Prolog

7 1 0
                                        

Nafisah duduk di sudut kantin, sendirian seperti biasa. Tangannya sibuk mengaduk es teh yang sejak tadi sudah mencair, sementara tatapannya tertuju pada sirkel yang selalu berisik di meja tengah. Mereka seperti pusat tata surya di sekolah ini-semua mata tertarik ke arah mereka, termasuk mata-mata yang diam-diam penuh kebencian.

Aufa tertawa, suaranya berat dan percaya diri, berpadu dengan suara Naura yang manja serta gelak tawa Radit, Omar, dan Sahrul. Meja mereka penuh dengan kotak susu, piring sisa nasi goreng, dan bungkus camilan yang mereka biarkan berserakan tanpa peduli. Seolah-olah kantin ini milik mereka. Seolah-olah dunia ini memang diciptakan untuk orang-orang seperti mereka-yang selalu bersinar, selalu di tengah keramaian, dan selalu merasa di atas.

Nafisah menatap sendok di tangannya, dan dalam sekejap, bayangan itu muncul lagi. Sebuah dunia yang hanya dia lihat, hanya dia pahami. Di dalam bayangannya, kantin berubah menjadi tempat yang lebih... adil. Lantai yang licin karena tumpahan kuah mendadak berubah seperti rawa lengket yang siap menelan mereka satu per satu. Bangku-bangku kayu diubahnya menjadi makhluk yang bernyawa, menjerat tubuh mereka, membuat mereka tak bisa bergerak. Tangannya menggenggam sendok seperti pedang, dan dengan sekali tebas, semua tawa itu akan berhenti.

Tapi tidak.
Dunia nyata berbeda.
Dia hanya bisa menunduk dan meneguk es tehnya yang hambar.

Tiba-tiba, Naura bangkit dari meja mereka, berjalan ke arahnya dengan langkah angkuh. Nafisah tahu ini akan terjadi. Seperti yang sudah sering terjadi.
"Kamu selalu duduk sendirian di sini, Naf," suara Naura terdengar manis, tapi matanya berkilat-kilat penuh ejekan. "Gimana kalau sesekali kamu gabung sama kita? Oh, tunggu... siapa yang mau duduk bareng kamu?"

Radit terkekeh di belakangnya, sementara Aufa hanya mengangkat alis, tidak berusaha menghentikan mereka tapi juga tidak ikut serta. Matanya bertemu dengan mata Nafisah sejenak-ada sesuatu di sana, sesuatu yang tak bisa dia baca.

Nafisah tetap diam. Dia meremas sendoknya lebih erat, seolah benda itu bisa menjadi kunci untuk membuka dunia yang dia inginkan. Dunia di mana suara tawa itu akan menghilang. Dunia di mana mereka akhirnya tahu, siapa yang sebenarnya pantas untuk takut.

Dalam benaknya, bayangan itu semakin jelas. Aufa, Naura, Radit, Omar, dan Sahrul... satu per satu, mereka akan mendapatkan bagian mereka. Tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi pasti.

Yang diam bukan berarti tidak melihat. Yang tenang bukan berarti tidak berbahaya.
Dan suatu saat nanti, mereka akan menyesal telah menganggap Nafisah sebagai bayangan.
Kalau ada detail yang mau ditambah atau diubah, beri tahu aku!






• • •


Senja dibalik dendam Where stories live. Discover now