Chapter 01

10 1 0
                                        

Langit yang gelap tak ada bintang yang bertebaran di awan malam dan bulan yang entah bersembunyi dimana, hanya suara gemuruh petir dan guyuran hujan membasahi jalanan kota Madiun. Di dalam kamar yang hanya ditemani cahaya dari lampu meja belajar–Merbabu Kairin kini tengah sibuk dengan tumpukan buku mata pelajaran dan kertas yang berhamburan di sekitar meja belajarnya.

Merbabu Kairin–atau yang lebih sering dipanggil Kairin–adalah salah satu siswa yang terpintar dan berprestasi di sekolahnya. Bahkan ia terkenal populer karena namanya yang nyaris selalu disebut saat pengumuman lomba atau penyerahan piala saat upacara.

Selain ditemani dengan suara gemuruh dan rintikan hujan Kairin juga ditemani oleh suara musik yang mengalun dari earphone bluetooth yang tersambung dari laptopnya, entah keberapa kalinya Kairin mengulang-ulang lagu About You by The 1975.

Setelah seharian penuh dengan aktivitas, mulai dari sekolah pagi hingga mampir beli cemilan sepulangnya, Kairin masih harus menghadiri dua tempat les. Sore menjelang malam, ia melanjutkan belajar di rumah setelah makan malam. Tubuhnya mulai terasa lelah, matanya pun perlahan mengantuk.

“Lah anjir, udah jam dua belas malam?”

Monolognya sendiri dengan nada yang terkejut, pasalnya Kairin baru mempelajari satu mata pelajaran saat dirumah, sedangkan besok ada dua mata pelajaran untuk ujian. Ini juga karena kelalaiannya karena terlalu sering menyanyikan reff lagu About You by The 1975.

Akhirnya Kairin memutuskan untuk beristirahat dan kembali belajar besok saat di sekolahan. Sebelum menuju ranjang empuk dan memeluk nyinying–si boneka kesayangannya, Kairin membereskan kertas kertas yang berserakan dimana mana, lalu mematikan musik, mengisi daya handphonenya, lalu melakukan rutinitasnya alias skincare-an. Dan barulah ia pergi menidurkan tubuh kecilnya keranjang yang empuk dan memeluk boneka kesayangannya yang berbentuk seperti kucing berwarna kuning dengan jahitan dimana mana, karena itu adalah boneka yang sudah ia anggap teman sejak kecil.

Pagi yang sejuk karena pemandangan sekitar dipenuhi dengan embun tebal. Setelah makan pagi Kairin segera pergi dengan ayahnya dan adiknya, ayahnya–Abimanyu Sagara, ia harus cepat cepat mengantarkan kedua anaknya yang sedang memiliki jadwal ujian semester akhir di hari yang sama.

Seperti biasa yang diantar duluan adalah Kairin dan barulah adiknya–Amelia Permata yang kini tangah menduduki kelas 5 SD.

Dengan langkah yang terburu buru Kairin pergi menuju kelasnya untuk melanjutkan belajarnya yang belum selesai. Saat berjalan menuju loker miliknya ia tak sengaja menabrak laki laki yang memiliki badan yang tegap dan lebih tinggi dari Kairin hingga membuat barang yang berawal di dekapan Kairin kini beralih berserakan di lantai lorong sekolah.

“Aduh! Maaf! Maaf gue lagi buru buru,” ucap Kairin gugup, matanya tak berani menatap seorang yang ditabraknya. Sedangkan tangannya sibuk mengambil barang-barang miliknya yang berjatuhan di lantai.

“Gapapa santai aja,” jawab laki laki tersebut yang ikut jongkok membantu Kairin memunguti barang miliknya. Suaranya tenang, senyum tipis terselip di wajahnya

“Nih, lain kali hati hati kalau jalan. Jangan buru buru ntar ada siput lo injek, rumahnya pecah,” katanya sambil menyerahkan barang bawaan Kairin.

“Eh.. makasih, maaf ngerepotin.”

“Iya sama sama, ga ngerepotin kok, kalau gitu gue pergi dulu ya.”

Baru satu langkah Kairin tempuh ia mendapati pin name tag khas milik sekolahnya.

“Merapi Pradipta?”

Saat Kairin menolehkan pandangannya ke arah belakang ia sudah tak mendapati laki laki yang barusan ia tabrak. Kairin yakin, pin name tag itu miliknya.

“Kasihkan besok ajalah, kalau sempet,”  gumamnya pelan, sambil menatap name tag di tangan. Jari-jarinya masih memainkan name tag yang tadi jatuh. Ada sedikit rasa penasaran yang belum tuntas.

Ia berlenggang menuju kelas, kali ini dengan langkah yang lebih hati-hati—dan sedikit rasa penasaran tentang si pemilik nama, Merapi Pradipta.

⛰️⛰️

Merapi Pradipta atau yang lebih akrab di panggil Dipta, kini ia sedang berjalan menuju kelasnya. Bukan untuk belajar pastinya, ya tentu saja untuk membahas tentang acara memuncaknya bersama teman-temannya. Memang tujuan mereka setelah ujian selesai Dipta dan teman temannya akan pergi memuncak di gunung Semeru, Jawa Timur.

“Woy! Dip!” panggil salah satu teman Dipta yang bernama Satya Widatama.

Yang merasa terpanggil segera menuju ke pojokan kelas untuk menghampiri segerombolan teman temannya. Satya, Arjuna, dan Hisyam, mereka lah teman teman Dipta yang sering pergi memuncak dengannya.

Sekarang lengkap sudah pertemanan pecinta muncak gunung berkumpul.

“Ntar gimana muncaknya? Jadi ke Semeru?” Tanya Hisyam sebagai pembuka obrolan mengenai kegiatan mereka setelah ujian akhir semester, toh biasanya juga akan libur panjang.

“Iya jadi, ntar naik kereta dari Madiun terus ke Malang lanjut ke Ranu Pani naik taxi. Gimana? Setuju ga?” Timpal Dipta.

Perbincangan pembahasan tentang tujuan mereka yang akan pergi memuncak terus mengalir. Di tengah perbincangan mereka Dipta malah sibuk merogoh kerah seragamnya. Dahinya berkerut, gerakannya pelan tapi terlihat gelisah.

“Eh, kenapa lo, Dip?” tanya Arjuna, memperhatikan pergerakan Dipta yang mendadak kikuk dengan raut wajah gelisah.

Dipta tidak langsung menjawab. Tangannya kini menyusuri saku kiri dan kanan, lalu menyentuh bagian dada seragamnya lagi. Kosong.

“Mampus! Name tag gue... hilang,” gumamnya lirih, lebih ke diri sendiri.

Obrolan pun seketika melambat. Satya mendongak, lalu bertanya pelan, “Hah? Serius?”

Dipta mengangguk pelan. Ingatannya mundur cepat, membelah peristiwa pagi yang terburu-buru dan tabrakan kecil di lorong sekolah.

Dipta masih diam. Wajahnya mematung sambil menatap kosong ke arah meja. Pikirannya masih sibuk memutar ulang kejadian tadi pagi. Tabrakan, barang- barang dan alat tulis yang jatuh, cewek yang buru-buru, dan... pin name tag yang mungkin terjatuh waktu itu.

“Udahlah, paling juga jatuh di rumah atau di jalan,” kata Satya mencoba menenangkan. “Paling kalau bukan di tas lo, ya nyangkut di jemuran.”

Tapi Dipta hanya menggeleng pelan. “Enggak, gue inget banget tadi sempet tabrakan sama cewek. Kayaknya... jatuh waktu itu.”

“Cewek yang mana?” tanya Arjuna sambil nyengir.

Dipta baru mau menjawab, tapi mengurungkan niatnya. Entah kenapa, gambaran gadis tadi—dengan rambut diurai panjang, wajah sedikit panik, dan suara yang terburu-buru masih jelas di ingatannya. Belum sempat dia tanya namanya.

“Kalau bener dia yang nemu,” gumam Dipta pelan sambil menyandarkan tubuh ke kursi, “semoga dia balikin.”

Hisyam nyeletuk cepat, “Atau jangan-jangan... jodoh?”

Teman-temannya langsung tertawa lepas, berbeda dengan Dipta, ia cuma menghela napas. Matanya menatap langit-langit, mencoba mengusir pikiran random yang mulai muncul.

Tapi tetap saja—entah kenapa, pagi ini terasa agak berbeda. Lebih ribut, lebih ramai... dan detak jantungnya sedikit lebih berdetak tak karuan dari biasanya.

Merapi & MerbabuDonde viven las historias. Descúbrelo ahora