"Ketika manusia menyerahkan hidup pada mesin, maka ia juga menyerahkan jiwanya pada kehampaan."
Dunia telah berubah.
Matahari masih terbit dari timur, tapi kehangatannya tak lagi menyentuh kulit. Langit masih membentang biru, namun warnanya seakan tercampur dinginnya logam. Di tengah hiruk-pikuk kemajuan teknologi, umat manusia bertepuk tangan menyambut era yang mereka anggap sebagai puncak evolusi.
Era robotika total.
Gedung-gedung mengambang di udara, kendaraan tak lagi menyentuh tanah, dan rutinitas hidup dikendalikan oleh sistem artificial intelligence yang menembus nadi masyarakat. Di sudut-sudut kota, kamera mengawasi setiap gerakan. Di balik tiap pintu rumah, robot asisten berbicara lembut, mencatat detak jantung, membaca ekspresi wajah, dan tahu kapan seseorang berbohong.
Dan Kwon Hoshi berdiri sebagai anomali di dunia ini.
"Mereka tidak hidup. Mereka hanya meniru kehidupan."
Begitulah pikir Hoshi saat ia berjalan di lorong kota yang terlalu bersih. Suaranya serak, penuh penolakan. Orang-orang memanggilnya pemberontak. Pemuda 20-an yang keras kepala, penuh amarah, dan dianggap mengganggu stabilitas masyarakat. Ia pernah mencoba menyampaikan pada publik bahwa robot tidak hanya mengendalikan sistem, mereka mulai mengendalikan pikiran. Tapi dunia yang sudah terlena memilih mencibir.
Hoshi punya alasan kuat membenci mereka. Ia melihat keluarganya hancur karena algoritma yang salah. Ibunya--perempuan hangat yang suka menanam bunga--ditemukan tak bernyawa setelah sistem medis otomatis mendiagnosisnya sehat dan menolak perawatan. Ayahnya, yang mencoba menyelidiki, tiba-tiba 'menghilang'. Hoshi tahu... mereka tak menghilang, mereka dihilangkan.
Namun satu hal yang lebih membuat Hoshi takut adalah: ia tahu dirinya berbeda.
Di dalam tubuhnya, ada kekuatan. Bukan sihir, bukan pula hasil eksperimen genetik. Ia menyebutnya "Nyala"-semacam energi merah keemasan yang bisa muncul dari telapak tangannya. Panas, membakar, liar. Tapi tidak stabil. Saat ia marah, "Nyala" itu muncul, membakar benda di sekitarnya, atau bahkan dirinya sendiri.
Ia mencoba mengendalikan kekuatan itu berkali-kali. Tapi selalu gagal. Di tengah pertarungan kecil dengan pasukan drone pemerintah, tubuhnya terbakar. Luka-luka itu tak pernah sembuh sempurna. Ia dianggap berbahaya. Dan pemerintah pun menetapkannya sebagai ancaman.
****
Malam itu, ia lari. Dikejar lusinan robot tempur bersayap, dihujani misil dan ledakan plasma. Jalan kota meledak di belakangnya. Nafasnya memburu, tubuhnya lelah. "Nyala" tak muncul. Seolah energi dalam dirinya ikut takut.
"Kenapa sekarang...!?" jeritnya dalam hati.
Di satu titik, Hoshi berhenti. Dikelilingi. Tangannya berdarah. Salah satu robot mendekat, tangannya berubah menjadi senjata tajam. Hoshi memejamkan mata, bersiap menerima akhir hidupnya.
1 detik
2 detik
Hingga pada detik ke-lima, ia masih tak merasakan apapun.
Yang terjadi pada detik berikutnya adalah tanah di bawahnya runtuh. Ia jatuh ke lorong bawah tanah. Tempat itu gelap, lembab, dan penuh kabut. Robot-robot di atas kehilangan jejaknya.
Yang terakhir ia dengar sebelum gelap merenggutnya adalah sebuah suara langkah kaki yang memakai tongkat. Suara itu bergema seolah menjadi pengantar kesadarannya.
****
Hoshi terbangun di tempat asing. Lilin-lilin menyala di sisi gua, membentuk pola spiral. Di ujung ruangan, berdiri seorang kakek tua dengan jubah kelabu dan tongkat kayu panjang yang terukir simbol aneh.
"Jadi kau masih hidup," gumam si kakek, suaranya dalam dan serak, tapi menenangkan.
"Siapa kau?" Hoshi berusaha bangun. Tapi kakinya tak kuat menopang tubuhnya.
Kakek itu tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap mata Hoshi. Tatapan yang ia rasa bisa kapan saja menembus jiwanya.
"Aku telah menunggumu, Hoshi."
"Kau tahu namaku?"
Kakek itu melangkah, tongkatnya menggores tanah, membentuk simbol bulat dengan dua garis melintang. Sebuah simbol yang entah mengapa terasa sangat familiar bagi Hoshi.
"Maestro," kata si kakek lirih. "Kau adalah salah satunya."
Dalam cerita yang terlupakan oleh sejarah, dalam bisikan yang tak lagi diajarkan di sekolah-sekolah digital, terdapat kisah tentang tiga belas penuntun. Mereka bukan penyihir. Bukan pula dewa. Mereka adalah manusia terpilih yang mampu merasakan luka dunia. Yang kekuatannya muncul bukan karena teknologi, tapi karena koneksi mereka pada inti kehidupan.
"Maestro adalah suara dari kehendak dunia. Kau adalah suara itu, Hoshi."
Kakek itu menyodorkan tongkat. Bukan tongkat sihir. Hanya sebatang kayu tua, berat, dan penuh ukiran. Tapi saat menyentuhnya, Hoshi bisa merasakan sesuatu bergerak dalam dirinya. Nyala yang dulu liar, untuk pertama kalinya ia merasakan nyala itu terasa hangat, tidak lagi membakar.
"Kalau aku satu dari mereka..." bisik Hoshi. "Di mana yang lain?"
Kakek itu tersenyum tipis.
"Mereka tersebar. Di tempat yang bahkan cahaya pun takut menjangkaunya. Tertutup oleh luka dan tak percaya bahwa mereka penting."
"Temukan mereka. Bantu mereka percaya."
Malam itu, tanpa Hoshi sadari, Nyala yang kembali hidup di dalam dirinya, juga turut menghidupkan satu berkas cahaya di atas sebuah tongkat.
Cahaya itu bermula redup, samar, lalu perlahan semakin terang.
Satu cahaya kembali pada tempatnya.
To be continued...
****
Vii
>>>>
Kisah ini sudah tersedia dan selesai. Penulis hanya perlu merevisi dan mengedit ulang untuk penyesuaian.
Jika tertarik, penulis akan mempublish bab berikutnya secara bertahap.
Please vote!
YOU ARE READING
MAESTRO
AdventureSeventeen fanfiction. * * "Dunia tidak rusak dalam satu malam, tapi ketika manusia lupa bagaimana caranya merasa, segalanya mulai padam." Dalam dunia yang dikendalikan teknologi dan kekuasaan tanpa batas, manusia hidup di bawah bayang-bayang mesin...
