"Bukan karena seseorang pergi... tapi karena dia pergi tanpa menjelaskan. Dan aku, tetap diam. Menunggu, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang kutunggu."
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rumah itu masih berdiri di tempatnya. Tapi tidak untuknya. Tidak ada yang benar-benar pulang jika hatinya telah pergi lebih dulu.
Anneth duduk di sudut ranjang, membiarkan layar ponselnya menyala tanpa suara. Malam-malam terakhir selalu seperti ini—hening, penuh bayang-bayang, dan penuh tanya yang tak pernah benar-benar mendapat jawaban.
Pernah ada hari di mana pesan dari seseorang bernama Elvar membuat matanya berbinar. Sekarang, setiap getar hanya mengingatkannya bahwa tak semua yang pernah dekat akan tetap tinggal. Kadang orang berubah, dan lebih sering: mereka tak memberi tahu kalau mereka telah berubah.
Ia masih mengingat semua dengan jelas. Bagaimana hujan pertama membawa pertemuan mereka, dan bagaimana hari-hari berikutnya dipenuhi tawa yang kini terasa seperti milik orang asing.
Elvar.
Nama itu seperti gema di lorong-lorong kosong dalam dirinya. Seseorang yang tak pernah benar-benar menjanjikan apa-apa, tapi membuat Anneth diam-diam berharap lebih dari segalanya. Seseorang yang mengajaknya membuat rumah bersama, lalu pergi tanpa membalikkan badan.
Malam itu, Anneth menuliskan satu kalimat di memo kuning dan menempelkannya di dinding kamarnya:
"come home."
Bukan hanya untuk Elvar, tapi untuk dirinya sendiri.
Untuk bagian jiwanya yang hilang sejak kepergian itu.
Untuk tawa yang tak pernah utuh kembali.
Untuk luka yang tak bisa dilupakan hanya karena waktu berjalan.
Suara angin malam menyusup lewat celah jendela yang tak rapat. Dingin. Tapi tidak lebih dingin dari pesan singkat terakhir yang Anneth terima dua minggu lalu. Hanya dua kata: "maaf, ya."
Bukan karena dia bersalah. Tapi karena dia tidak cukup peduli untuk menjelaskan.
Dan bukankah itu yang paling menyakitkan?
Bukan karena seseorang pergi—melainkan karena ia pergi tanpa merasa perlu membawa penjelasan. Seakan kehadiranmu bisa dibungkam hanya dengan diam, dan semua yang pernah kalian bangun bisa runtuh hanya karena ia sudah bosan berdiri di sisimu.
Anneth menoleh ke arah dinding. Memo kuning itu tetap di sana, tak bergeming. "come home."
Tiga huruf pertama yang menggantungkan harap, dan dua kata terakhir yang menggambarkan kerinduan paling sederhana yang bisa dimiliki seorang manusia—keinginan untuk pulang.
Tapi bagaimana jika tempat yang ingin kau jadikan rumah, justru memilih menjadi jalan?
Ingatannya menari tanpa irama—kacau, acak, dan menyakitkan. Ia melihat dirinya beberapa bulan yang lalu, duduk di bangku taman dengan secangkir kopi hangat di tangan, menunggu Elvar yang datang telat tapi tetap disambut senyum. Ia ingat bagaimana Elvar menggenggam tangannya dan berkata, "aku suka caramu diam."
Sekarang, Elvar juga diam. Tapi bukan karena suka.
Hening bisa berarti nyaman, atau bisa juga pertanda bahwa seseorang telah selesai bicara. Anneth belum selesai. Tapi Elvar sudah lebih dulu menutup pintu.
Ia bangkit dari ranjang dan berjalan ke jendela. Lampu dari gedung seberang memantul di matanya. Ada siluet seseorang di balik kaca sana, samar-samar berdiri seperti bayang masa lalu yang enggan benar-benar lenyap.
Anneth tak tahu siapa orang itu, tapi ia menatap lama.
Mungkin karena bagian dirinya berharap... orang itu adalah Elvar.
Meski ia tahu, bahkan jika Elvar benar-benar kembali, rumah ini tidak akan pernah sama.
Rumah bukan hanya tempat untuk pulang—tapi tempat yang bersedia menyambutmu meski kau telah berkali-kali mengecewakannya.
Dan Anneth mulai sadar, mungkin yang harus ia temukan...
bukan Elvar.
Tapi dirinya sendiri.
"Aku tidak sedang menunggumu. Aku hanya sedang mencoba meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku bisa melupakanmu—tanpa perlu menghapus kenangan kita."
Hujan turun malam itu. Bukan hujan yang deras, tapi cukup untuk membuat Anneth teringat akan satu sore yang jauh—saat Elvar pertama kali datang dalam hidupnya.
Ia sedang duduk sendiri di taman kampus, membaca buku yang bahkan ia tak terlalu pahami isinya. Bukan karena sulit, tapi karena pikirannya terlalu riuh oleh dunia yang tak bisa dia ceritakan pada siapa pun. Elvar muncul di antara gerimis, mengenakan jaket hitam dan membawa secangkir kopi dua gula—yang entah bagaimana ia tahu, adalah kesukaan Anneth.
"Kamu kelihatan kayak orang yang nunggu seseorang," kata Elvar kala itu.
Anneth mengangkat wajahnya. "Mungkin aku lagi nunggu diriku sendiri."
Dan saat itu, Elvar tertawa kecil. "Kalau gitu aku temenin, sampai kamu ketemu dia."
Itu adalah awal dari segalanya.
Sekarang, Anneth memejamkan mata, membiarkan hujan malam ini membawa ingatan itu mengalir kembali. Ia mencoba mengingat rasa hangat dari kopi yang Elvar berikan. Tapi yang lebih membekas justru suara Elvar, caranya menyebut namanya, caranya menyentuh lengannya pelan setiap kali Anneth merasa runtuh.
Apa semuanya palsu? Atau hanya berubah?
Ia tak pernah tahu.
Dan Elvar tak pernah menjelaskan.
Di meja kecilnya, ponsel Anneth kembali menyala. Satu pesan masuk. Tapi bukan dari Elvar. Dari Dara.
"Kalau kamu masih nunggu dia, kamu bakal terus nyakitin diri sendiri, Neth."
Anneth tak langsung membaca sisanya. Ia hanya menghela napas. Ia tahu Dara benar. Tapi tahu bukan berarti siap. Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, ia tetap duduk dalam diam. Masih dengan memo come home di dinding, dan secangkir teh dingin yang ia buat untuk seseorang yang tak pernah datang.
"Mungkin aku terlalu lama menunggu, sampai akhirnya aku lupa seperti apa rasanya ditunggu."
CITEȘTI
HIRAETH - luka yang dipeluk -
DragosteAnneth, gadis berusia dua puluh tahun, sedang berusaha memahami cinta yang perlahan berubah menjadi sunyi. Elvar, lelaki yang ia tunggu, sibuk mengejar masa depan-dan lupa cara pulang. Di antara jeda, pesan yang tak dibalas, dan rasa yang makin bera...
