Senin? ya, sekolah -_- segitu aja.
.
.
.
.
Angin sore yang menenangkan menerpa wajah seorang anak laki-laki yang terduduk di ayunan taman sendirian. dengan matanya yang sembab karena habis menangis dan ada beberapa coretan pulpen warna hitam di wajah nya, dan juga ada beberapa memar di pipi dan pinggir bibir nya. karena habis berantem dengan tiga anak cowok yang mengerjainya itu.
Tidak ada anak-anak lain yang bermain di taman itu kenapa? karena mereka sudah pulang dan sekarang hanya ada dirinya, dan hanya ada beberapa orang dewasa yang kadang lewat di depan pintu taman, ia menundukkan kepalanya merenungkan dirinya sendiri.
Sampai...
"Sendirian aja, mau aku temenin gak?"
Ia tersentak kaget karena tiba-tiba ada anak laki-laki yang duduk di samping ayunannya.
"Kamu siapa? kok tiba-tiba ada di sini?" tanya nya yang penasaran dengan anak laki-laki di sampingnya.
Anak laki-laki itu tersenyum, "Aku Elang Adipta Mahensa, panggil Elang aja. kalo kamu?"
dia menatap anak laki-laki itu yang ternyata adalah Elang. ia sedikit menunduk karena ia anak yang pemalu.
"Aku... Nael Narexdra Alvaro, panggil aja Nael." jawabnya.
Elang menatap nya sebentar, entah kenapa tiba-tiba dia mendapatkan ide nakalnya. ia tersenyum, "kalo... aku panggil my little kitty gimana?"
'Halah masih kecil juga kata-kata nya udah kayak gitu siapa sih yang ngajarin?' -author-
Nael memiringkan kepalanya bingung, karena ia tidak tahu apa yang di katakan oleh Elang.
melihat itu Elang terkekeh melihat Nael memiringkan kepalanya, itu terlihat lucu. ia berhenti tertawa lalu digantikan oleh senyumnya, "udah lupain aja." ucapnya menatap Nael sebelum akhirnya...
"gini aja aku panggil kamu si mata panda gimana? soalnya ada lingkaran item di matamu, terus bengkak kaya habis nangis terus warna itemnya keliatan sedikit luntur, jadi agak besar kaya mata panda." ucapnya, berniat membuat nael marah.
Nael yang tidak terima di panggil 'panda' seperti itu ia turun dari ayunan dan memukul pipi elang sampai anak itu tersungkur ke tanah, bukannya nangis atau bales pukulan itu tapi mala berdiri sambil seringai samar terpahat di bibirnya itu.
duh ni bocah anak nya sapa sih, bukannya nangis malah nyeringai suka kali ya dia di gituin? atau...?
"Lucu..." gumamnya pelan sambil memegang pipinya itu lalu ia berdiri.
"jangan panggil Nael kayak gitu lagi." ia mendengus kesal menatap Elang yang agak lebih tinggi darinya.
Elang meliriknya. "kenapa?"
Nael menatap nya dengan kesal. "Ya pokoknya jangan, aku gak mau."
"masa sih? aku gak percaya." ia mencondongkan tubuhnya sedikit menyeringai kecil.
"ternyata kamu pendek ya?" komentar nya.
Nael yang mencoba untuk bersabar akhirnya ia merasa jengkel "halah tiang."
Elang mencoba menahan tawa nya saat Nael mengatakan hal itu.
"yaudah pendek."
"ish, si tiang."
"pendek kayak pohon toge."
Nael semakin kesal di buatnya. ia rasa nya ingin memukul si tinggi sombong yang ada di depannya itu. Karena tidak tahan akhirnya Nael memukul Elang lagi namun Elang kali ini membalas pukulan Nael, ia menerima pukulan di pipinya dan Nael juga membalasnya.
mereka terus berkelahi sampai ibu mereka mencari anak-anak nya yang hilang entah kemana. Dan ibu mereka menemukan anak-anak nya sedang berkelahi. ibuk, ibuk itu meleraikan perkelahian anak mereka berdua. ibu mereka menyuruh anak-anak itu untuk berbaikan namun tidak mau dan akhirnya ibu nael dan ibu elang lah yang meminta maaf satu sama lain karena kelakuan anak-anak nya itu.
Sejak itulah mereka menjadi musuh, Elang selalu mengejek Nael dengan panggilan yang dia buat yaitu si pohon toge dan Nael? dia juga memanggil Elang dengan si tiang yang sombong.
Maaf kalau jelek atau ada yang typo soalnya masih pemula dan kadang suka gak teliti...🙂
YOU ARE READING
Enemy to Lovers
Randomgue menatap jengkel ke empat cowok yang menjebak gue di antara tembok dan mereka "minggir." "kalau engga mau gimana dong?" ucap salah satu dari keempat cowok itu sambil menyeringai. Awas Area BXB kalo gak suka skip aja. ada beberapa kata kasar. keke...
