Aku adalah dia, dia yang terluka, dia yang telah lama hilang termakan oleh harapan, hingga perlahan semuanya hancur.
*****
"Lily, kenapa kamu tak mendengarkan kata mama?" suara wanita paruh baya itu keluar dengan nada tajam, seperti kilat yang menyambar di ruang tamu yang terasa hening. Ia duduk tegak di kursi kayu, memandang putri pertama yang duduk terdiam di hadapannya, wajahnya tidak terlihat terkejut atau bersalah. Sejak tadi, wanita itu sudah beberapa kali melontarkan pertanyaan yang sama, namun tak ada jawaban, hanya keheningan yang semakin menambah ketegangan di antara mereka.
Lily, gadis berambut panjang yang kini hanya menggantungkan pandangannya pada lantai, mengangkat wajahnya perlahan. Matanya kosong, seolah tak ada kehidupan di dalamnya. "Apa Lily harus selalu mendengarkan mama?" jawabnya, nada suaranya datar, tak menunjukkan sedikit pun rasa penyesalan. Kata-katanya terlontar dengan ketenangan yang mengerikan, seolah perasaan yang ada di dalam hatinya sudah terkubur begitu dalam, jauh dari jangkauan.
Wanita itu menghela napas panjang, jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan kesabaran yang hampir habis. "Jangan buat mama semakin kesal, Lily. Dengarkan mama baik-baik. Jangan selalu mengambil milik adikmu, jangan selalu berusaha menjadi pusat perhatian!" teriaknya, suara itu meninggi, penuh penekanan, dan seperti petir yang menggelegar di tengah malam yang sunyi. Sepertinya, wanita itu sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kekecewaannya.
Namun, Lily hanya menatap lurus ke depan, matanya yang kosong seolah menembus jauh, seperti sedang melihat sesuatu yang tak bisa dipahami oleh orang lain. "Apakah itu salah?" tanyanya perlahan, suaranya tak lebih dari bisikan. "Apakah salah jika aku ingin menjadi sesuatu lebih dari yang kau lihat? Kalau begitu, seharusnya kalimat itu ditujukan kepada anak kesayangan mama, bukan aku." Suaranya semakin lirih, namun kata-katanya seperti menusuk langsung ke hati wanita itu. Tanpa menunggu reaksi, ia tetap terdiam, seolah dunia ini tidak peduli dengan apa yang ia rasakan.
Wanita itu terdiam sejenak, napasnya memburu. Ia menatap putrinya dengan mata yang penuh kebingungannya. "Kenapa kamu harus selalu seperti ini, Lily? Kenapa kamu begitu pembangkang?" teriaknya, kali ini suara itu penuh dengan kekesalan yang semakin tak terkendali. "Mama tidak ingin mendengar apapun darimu. Ingat baik-baik, mama tidak mau mendengar adikmu menangis hanya karena ulahmu!"
Namun, Lily tidak bergeming. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan. Perlahan, ia bangkit dari tempat duduknya, langkahnya pelan, namun setiap gerakan tubuhnya seolah mengisyaratkan betapa besar perasaan terluka yang tersembunyi di dalam hatinya. "Mama tidak pernah melihat apa yang terjadi sejak awal. Bukankah adikku yang lebih dulu mengambil semua milikku?" katanya tanpa menoleh. "Dia yang mengambil perhatianmu, dia yang menguasai segalanya. Bahkan sosok mama yang dulu tidak pernah ada untukku, kini seolah lebih dimiliki olehnya. Jadi, siapa sebenarnya yang seharusnya disalahkan?" Suara Lily terdengar penuh amarah, namun tetap hampa, tanpa ada satu pun kata yang bisa menjelaskan betapa dalamnya luka di hatinya.
Wanita itu terdiam, kata-katanya serasa membeku di tenggorokan. Air matanya sudah hampir menetes, namun ia berusaha keras untuk tetap bertahan. "Lily, tolong jangan seperti ini," ujarnya, suaranya kini melembut, penuh rasa cemas yang tak tertahankan. Namun, Lily sudah tak lagi menghiraukannya. Dengan langkah cepat dan hati yang semakin hancur, ia meninggalkan ruang tamu itu tanpa memandang lagi ke belakang.
Langkah Lily semakin menjauh, meninggalkan wanita itu yang masih terdiam di tempatnya, tubuhnya kaku seperti patung. Hujan mulai turun deras dari luar, menambah kesedihan yang seakan tak pernah berakhir. Tiap tetes hujan yang jatuh di jendela seakan menggambarkan setiap tetes air mata yang tak terlihat, namun terasa begitu nyata. Suasana di rumah itu terasa semakin sunyi, seolah seluruh dunia ikut terdiam, merasakan kesedihan yang begitu mendalam.
Di dalam ruangan gelap yang terisolasi, hanya terdengar suara isakan Lily yang semakin pelan, namun penuh dengan kepedihan yang tak terungkapkan. Gadis itu duduk di sudut ruangan, tubuhnya terhuyung lemas, seolah terjatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak terhingga. Matanya yang merah menyiratkan betapa kerasnya ia mencoba menahan segala rasa sakit, namun semuanya terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Langit malam yang suram seakan menjadi saksi bisu dari apa yang dirasakannya. Hujan yang mengguyur seakan berbicara dalam bahasa yang tak bisa dimengerti siapa pun. Malam itu terasa sangat panjang bagi Lily, lebih panjang dari malam-malam sebelumnya. Langit seakan menangis bersamanya, menghapuskan jejak-jejak kebahagiaan yang sempat pernah ada di dalam hidupnya. Kini, hanya ada kesendirian yang menyelimuti, menunggu kapan rasa sakit itu akan berhenti, namun tidak ada yang tahu kapan itu akan datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Lily
Teen FictionInilah kisah hidup Lily, seorang gadis yang terus berjuang dengan takdir yang tak pernah ia pilih. Sebuah perjalanan batin yang penuh dengan ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan konflik dengan dirinya sendiri. Kisah ini berfokus pada pandangannya t...
