[ONE SHOOT and SLIGHT MATURE] - ⋆.˚Apa yang akan kamu lakukan jika kamu diberi satu kesempatan untuk berbicara, tertawa, dan mencintai seseorang dari dunia yang berbeda? Mungkin dengan pria yang hanya kamu kenal dari jauh, ataupun pria yang menjadi...
Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.
ꪆ୧ . ∘ ٭ the reason to comeback home ও ; OO1 . ☆ .
Be wise, Slight Mature.
Banyak sekali hal yang ingin disyukuri oleh Wijaya Adipati Battheim mungkin beberapa hal tersebut termasuk dengan keluarga yang telah dibuatnya bersama dengan istri tercinta.
Isabelle Claire Hadinata, nama yang selalu menemaninya hampir delapan tahun kebelakangan ini.
Sedari awal Wija mengira hidupnya hanya akan terus monoton, menjadi pilot dan mungkin saja akan menua bersama para pesawat yang dikendarainya selama ini.
Namun hidupnya berubah drastis saat sang Ibunda mengenalkannya pada seorang wanita berparas sangat cantik dan anggun.
Mungkin efek karena setelah diselingkuhi oleh mantannya Wija menjadi sedikit skeptis kepada wanita baru yang akan dikenalkan padanya, tapi lagi-lagi Isabelle masih terus meyakinkan pria itu agar menjauhi pikiran buruknya dan menyuruh untuk mencoba hubungan baru itu bersamanya.
Dan ucapan wanita itu benar adanya, sekarang wanita itu tertidur di pelukannya pagi ini. Wija semakin mengeratkan pelukan pada tubuh polos istrinya, setelah dinas lebih dari dua minggu Wija akhirnya bisa pulang kembali ke rumahnya sekarang.
Isabelle sedikit terganggu saat suaminya itu terus mengecupi pipi berisi istrinya. "Pih jangan ganggu dulu dong, aku masih capek banget." Ucap wanita itu parau, sementara Wija masih saja terkikik gemas saat Isa mencoba mendorongnya menjauh.
Dari jauh samar-samar terdengar teriakan balita dan tidak salah dengar lagi suara teriakan dan larian itu semakin kencang mendekat ke arah pintu coklat kayu tersebut.
"PAPIYAAA ABANGNYA CUBIT CUBIT DEDE LAGI!" Astaga, padahal baru dua hari Wija pulang ke rumah tetapi selalu saja terjadi kericuhan di pagi hari ini.
Sementara itu Isabelle masih terus terlelap dalam pelukannya, mungkin merasa sangat lelah setelah perseturuan yang mereka lakukan tadi malam.
Pintu kokoh itu masih digedor keras serta anak bungsunya yang berusaha meminta bantuan dari sang Ayah dibalik pintu kamar itu, dengan sigap Wija mengecup dahi istrinya cepat dan memakai bathrobe tadi malam agar bisa segera membuka pintu kamar.
"PAPIYA KENAPA LAMA BUKANYAA!" Balita itu jelas memekik keras saat sang Ayah sudah sangat telat untuk membuka pintu kamarnya, sementara si anak tengah sudah berlari dengan cepat sesaat sudah mencubit pipi gembil adik bungsunya.
Wija hanya terkekeh perlahan dan menggendong tubuh mungil itu keluar dari kamar. "Papiya!" Anak itu menggeram kecil saat Ayahnya tidak membalas apa yang kakak keduanya itu lakukan dan hanya menggendongnya untuk duduk dipangkuannya dan terus mengecupi pipi gembulnya.