16 Desember 2020.
Hari itu adalah hari yang menyakitkan untukku. Suara tangisan dan teriakan didalam ruangan persalinan, aku bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang dialaminya.
Diluar sedang hujan lebat dan petir yang menggelegar, menambah rasa takut akan dunia luar.
Aku duduk termenung didepan ruang persalinan, menunggu sampai akhirnya aku mendengar suara tangisan bayi mungil.
Apakah itu dia?
Apakah itu bayi yang akan dianggap sebagai aib keluarga?
Ruang pintu persalinan terbuka, menampakan seorang dokter yang baru saja keluar, dia berjalan mendekat dan tersenyum padaku.
"Selamat, kakakmu melahirkan bayi perempuan yang sehat dan kakakmu juga baik-baik saja. Kamu boleh mengunjunginya" ucap sang dokter padaku.
Aku bernafas lega mendengar bahwa kakakku baik-baik saja. Lantas aku langsung berlari masuk keruangan.
Aku melihat kakakku tengah menggendong bayi perempuan itu. Tapi aku bisa melihat kesedihan daa kekecewaan didalam matanya.
Aku tahu semua yang terjadi, aku tak bisa menyalahkannya karena itu jelas bukan salahnya. Tapi bajingan sialan itu, bajingan yang saat ini mendekam dipenjara untuk seumur hidupnya.
"Kak, kau baik-baik saja kan? Aku sudah mendengarnya, dan bayimu cantik" ucapku sambil menahan rasa tangis.
Aku tak boleh menangis didepannya, aku tak boleh terlihat lemah. Aku harus kuat untuknya.
Kakakku hanya menatapku, aku tahu tatapan itu. Dia tak menginginkan bayi itu, dan aku tahu alasannya.
"Anne, tolong katakan permintaan maafku pada ayah dan ibu, pada Evan juga. Aku tak pantas disini, tolong jaga bayi ini untukku. Dia tak bersalah, aku yang salah" ucapnya sambil menatap bayi mungil yang terlelap dipelukannya.
Aku menggeleng pelan, "itu bukan salahmu, kau dan bayi ini tak bersalah sedikitpun. Yang salah adalah bajingan sialan itu" ucapku menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk mataku.
Aku lantas memelukku kakakku, karena aku tahu ini adalah hal terberat dalam hidupnya. Menanggung rasa malu, ketakutan dan kesedihan serta kekecewaan yang mendalam.
Setelah beberapa waktu, kakakku dan bayinya dibawa keruang perawatan.
Aku sudah menelpon ayah dan ibuku tapi mereka seolah enggan untuk datang. Seolah kakakku adalah aib besar bagi keluarga. Sejujurnya memang.
Saat ini aku tengah berada dikantin rumah sakit, hanya untuk membeli beberapa makanan dan kembali ke ruang perawatan.
Aku masih selalu berpikir, kesalahan besar apa yang dilakukan keluargaku hingga kakakku harus menanggung hal berat dalam hidupnya.
Setelah beberapa saat, aku kembali ke ruang inap. Tapi aku tak menemukan keberadaan kakakku. Bayi mungil itu ada diranjangnya menangis.
Tapi dimana ibunya?
Dimana kakakku?
Dimana Jessica?
Aku mulai mencari dan memanggilnya, hingga akhirnya mataku terpaku pada sosok wanita dengan pakaian pasiennya dan rambut panjangnya yang lusuh.
Berdiri menatapku dengan perasaan sedih dan rasa sakit. Aku mulai mendekatinya dan aku terpaku pada apa yang dia lakukan. Berdiri diatas pagar balkon rumah sakit lantai tujuh.
"Jessica? Kakak apa yang kau lakukan disana?!" tanyaku sambil berteriak.
Dia tak menjawab dan hanya menangis.
Aku berjalan mendekatinya, namun tertahan dengan kalimat yang diucapkannya.
"Jangan mendekat Anne!! Aku tahu ini salah, tapi aku tak bisa bertahan lagi. Aku benci dengan dunia ini, aku sakit, aku kotor dan menjijikan. Aku tak pantas untuk hidup didunia ini lagi. Tolong maafkan aku yang selalu menyusahkanmu Anne, maafkan kakak!" ucapnya sambil terisak.
"Tidak, kau tak bersalah. Aku masih membutuhkanmu, aku sangat menyayangimu. Tolong jangan lakukan itu" kataku sambil berjalan mendekatinya.
"Anneliese Ivory Keynes, tolong katakan permintaan maafku pada ayah dan ibu. Pada Evan juga, karena aku telah mengkhianatinya. Tolong jaga bayi itu...selamat tinggal..."
"JESSICA!!!!!"
Tbc..
YOU ARE READING
The Butterfly
General FictionJadi Evan itu sakit karena dia harus kehilangan gadis yang dicintainya meninggal bunuh diri. Tapi jadi Anneliese lebih sakit, karena dia harus menyaksikan kakak perempuannya meninggal bunuh diri tepat dihadapannya. "Anne, tolong maafkan kakak dan to...
