"Dan sebelum aku mengenal mereka, aku lebih dulu hilang dalam diriku sendiri."
———
Chapter 1. Bangku Belakang Busway.
Pagi itu, jalanan tampak basah. Sisa hujan yang turun semalaman masih menempel di trotoar dan aspal. Udara kota agak dingin, namun cukup bersahabat untuk memulai hari. Selina melangkah pelan, suara tapak sepatunya yang beradu dengan permukaan jalan yang sedikit licin, mengisi sunyi dengan ritme kecil yang tenang.
Sesampainya di halte busway, selina menghela napasnya pelan. Matanya mengamati hiruk pikuk di sekeliling—kendaran yang melintas cepat di jalan raya, orang-orang yang terlihat sibuk sambil memegangi gelas kopi yang masih mengepul, suara anak sekolah yang tumpang tindih dengan bunyi klakson. Lumayan penat sebenarnya berjalan dari kosannya kesini, tapi tak apa. Selina selalu menyukai suasana pagi, momen dimana dunia terasa sedikit lebih pelan dan ia bisa jadi penonton.
Hari ini, Selina mengenakan jeans biru favoritnya—warnanya sudah sedikit usang karena terlalu sering dipakai sejak menjadi mahasiswa baru—dipadukan dengan kemeja putih longgar yang terasa nyaman dan tak pernah gagal menyelamatkan pagi yang buru-buru. Totebag kanvas menggantung di bahu kirinya, berisi pouch makeup dan jurnal harian bersampul biru tua—barang bawaan wajib kemanapun ia pergi. Rambutnya yang sudah mulai panjang dikuncir asal, headset menyumpal telinga—memutar playlist acak yang terasa pas, dan kepalanya yang masih penuh dengan sisa-sisa mimpi semalam.
Tapi, ah… rasanya tak perlu terlalu detail mendeskripsikan Selina. Untuk apa? Siapa juga yang akan memperhatikan? Hal-hal kecil seperti itu bukankah memang seharusnya dilewati begitu saja?
Busway datang dengan suara decitan halus. Mesin kendaraan itu mengalahkan suara keramaian. Pintu terbuka, beberapa penumpang turun, dan Selina naik tanpa banyak pikir. Di dalam, suasana agak sesak. Beberapa duduk di kursi depan, sisanya berdiri sambil menggenggam pegangan yang tergantung di langit-langit busway.
Selina langsung mengambil tempat di bangku paling belakang, duduk tepat disamping jendela yang masih menyisakan uap embun dari sisa hujan. Ia menyender pelan, menikmati segala yang bisa diamati, tanpa perlu terlihat. Di telinganya, lagu dari Bon Iver mulai mengalun—mengisi sela sunyi yang tak sempat dibicarakan.
And at once, I knew
I was not magneficent
Strayed above the highway aisle
Jagged vacance, thick with ice
But I could see for miles, miles, miles
Busway melaju tenang, membelah jalanan pagi. Membawanya menuju toko buku kecil di ujung kota Senaya. Rasanya seperti deja vu. Jalur yang sama. Orang-orang yang mirip. Lagu yang itu-itu lagi. Dan tetap saja—tak ada yang spesial.
Dan kisah ini, dimulai dari sini—dari bangku belakang busway, tempat rutinitas dan kemungkinan saling bersilangan. Karena sejatinya, setiap hari adalah cerita baru yang tak pernah bisa ditebak.
Waktu terus berjalan, tak terasa tepat di menit ke tiga puluh, busway berhenti di halte terakhir seperti biasanya. Selina berdiri pelan, membiarkan beberapa penumpang lain turun lebih dulu, lalu melangkah keluar. Udara luar sudah mulai menghangat, meskipun sisa lembab pagi masih terasa di angin yang menyapu wajahnya.
Ia berjalan menyeberangi gang kecil, melewati jejeran ruko yang perlahan mulai membuka pintu. Toko buku tempatnya bekerja berada di ujung blok, berdampingan dengan sebuah kafe kecil yang menjual dessert dan bunga segar. Lonceng kecil diatas pintu toko berdenting lembut saat ia mendorong pintu kayunya—suara khas yang tak pernah gagal membuatnya merasa pulang.
"Jam delapan tiga puluh, tepat waktu seperti biasa," ujar Rosetta—rekan kerjanya selama setahun terakhir, sekaligus pemilik toko buku ini. Kecintaannya pada buku membuat Rose—begitu Selina memanggilnya—lebih memilih membuka bisnis kecil ini, daripada harus bergulat dengan tumpukan dokumen magang di perusahaan milik orang tuanya.
YOU ARE READING
Between the Lines
ChickLitIa tidak pernah benar-benar jadi pusat cerita. Hanya seseorang yang lewat di halaman orang lain, lalu diam-diam tenggelam di bab miliknya sendiri. Pagi-pagi yang tenang. Busway yang sama. Toko buku kecil di ujung kota. Dan hari-hari yang berjalan se...
