Rumah Penuh Cinta

373 48 5
                                        

Bab 1: Rumah Penuh Cinta

Pagi di rumah terasa riuh. Semua orang sudah bangun, dan meja makan dipenuhi dengan suara tawa dan obrolan ringan. Di tengah semua itu, Freya, si bungsu yang selalu jadi pusat perhatian, baru saja keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan.

“Freyaaaaaa!”
Shani, si kakak yang paling serius, sudah berdiri di dapur, memanggilnya dengan nada tegas.
“Ayo bangun, udah jam tujuh!”

“Iya, Cici. Aku bangun kok,” jawab Freya malas, meski matanya masih setengah terpejam.
Dia berjalan pelan menuju meja makan dan langsung duduk.
“Aku nggak mau sekolah deh, Cici. Terlalu pagi…”

“Bangsaaatttt…”

Gracia, si kakak yang selalu tegas, mencibir.“Kamu udah bangun setengah jam yang lalu, Freya.”

“Tapi aku masih ngantuk…”
Freya menggeliat di kursinya, memelas.
“Lima menit lagi, Cici. Aku tidur lagi deh.”

“Udah, jangan malas,” kata Jinan, yang sudah duduk di sebelahnya dengan wajah serius.

“Kamu harus lebih disiplin, Freya.”

“Disiplin? Kalau di rumah juga harus disiplin gitu?” Freya pura-pura bingung, tapi senyum tipis terukir di bibirnya.

“Freya, kamu bener-bener bikin aku pusing,” kata Chika, sambil tertawa.
“Masa segitu susahnya bangun pagi?”

“Udah lah, kita kasih dia waktu. Kalau dipaksa, malah makin lama,” ujar Ashel, yang langsung mendekat dan memeluk Freya dengan erat.

“Aku mau peluk-peluk dulu, Cici. Biarkan Freya tidur.”

Zee, yang duduk di ujung meja, ikut bersuara.

“Freya, ayo dong! Nanti Cici nggak sabar banget.”

“Oke, oke, siap!”

Freya akhirnya bangkit dan berjalan ke kamar mandi.

“Tapi aku minta tambahan waktu 5 menit!”

“Nggak ada waktu tambahan, Freya!” ucap Gita,dengan nada datar

“Kamu harus belajar disiplin, biar nanti nggak keteteran.”

“kak Gita... jangan galak gitu,” kata Freya sambil tersenyum, meski masih merasa tertekan.

“Gak galak, cuma kasih tahu aja,” jawab Gita, sambil memandang Freya dengan tatapan serius.

“Pokoknya, hari ini kamu harus lebih siap, ya?”

“Oke, Cici, aku janji!” jawab Freya dengan antusias, meskipun dia tahu dirinya pasti akan mengulanginya lagi keesokan hari.

Begitu kembali ke meja makan, semua sudah selesai makan dan siap berangkat. Shani sudah mengenakan jas dan menunggu di depan pintu.

“Ayo, Freya, kita berangkat. Gak mau telat kan?”

Freya mendekat dengan langkah terburu-buru.

“Aku buru-buru, Cici! Tapi... aku masih belum siap!”

“Pilih, Freya. Cepat atau siap?”
Shani sudah menatap jam tangannya, terlihat sedikit kesal tapi tetap sabar.

“Cepat, deh!” Freya akhirnya berlari keluar, meski sedikit terburu-buru, dengan rambut yang masih sedikit acak-acakan.

Di luar, udara pagi begitu segar. Mobil sudah siap di depan pintu. Shani mengemudi dengan serius, dan Freya duduk di sampingnya, sambil sesekali mengedipkan mata dengan malu.

“Cici, makasih ya udah antar aku!”

“Iya, tapi jangan sering-sering telat. Kalau nggak, aku nggak antar lagi!”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 10, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Dearest FreyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang