Lampu-lampu neon di langit-langit klub malam itu berkelap-kelip seperti bintang jatuh yang mabuk. Musik EDM menggetarkan dada, bass-nya seperti mengguncang tulang rusuk. Di salah satu sudut VIP, tiga pria muda duduk santai sambil dikelilingi minuman mahal dan wanita cantik.
"Gila sih ini tempat makin pecah aja, Zavv," kata Juan sambil menenggak whiskey-nya, matanya menelusuri kerumunan. "Gue suka banget vibe-nya malam ini."
Zavv tertawa, menyender ke sofa empuk. “Gue tau selera lo, bro. Lo kan raja pesta. Asal ada cewek seksi, minuman, lo udah kayak di surga.”
Noah ikut menyahut, “Tapi serius, Juan. Lo tuh bener-bener parah. Belom lima menit di sini udah diliatin lima cewek. Gila lo.”
Juan nyengir, bibirnya mengembang penuh percaya diri. “Apa boleh buat? Gue emang magnet buat cewek-cewek. Mereka datang sendiri, gue tinggal pilih.”
Salah satu wanita malam dengan dress merah ketat mendekat dan duduk di pangkuan Juan. Ia merangkul leher pria itu sambil tersenyum menggoda.
“Hai, kamu keliatan tegang. Mau aku bantu lemesin dikit?” bisiknya.
Juan menoleh, matanya tajam tapi penuh minat. “Tegang? Lo bahkan belum nyentuh bagian yang bikin gue tegang.”
Zavv dan Noah tertawa keras.
“Fix. Lo emang anjing,” kata Zavv sambil mengacungkan gelasnya.
Wanita itu menarik tangan Juan dan mulai mengusap dadanya yang terbuka sedikit karena kemeja putihnya sengaja dibiarkan tanpa kancing atas.
“Lo bawa gue ke atas,” kata Juan pelan, suaranya dalam dan berat. “Kita ngobrol... lebih privat.”
Wanita itu hanya mengangguk dan bangkit, masih menggenggam tangan Juan. Dengan santai, Juan menoleh ke sahabat-sahabatnya.
“Gue duluan, bro.”
“Jangan sampe bikin dia jerit sampe manajer dateng,” Noah menggoda.
“Gue nggak janji,” balas Juan sambil menyeringai dan mengikuti si wanita ke arah tangga menuju kamar VIP lantai dua.
---
Kamar VIP – Club Midnight
Pintu tertutup. Lampu redup menyala, hanya temaram cahaya biru dari dinding. Musik samar terdengar dari bawah, tapi suasana di dalam kamar jauh lebih panas.
Wanita itu mendorong Juan ke sofa besar, kemudian duduk di pangkuannya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman penuh gairah—liar, panas, dan rakus.
Tangan Juan meremas pinggang rampingnya, menariknya lebih dekat. Sementara tangannya yang lain menyusuri punggung sang wanita, membuka resleting gaun merah yang langsung jatuh ke lantai.
“Lo seksi banget,” bisik Juan di telinganya sebelum melumatnya dengan gigitan ringan.
Wanita itu mendesah, tangannya sudah membuka kancing kemeja Juan satu per satu. “Gue udah pengen dari tadi ngeliat badan lo.”
“Pengen?” Juan membalikkan tubuh wanita itu hingga ia bersandar di sofa, tubuh Juan menindihnya. “Gue bakal kasih lo lebih dari yang lo pengen.”
Ciuman mereka semakin dalam, nafas tersengal. Juan menurunkan kepalanya ke leher wanita itu, menjilat, menggigit lembut, meninggalkan jejak merah. Wanita itu merintih pelan, tangannya mengacak rambut Juan, kakinya melingkar di pinggangnya.
Satu demi satu pakaian mereka lepas, berserakan di lantai marmer mewah. Juan menatap wanita itu yang kini terbaring di bawahnya, hanya berselimut kulit mereka yang saling menyentuh.
“Siap?” tanya Juan dengan napas berat.
Wanita itu mengangguk sambil menarik kepala Juan turun untuk kembali mencium bibirnya. Malam itu menjadi milik mereka. Milik Juan. Karena seperti biasa, ia selalu mendapatkan apa yang ia mau.
---
Setelah waktu berlalu, Juan terbaring dengan tangan di belakang kepala. Wanita itu bersandar di dadanya, masih kehabisan napas.
“Lo hebat,” gumamnya.
Juan hanya tersenyum miring. “Gue tau.”
Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya, dan menatap langit-langit sambil menghembuskan asap perlahan. Baginya, ini cuma satu malam lagi. Satu dari banyak malam liar yang mengisi hidupnya. Tapi ia tak tahu... hidupnya akan segera berubah.
***
Gimana ceritanya seru mau dilanjutkan? Jangan lupa vote buat bab selanjutnya
YOU ARE READING
Sinful Obsession
RomanceSinful Obsession Juan Zealand, pewaris bisnis besar, hidup dalam dunia pesta, seks, dan godaan. Hidupnya tak pernah mengenal kata "cukup". Hingga sebuah perjodohan mempertemukannya dengan Christin Baravael-psikolog muda, cantik, dan juga pewaris kay...
