We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Aliansi yang Tak Terucap

107 8 0
                                        

"Aku gamau dijodohin, Mom!"

Suara Raysha bergema di seluruh ruang keluarga yang mewah tapi dingin. Ia berdiri dengan kedua tangan mengepal, tubuhnya sedikit gemetar, menahan emosi yang sudah sejak tadi bergejolak dalam dadanya.

Mommy Raysha, wanita paruh baya yang selalu tampil elegan dalam balutan busana branded, duduk dengan anggun di sofa panjang. Tangannya memainkan cangkir teh yang baru saja disajikan oleh asisten rumah tangga. Namun, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan simpati.

"Kamu harus mau ini, Raysha. Demi kebaikanmu."

"Kebaikan?" Raysha tertawa kecil. "Maksud Mommy itu nama baik, bisnis, dan perjanjian gak jelas itu, kan? Bukan soal aku!"

Mommy Raysha meletakkan cangkirnya dengan tenang. "Kamu masih terlalu muda untuk mengerti."

"Tapi Mom, aku nggak cinta dia. Aku gamau, Mom!" serunya, nyaris memohon.

"Kamu pikir Mommy dulu cinta sama Daddy kamu?" Mommy Raysha menatap lurus ke arah putrinya. "Dulu memang nggak cinta, tapi sekarang... cinta itu tumbuh."

"Aku bukan Mommy!" sahut Raysha cepat. "Aku punya mimpi, Mom. Aku punya rencana hidup yang sudah aku susun sejak lama. Aku mau berkarier. Aku mau berdiri di atas kaki aku sendiri, bukan jadi alat tawar-menawar keluarga!"

Untuk pertama kalinya, ada jeda di wajah Mommy Raysha. Tapi itu hanya berlangsung beberapa detik.

"Kamu pikir Roger nggak punya mimpi? Nggak punya rencana? Dia juga dipaksa, Raysha. Kalian berdua dipaksa dalam situasi yang sama. Tapi kalian bisa menjadikannya sesuatu yang lebih baik, kalau kalian mau."

---

Beberapa jam kemudian, di taman belakang rumah keluarga Llaurado.

Roger duduk menyandar di bangku taman, mengenakan hoodie abu-abu dan celana jeans. Meski tampil kasual, aura misterius dan dinginnya tetap terpancar. Ia baru saja kembali dari Amerika Serikat sebulan lalu, dan sekarang… dihadapkan dengan perjodohan yang bahkan belum sempat ia proses.

Sore itu, pertemuan resmi diadakan. Kedua keluarga berkumpul di rumah besar milik keluarga Llaurado. Dania Raysha Nofitri, dengan dress semi-formal berwarna navy dan blazer putih, tampak kaku duduk di sebelah pria asing yang katanya akan jadi tunangannya.

Roger Llaurado JR. Tinggi, berambut cokelat gelap, kulit putih bersih, dengan mata tajam yang seolah bisa membaca isi hati orang lain, dan berwajah tampan. Tapi di balik aura misterius dan pesonanya yang dingin, ada sesuatu yang hancur di matanya. Sesuatu yang familier.

Setelah formalitas dan basa-basi dari para orang tua selesai, mereka berdua akhirnya dibiarkan berbicara empat mata di taman belakang rumah.

"Aku Roger," ucapnya pelan sambil menatap lurus ke arah kolam ikan yang berada di tengah taman.

"Raysha," balas Dania singkat.

"Kamu dipaksa ya?"

Raysha menoleh, agak kaget. "Dari mana kamu tahu?"

"Keliatan dari raut wajahmu," jawab Roger datar.

Raysha menghela napas. "Kamu juga, kan?"

"Ya."

"Ahh. Great," ia menatap ke langit yang mulai berwarna oranye keemasan. "Kita sama."

"Kamu benci aku?" tanya Roger tiba-tiba.

"Bukan kamu... tapi keadaannya," jawab Raysha jujur.

"Bagus. Aku juga," Roger tersenyum tipis, bukan karena senang, tapi karena merasa senasib.

Janji dalam Diam (Raysha and Roger)Stories to obsess over. Discover now