01

4K 151 1
                                        

Hujan turun deras malam itu, mengguyur atap panti asuhan yang sudah mulai rapuh. Udara dingin merayapi kulit, tapi Michael tetap berdiri di luar, memandangi langit yang kelam tanpa bintang. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, kuku-kukunya menekan telapak tangannya yang basah oleh keringat dan air hujan.

Panti asuhan itu bukan rumah, hanya sebuah bangunan yang menaungi tubuh-tubuh kecil tanpa nama keluarga, tanpa tempat untuk kembali. Dindingnya menyimpan suara tangis yang tertahan dan amarah yang dipendam dalam-dalam. Tidak ada yang benar-benar peduli, tidak ada yang sungguh ingin mendengar.

Michael sudah lama berhenti berharap.

Ia tumbuh dengan memahami satu hal—jangan pernah terlihat lemah. Jangan menangis. Jangan mengeluh. Jangan berharap akan ada yang datang menolong. Ia belajar bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan diam, dengan mengabaikan, dengan membiarkan semuanya berlalu seperti angin yang tidak pernah benar-benar bisa digenggam.

Namun, malam ini berbeda.

Michael bisa merasakan nyeri berdenyut di sisi wajahnya, bekas pukulan yang masih hangat di kulitnya. Rasa logam memenuhi mulutnya, darah yang merembes dari sudut bibirnya bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Semua hanya karena hal sepele.

Ia menolak menjawab. Itu saja.

Pengasuh itu mengamuk, suaranya menggelegar seperti guntur yang mengancam langit. Michael hanya berdiri diam, menatap lurus tanpa ekspresi. Pukulan pertama mengenai pipinya. Kemudian yang kedua. Lalu yang ketiga. Dan pada titik tertentu, ia berhenti menghitung.

Tidak ada gunanya menghitung sesuatu yang tidak akan pernah berhenti.

Kini, di bawah langit yang gelap, Michael berdiri di tepi jembatan, menatap sungai yang beriak pelan di bawah sana. Hujan menciptakan lingkaran-lingkaran kecil di permukaannya, seolah memanggilnya untuk turun, untuk tenggelam, untuk menghilang bersama arus yang akan membawanya pergi jauh.

Jauh dari panti. Jauh dari rasa sakit. Jauh dari dunia yang tidak pernah menginginkannya.

Tangan Michael gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena lelah. Lelah secara emosional, lelah secara fisik, lelah secara keseluruhan. Dadanya terasa kosong, seolah-olah di dalamnya hanya ada kehampaan yang semakin lama semakin menelan dirinya.

Jika ia melompat, maka semuanya akan berakhir.

Tidak akan ada lagi pukulan. Tidak ada lagi tatapan penuh kebencian. Tidak ada lagi rasa lapar di malam-malam panjang ketika makanan tidak cukup untuk semua orang. Tidak ada lagi mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Angin bertiup kencang, mengguncang tubuhnya yang kurus. Jemarinya mencengkeram besi pagar jembatan, dingin dan licin karena air hujan. Satu langkah lagi, dan semuanya akan berakhir.

Tapi sesuatu menghentikannya.

Bukan rasa takut. Bukan harapan.

Melainkan sebuah pertanyaan.

"Mengapa aku dibuang?"

Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan yang pernah ia terima. Ia tidak tahu siapa orang tua kandungnya, tidak tahu mengapa ia ditinggalkan di panti asuhan ini, tidak tahu apakah ia pernah dicintai walau hanya sedetik dalam hidupnya.

Dan itu mengganggunya.

Lebih dari luka, lebih dari pukulan, lebih dari semua kehampaan yang pernah ia rasakan.

Jika ia mati malam ini, ia tidak akan pernah tahu jawabannya.

Jari-jarinya perlahan melepas cengkeraman di pagar jembatan. Nafasnya berat, nyaris terputus, tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada sesuatu yang terasa lebih kuat dari rasa ingin menyerah.

Keinginan untuk menemukan kebenaran.

Sebelum ia pergi, ia harus tahu.

Michael menatap sungai itu sekali lagi, lalu berbalik. Langkahnya lambat, berat, tapi pasti. Hujan masih turun deras, membasahi tubuhnya yang menggigil. Malam masih pekat, sunyi, dingin.

Tapi untuk pertama kalinya, Michael memiliki alasan untuk bertahan.

WitherBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin