Bab 1 Tragedi

45 14 11
                                        

Kilatan petir menyambar pohon-pohon kering di ujung desa, menebarkan kilatan cahaya yang sesaat menyingkap gelap. Aroma tanah basah bercampur debu menyeruak di antara angin malam yang merayap. “Hari ini... apa yang kalian bisa lakukan?” Suara berat pria dewasa menggema sesekali diiringi gelak tawa, dan menekan setiap kata seolah menuntut jawaban yang tak pernah ada. Wajah garangnya muncul dari balik bayang-bayang, tajam sorot matanya bagai hendak menelanjangi rasa takut yang bersarang di dada para penakut
Hening. 
Hanya bunyi dedaunan kering yang berbisik lirih bersama tiupan angin. Sesekali, suara tawa sumbang terdengar di antara orang-orang yang mencari kepuasan disetiap tetesan darah mangsanya. Semakin tegang suasana malam itu, seperti tali rapuh yang siap putus kapan saja. 

“Lari kalian, lari…!”
Teriakan kakek tua dari balik semak-semak tinggi membuat mereka tersentak. Semak-semak itu tumbuh liar, hampir setinggi pusar orang dewasa, menyembunyikan tubuh rentanya yang gemetar. Nafasnya memburu, namun ketakutan lebih kuat menuntun mulutnya untuk terus memperingatkan. 

Langkah kaki berpacu, berpadu dengan suara napas tersengal yang berpacu dengan nyawa. Malam semakin pekat, namun kegelapan bukan satu-satunya hal yang memburu mereka. 
“Dor… dor… dor…!” 
Tiga suara tembakan menggema, memecah malam. Salah satu dari mereka terjatuh, tubuhnya menghantam tanah keras tanpa daya. Darah mengalir hangat membasahi rerumputan yang mulai menggeliat oleh hujan gerimis. 

Semakin jauh mereka berlari, semakin dekat kematian mengikuti di belakang. Langkah mereka terasa sia-sia di tengah hutan yang menutup rapat segala harapan. 

Suasana sejenak hening, hanya suara rintik hujan yang menjadi saksi bisu malam panjang di desa Cisangkas.

Prediksi cuaca di sebagian wilayah tak menentu. Awan kelabu menggantung rendah di atas langit kota, seperti bayang-bayang bisu yang mengintai dalam kesenyapan. Kota ini dikelilingi rumah-rumah besar yang berdiri angkuh, menyimpan kisah penghuni lama yang perlahan dilupakan zaman. Tak jauh dari sana, desa-desa dataran tinggi menjadi pelarian bagi mereka yang menggantungkan hidup pada kemurahan alam. Hutan-hutan lebar membentengi perbatasan, seolah menjadi garis pembatas antara kehidupan dan rahasia gelap yang tak terjamah.

Hari itu. Air berjatuhan membasahi tanah, wilayah kering yang terpapar panas matahari dalam sekejap menjadi genangan air di siang hari. Aroma hujan bercampur debu memenuhi udara, menari bersama angin dingin yang menyusup melalui celah-celah jendela. 

Nuri yang sedang duduk sendirian di sudut sebuah cafe kecil. Melepas tatapan mata yang kosong, ditembusnya kaca jendela yang dipenuhi embun. Cangkir kopi di depannya tinggal setengah terisi setelah ia meminumnya 10 menitan lalu, uapnya perlahan memudar seiring waktu yang berjalan lambat. Di balik dinding kayu dengan warna cokelat berkilau, seorang pria memperhatikannya. Wajahnya tampak penasaran, seperti matanya menyimpan ketenangan. 

“Kamu seharian ini banyak memperlihatkan wajah suram, apa yang sedang terjadi?” 
Suara pria itu memecah kesunyian, membuat Nuri menoleh perlahan. Rambutnya tersisir rapi ke kanan, helaian hitamnya berkilau di bawah lampu temaram. Tangannya membalik cangkir kopi dengan gerakan santai, seolah tengah menunggu jawaban yang sudah ia duga. 

Suasana cafe terasa sunyi, hanya terdengar suara tetesan hujan yang berjatuhan di atap seng. Seorang wanita berkacamata minus sibuk menunduk di sudut ruangan, jarinya sibuk menekan tombol ponsel jadul. Barista di balik meja hanya sesekali melirik, tak ingin mengganggu percakapan yang baru dimulai. 

Nuri kembali menatap aspal basah di balik jendela. Hujan masih turun, membiarkan bayang-bayang masa lalu menari di permukaan air. Nafas panjang ia hembuskan perlahan, mencoba menahan beban yang terasa begitu menyesakkan. 

Memandangi tanah yang basah diguyur hujan, pikiran Nuri melayang jauh mengikuti jejak pengalaman yang baru-baru ini terjadi, terus berputar dalam benaknya. Tetesan hujan semakin membekas di kaca jendela, menciptakan embun tipis yang memburamkan pandangan. Sesekali, ranting pohon yang tertiup angin menggores permukaan kaca, menambah kesan muram di sudut ruangan. Aroma kopi hitam yang mulai mendingin menemaninya, sementara itu, udara sejuk menerobos celah jendela, menyusup perlahan ke sela-sela rasa lelah yang bersemayam dalam dirinya.

Bisik Kabut CisangkasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang