---
Rumah Tanpa Suara Lembut
Langit pagi selalu sama di rumah itu. Biru pucat membentang luas, menandakan hari yang baru, tapi tak pernah benar-benar berbeda. Cahaya matahari menelusup perlahan melalui celah tirai jendela kamar Keynanta, membentuk pola terang di lantai kayu yang mengilap. Pola itu selalu berpindah tempat seiring waktu, tapi entah kenapa, Keynanta merasa cahayanya tetap. Diam. Seperti rumah ini. Bersih, luas, dan tenang-terlalu tenang.
Di meja makan yang besar, hanya ada satu kursi yang terisi. Keynanta duduk di sana, masih mengenakan piyama. Di depannya, semangkuk nasi yang mulai dingin, terapung di genangan sup. Tangannya menggenggam sendok, tapi tidak segera menyendok. Ia hanya menatap semangkuk itu, seolah berharap sesuatu muncul dari dalamnya-suara, mungkin. Kehangatan. Atau sekadar kehadiran.
Sendok akhirnya bergerak. Menyentuh mangkuk dan menghasilkan bunyi logam kecil yang bergaung di ruang makan yang terlalu hening. Suara itu memantul di dinding, mengisi ruang, lalu menghilang begitu saja, seperti suara lain yang pernah ada di rumah itu-pernah, dan kemudian tak pernah kembali.
Dari ruang TV, suara langkah kaki terdengar. Cepat, tergesa, seperti selalu terlambat. Itu pasti mami. Langkahnya berputar-putar, berhenti sebentar, lalu berjalan lagi, lalu diam. Tak ada sapaan manis dari depan. Tak ada "selamat pagi", atau pertanyaan sederhana seperti "sudah bangun?". Hanya derit pelan pintu kamar yang menutup,dan berteriak, " cepat nanti telat" seolah dunia berkata:
"Hari ini dimulai, tanpa suara yang lembut."
Papi? Ia sudah pergi. Pagi-pagi sekali, seperti biasa.aku melihatnya dari balik gerguji besi yang berlubang kecil, dan menatap sekolah yang dipimpinnya, di atas meja makan, tepat di sebelah semangkuk nasi yang sekarang sudah tak mengundang selera, aku hanya mendengarkan suaranya dari toa sekolah dan berbicara seperti pemimpin terbaik tetapi gagal memimpin anaknya, "hey itu ngapain, hey jangan buang sampah sembarangan, hei hei hei dan hei, tanpa pernah bertanya pada ku, hei nak itu lagi ngapain?"
"Jangan lupa sarapan. Semangat sekolah.
Love, nak." kalimat yang sejak lahir selalu asing di pikiran ku, bahkan kalimat "nak" yang sama sekali tak pernah ada dalam telinga kecil ku yang yang diam tak akan bersuara.
Kata-kata itu adalah hal yang menjadi mimpi terbesar dalam hidupku sampai aku dewasa,bajunya selalu rapi, penuh perhatian banyak orang, tapi tak pernah ku dapat sebagai anak. Keynanta segera bergegas ke sekolah,namun dia selalu berhenti di suatu sudut yang tak pernah ia lewati, ia selalu berhenti di sudut itu setiap ingin pergi ke mana pun, bahkan setiap ia ingin pulang. Ia menatap foto itu,foto yang terjadi jauh jauh hari, lalu tersenyum pelan-pelan dan mulai melangkahkan kakinya ke luar. Entah kenapa, ia selalu menyimpan kenangan kecil dari foto foto itu. Mungkin karena itu satu-satunya senyum yang masih tersisa, yang sangat sulit ia dapatkan dari sosok papi untuk dirinya.
Keynanta anak tunggal. Satu-satunya. Harapan keluarga, kata orang-orang. Tapi semakin ia tumbuh, semakin samar arti dari semua itu. Semakin ia mengerti bahasa dunia, semakin ia merasa... sendirian. Seperti ada dinding tak terlihat antara dirinya dan orang-orang di sekelilingnya. Dinding itu tidak keras, tidak kasar. Tapi tinggi. Sangat tinggi. Dan tembus pandang. Semua orang bisa melihat dirinya-tersenyum, duduk manis, rajin belajar. Tapi tidak ada yang bisa benar-benar mendengar isi hatinya. Tidak ada yang tahu, bahwa setiap pagi dimulai dalam hening, dan setiap malam berakhir tanpa pelukan.
Di rumah itu, semua sempurna. Kursi tersusun rapi, karpet bersih tanpa noda, lampu gantung berkilau di langit-langit. Tapi tak ada tawa. Tak ada suara lembut yang terjadi. Tak ada percikan kecil dari hal-hal remeh yang biasanya mengisi rumah. Seperti, "bagaimana sekolahmu hari ini?", atau, "kamu mau makan apa malam ini?". Hal-hal kecil, yang sekarang hanya tinggal gema dalam ingatan Keynanta.
YOU ARE READING
Anak Tunggal dan Lukanya - Edisi 1
Non-FictionKeynanta Argantara, seorang gadis remaja anak tunggal, tumbuh dalam rumah yang hangat namun sunyi. Di balik segala fasilitas yang ia miliki, ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh boneka, buku, atau layar gawai. Ia terbiasa sendiri-makan sendiri...
