One-Two.. Etc
This story is about taekook, aka gay, boypussy. So please, please be wise in choosing your reading choices, and if this story isn't your style, skip it, leave it, don't make your own mistakes.
Dosa tanggung masing2
admin bagian up(sek...
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Isakan lirih terdengar pilu, mengiris setiap orang yang mendengarnya. Di depan pusara yang masih basah, seorang pemuda berlutut dengan mata sembab, tubuhnya sedikit bergetar menahan duka yang terlalu besar.
"Hiks... Nenek... kenapa ninggalin aku? Hiks... aku sekarang sendirian..."
Tangannya meremas bunga yang belum sempat diletakkan, sementara dadanya sesak seakan kehilangan separuh nyawanya. Tak jauh dari sana, seorang pria bertubuh tegap berdiri sambil menatap Jungkook dengan iba.
"Jung... udah, yuk. Jangan lama-lama di sini. Hari juga udah mulai gelap," ucapnya lembut, namun tegas.
Jungkook menggeleng keras, suara tangisnya makin dalam.
"Enggak, Ming! Aku... aku enggak punya siapa-siapa lagi selain nenek... Gimana bisa aku tinggalin dia sekarang?"
Kim Mingyu, sahabat yang sudah seperti saudara sendiri, menghela napas panjang. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah amplop kecil yang terlihat sudah agak kusut.
"Sebelum nenekmu meninggal, dia sempat nitip ini ke aku. Katanya, kasih ke kamu kalau kamu udah balik dari Jogja," ujarnya pelan, menyodorkan surat itu ke Jungkook.
Jungkook menatap amplop itu dengan ragu, seolah takut membuka kenangan baru yang bisa melukai lebih dalam. Tapi akhirnya, tangannya terulur, dan ia membuka surat itu dengan perlahan.
Isi surat:
> 'Jungkookie sayang...
Surat ini nenek tulis saat kamu masih di perantauan. Nenek punya sesuatu yang penting untuk dikasih tau, tapi kalau waktu itu nenek gak sempat bicara langsung... ya, surat ini semoga bisa jadi jalan terakhir nenek menyampaikannya."
"Kamu tahu rumah tua yang ada di luar kota? Rumah itu sebenarnya warisan dari kakek dan nenek. Rumah itu penuh kenangan, tapi juga penuh rahasia. Dulu, waktu kamu kecil, kamu sempat tinggal di sana. Tapi sesuatu terjadi, dan kamu gak pernah kembali."
"Nenek simpan kunci dan surat tanahnya selama ini. Nenek nunggu kamu cukup kuat untuk tahu semuanya. Dan sekarang, rumah itu milikmu sepenuhnya."
"Tinggallah di sana, Jungkookie. Jaga baik-baik. Itu rumah keluargamu. Tapi hati-hati, ya nak... ada hal-hal yang mungkin akan kamu temukan. Hal-hal yang gak bisa dijelaskan dengan akal sehat."
"Kalau suatu saat kamu merasa rumah itu 'hidup', jangan takut. Itu hanya caranya menyambut pemilik aslinya kembali."
Salam terakhir dari nenekmu yang sangat mencintaimu,
- Nenek.' <
Jungkook mengerutkan dahinya bingung, lantas ia mendongak menatap sahabatnya itu.