Akhir-akhir ini, tenggelam dalam lamunanku sendiri merupakan rutinitas sehari hari. Hampir setiap saat aku seringkali melamun dan memikirkan banyak hal. Diantara lamunan-lamunan itu, ada satu yang paling menghantuiku, "Bagaimana jika aku tidak bisa membalas jasa bapak kelak?".
Pagi ini, seperti biasa aku duduk di salah satu kursi meja makan untuk menyantap sarapan yang telah disiapkan ibu. Di atas meja makan ini terlihat sebuah keluarga yang sempurna, dengan ayah, ibu, satu kakak perempuan, dan satu adik laki-laki. Aku duduk tepat di depan bapak yang sedang menyantap sarapan dengan lahap. Tanpa sadar aku terus menatapnya dan mulai melamun lagi, yang membuat aktivitas sarapan ku kini terhenti. Sadar akan tatapan yang kuberikan, bapak mulai mendongak sehingga mata kami bertemu, bapak yang bingung karena tiba-tiba di tatap tanpa sebab pun bertanya.
"ada apa?" aku segera mengalihkan pandanganku dan berpura-pura tidak pernah menatapnya,
"tidak apa-apa" jawabku dengan segera menghabiskan sarapan ku.
Sehabis sarapan, aku mulai bersiap-siap untuk berangkat sekolah, begitu juga dengan Tara, adikku. Saat semuanya sudah siap, kami pun mencari bapak dan ibu untuk berpamitan. Seperti biasa, ibu sedang berada di dapur dan bapak sedang memberi makan burung-burung peliharaannya, kami pun segera berpamitan,
"pak, bu, berangkat dulu, ya" ucapku sembari mencium punggung tangan bapak dan ibu,
"iya, hati-hati, yang pinter ya sekolahnya" ucap bapak dengan tersenyum lebar.
Aku dan Tara pun meninggalkan bapak dan ibu disertai dengan lambaian tangan yang menandakan perpisahan. Tara bergegas pergi mengambil motor nya dan aku menunggu di depan rumah. Karena kami bersekolah di sekolah yang sama, kami pun berangkat bersama-sama, dengan Tara yang memboncengku, kami melaju cepat menuju sekolah.
...
Sesampainya di sekolah, aku dan Tara mulai terpisah, Tara mendatangi teman-temannya dan aku juga mendatangi teman-teman ku. Aku melambaikan tangan kepada 2 gadis manis yang ada di depan ku, Nara dan Lila. Mereka pun membalas lambaian tangan ku dengan tersenyum manis.
"Naen! Selamat pagiii!" seru Nara menyapaku,
"pagi juga, Nara, Lila" jawabku, setelah saling menyapa kami pun berjalan menuju kelas sambil berbincang-bincang kecil.
Tak terasa, kami bertiga sudah berada di depan kelas, Lila mulai membuka pintu kelas dan kami pun segera masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing.
"selamat pagi, Naen" sapa Jeje, Marselino Jeha, ketua kelas di kelas ini sekaligus teman sebangkuku.
"pagi, Je" sapa ku balik
"Na, kamu udah konsul sama guru BK buat kelanjutan masa depan mu?" tanya Jeje
"belum, masih bingung Je, kalau kamu?" tanyaku balik
"aku sih udah Na, udah fix mau fokus ke musik gitu" jawab Jeje
"ah, gitu yaa, semoga berhasil sama karir musik mu ya Je" ucapku, memberi doa dengan tulus
"iya Na, kalau kamu sendiri masa belum kepikiran apa pun???" tanya Jeje lagi
"aku kepikiran sesuatu sih, psikolog" jawabku
YOU ARE READING
🌠🌠🌠
Short Storyyah gitu lah, agak mengandung bawang dikit, trimzzz (lebih baik baca pas udah buka puasa aja ya)
