan. Ini sekali lagi masih gue kasih kesempatan ngomong baik-baik, ya. Kasih kami lima ratus ribu, lo baru bisa jalan ke kelas," ulang Andro dengan nada lebih tegas.
"Kak Alvaro? Boss lo? Nggak nyangka, ternyata lo ngetek di bawah ketek kak Alvaro, Kak? Lagipula, percuma gue ngomong sama antek-anteknya, gue mending pilih langsung ngomong sama boss-nya. Cuma buang-buang tenaga nanggepin orang kayak lo, Kak!" Tatapan Schalea tajam sekali, sesekali ia melirik ke Alvaro.
Alvaro menepuk pelan pundak Andro, menyuruhnya menyingkir. "Laga lo keren banget, artis baru!" sebuah sambutan yang sangat menghina dan didengar oleh banyak orang dari Alvaro. "Mereka itu sahabat-sahabat terbaik gue. Lo ngeledek mereka, lo berurusan sama gue!" lanjut Alvaro dan menunjuk Schalea dengan tatapan mematikan.
YOU ARE READING
I Dropped a Handkerchief, and He Took It
RomanceKatanya, balas dendam terbaik disajikan saat sudah "dingin"? Schalea Hartawan menjalani masa SMK Farmasi dengan cukup menantang setelah ia memberanikan diri melawan Alvaro, Edbert, dan Andro, yang adalah penguasa sekolah mereka. Alvaro dkk punya pow...
