Di sebuah kantor desain grafis yang selalu sibuk, suasananya tak pernah sepi dari tawa dan canda ringan. Namun, di antara keramaian itu, ada dua sosok yang sering menjadi pusat perhatian: Choi San, pria tampan dengan sikap dingin yang berkesan tsundere, dan Karina Yoo, wanita cantik ceria yang selalu membawa energi positif ke sekelilingnya.
San dikenal sebagai pribadi tertutup yang sulit didekati. Ia lebih suka bekerja sendirian, jarang terlibat dalam percakapan jika tak diperlukan, dan sering kali terkesan kasar dalam obrolannya. Namun, di balik semua itu, hanya segelintir orang yang tahu bahwa ada sisi lembut dalam dirinya.
Sebaliknya, Karina adalah kebalikan dari San. Gadis ini penuh kehangatan, selalu ramah pada siapa saja, dan memiliki kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana dengan senyumannya yang menular. Meski hatinya tertarik pada San, Karina sepenuhnya menyadari bahwa pria itu bukanlah seseorang yang mudah didekati.
Pagi itu, Karina sibuk di mejanya, merancang ide desain untuk salah satu klien. Suara riuh kantor terasa mengalun seperti biasa hingga tiba-tiba sebuah kertas jatuh ke meja kerjanya. Tulisan di kertas itu cukup sederhana: "Bisa bantu aku desain logo ini? Tidak ada yang bisa aku andalkan selain kamu, Karina."
Karina tersenyum kecil. Sudah jelas siapa pengirimnya—San. Meski sering menunjukkan sikap tak butuh siapapun, San kerap mengandalkan Karina di saat-saat tertentu. Tanpa basa-basi, Karina membawa secarik kertas itu ke meja San dengan langkah ringan.
"Jadi, kamu butuh bantuan?" tanyanya dengan nada riang saat tiba di meja San.
San mengalihkan tatapannya dari layar komputer ke arah Karina tanpa ekspresi berarti. "Hmph, kalau kamu merasa bisa melakukannya, lakukan saja," balasnya datar, seperti biasa. Tapi jauh di lubuk hati, ia lega Karina segera datang tanpa perlu diminta dua kali.
Karina duduk tanpa ragu di sebelah San dan mulai membantu menyelesaikan desain itu. Dalam keheningan, keduanya berbagi ide sambil saling melengkapi detail demi detail. Gerakan tangan Karina cekatan, sementara San tetap fokus mengamati seperti biasa. Perlahan namun pasti, ketegangan di antara mereka mencair menjadi suasana yang lebih hangat meski San tetap menjaga ciri khas sikap acuh tak acuhnya.
Saat jam makan siang tiba, Karina seperti biasa mengajak San makan bersama. Awalnya tak ada jawaban dari San, namun ia mendadak bangkit dan mengikuti Karina keluar ruangan. Karina menoleh dengan senyum lebar. "Akhirnya kamu ikut juga! Kukira bakal nolak lagi," ujar Karina riang.
San hanya bergumam pelan. "Aku cuma lapar, itu saja."
Namun Karina tahu lebih dari itu. Meski San jarang menunjukkan perasaan secara terang-terangan, lewat tatapan lembut yang kadang mencuri-curi arah pandangnya pada Karina, ia bisa merasakan kepedulian pria itu—meskipun San sendiri enggan mengakui.
Hari-hari terus berlalu, dan meskipun San tetap bersikap tertutup, hubungan mereka perlahan terasa semakin akrab. Hingga suatu sore yang tenang ketika seluruh penghuni kantor sudah pulang, Karina duduk santai di sofa ruang istirahat sambil memandangi langit yang mulai berwarna jingga. San, yang baru saja selesai dengan pekerjaannya, berjalan mendekat dan ikut duduk di sampingnya.
"Kenapa belum pulang?" tanyanya dengan nada lebih lembut dari biasanya.
Karina menoleh sambil tersenyum lembut. "Karena aku suka berada di tempat yang membuatku bahagia. Dan kamu... terkadang membuatku bahagia meski kamu sendiri mungkin nggak sadar."
San terdiam sesaat, mencoba mencari jawaban yang tepat namun gagal menemukannya. Ia akhirnya hanya mengalihkan pandangan dan berkata lirih. "Jangan terlalu sering ganggu aku. Aku nggak suka."
Tanggapan itu hanya membuat Karina terkikik kecil. "Tapi aku suka mengganggu kamu," balasnya santai. "Karena setiap kali aku melakukannya, aku tahu... jauh di dalam hati kamu peduli padaku—walau kamu nggak mau mengakuinya."
Di saat itu, San merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, meskipun ia memilih untuk mengabaikannya. Tak berselang lama, Karina memandangnya dengan senyum yang penuh makna. "Tak perlu cemas, San. Suatu hari nanti, kamu akan menyadarinya," ujar Karina dengan keyakinan terpancar dari suaranya. Sesudah itu, ia bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan.
San hanya bisa melihat kepergiannya dengan tatapan kosong. Namun di lubuk hatinya yang terdalam, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu ia elakkan. Ia berusaha tetap mempertahankan sikap dinginnya, tetapi rasa itu tetap hadir, menghantui benaknya. Dalam diam, ia mulai menyadari bahwa mungkin saja Karina adalah sinar yang selama ini ia cari untuk menerangi sudut-sudut gelap di hatinya.
Sejak hari itu, San mulai paham bahwa meskipun dia berusaha untuk menjaga jarak, Karina selalu ada di sana—membawa harapan dan keceriaan di setiap langkah hidupnya. Dan mungkin, sedikit demi sedikit, hati San akan terbuka.
Karina sadar betul bahwa San bukanlah sosok yang mudah dimengerti. Tapi dengan kehangatan dan ketulusan hatinya, ia percaya bahwa cinta bisa tumbuh—bahkan di tempat yang paling tidak terduga.
YOU ARE READING
Office Life Stories
FanfictionKumpulan Sanrina Oneshot AU yang berlatar pekerja kantoran. "I Love You In Every Universe" Just a Fanfiction 𖹭.ᐟ Genre? Campur ajalah akwkwkwk 🤌🏼🥰🥹🤪🫣😭🫠😋 Novel ini adalah karya fiksi. Nama dan visual idol yang digunakan hanya berfungsi seba...
