23. Memories

7 3 0
                                        

「 𝙣𝙤𝙬 𝙥𝙡𝙖𝙮𝙞𝙣𝙜 」
0:00 ─〇───── 3:12
⇄ ◃◃ ⅠⅠ ▹▹ ↻
Maroon 5 - Memories

꒰ ・ 。゚ ✦ ・ 。゚ ꒱

Rumah ini penuh kenangan bagi keluarga kami. Sudah empat generasi menghuni rumah yang dibeli dari hasil kerja keras kakek dan nenek buyutku. Dahulu, rumah masih menjadi aset wajib bagi semua orang. Kini, seiring bertambahnya populasi, orang-orang mulai memilih menghuni arcology--semacam kota kecil di dalam satu struktur besar yang di dalamnya sudah ada tempat tinggal, tempat rekreasi, bahkan lingkungan hijau. Dan saat ini, perumahan kecil tempat kami tinggal ini akan dibeli oleh kontraktor untuk dijadikan arcology baru. Tak ada pilihan lain bagi kami selain mengubur kenangan-kenangan itu dan memulai hidup baru.

Meski satu per satu bagiannya telah dimakan waktu dan harus diganti sehingga jauh berbeda dari saat pertama kali dibeli, kami tetap mempertahankan ruang tamunya, hanya itu sisa kepingan kenangan yang diwariskan kakek dan nenek buyutku. Namun, pagi ini aku menemukan kepingan-kepingan lain yang berceceran di gudang.

Banyak barang-barang dari generasi terdahulu yang masih ada di gudang. Salah satunya, aku menemukan sesuatu yang tampak seperti kamera. Bentuknya cukup besar, berat, lensanya besar dan menonjol, berwarna hitam, dan ada tali yang dapat dikalungkan.

Aku mencoba memencet sembarang tombol, tiba-tiba kamera itu nyala sendirinya. Butuh waktu lama untukku mengetahui bahwa kamera itu masih berfungsi sebagaimana mestinya, lensanya masih cukup jernih meski kualitas gambarnya tak terlalu detail.

Ketika aku berusaha memotret gambar, tombol yang kupencet malah membawaku pada gambar-gambar yang tersimpan. Foto pertama, tampak seorang perempuan cantik dengan mata besar dan bulu mata lentik tengah tersenyum lebar, satu tangannya ia letakkan di pipi, bertudung warna hitam, dan tengah berada di pantai dengan langit oranye. Wajahnya mirip sekali dengan Mama, maka itu pasti adalah nenek buyutku. Sejak dulu nenekku selalu bilang wajah Mama sangat mirip dengan nenek buyutku.

Foto selanjutnya adalah foto kakek buyutku. Ah, dia tampan juga rupanya. Banyak foto-foto mereka dan pemandangan di pantai itu.

Di tahun 2024--tanggal yang tertera di foto--pantai masih begitu indah. Kini, tak ada lagi pasir putih di pinggir pantai. Air laut sudah semakin naik sehingga di beberapa tempat harus dibangun tembok tinggi agar tidak meluber ke daratan.

Foto-foto selanjutnya adalah foto nenek buyutku bersama teman-temannya, lalu ada foto mereka dengan seragam atasan kemeja batik dan bawahan rok atau celana abu-abu. Dari semua foto-foto itu aku menandai wajah seorang lelaki yang sering dipotret. Wajahnya yang lebih mirip orang Eropa jauh sekali dengan kakek buyutku yang khas Indonesia. Maaf, Kakek Buyut, tapi cowok ini lebih tampan darimu. Dari foto-foto mereka tampak bahwa mereka begitu dekat dahulu, sama dekatnya dengan nenek dan kakek buyutku. Dia anak kelas internasional?

Selanjutnya ada video. Namun, belum sempat aku menemukan tombol untuk memainkan video itu kamera itu telah mati. Habis baterai?

Aku mendesah kecewa, lalu kembali mengedarkan pandang pada sekelilingku, ruangan gudang yang juga tak pernah tersentuh ketika renovasi, dibiarkan hingga catnya pudar sepenuhnya.

Mungkin sejak detik ini aku tak akan memarahi mamaku jika dia mengambil gambar pada tiap momen. Mungkin kenangan memang tak akan pudar di memori seseorang, tetapi memori-memori itu akan tetap bisa terus diwariskan meski kita telah tiada setelah diabadikan. Mungkin hari ini aku akan mengabadikan seluruh sudut dari rumah ini agar bisa selalu mengingatnya.

꒰ ・ 。゚ ✦ ・ 。゚ ꒱

DAY 23
Cek dua angka terakhir nomor handphone kalian. Gunakan kombinasi angka tersebut sebagai abad latar waktu pada cerita kalian hari ini.
Setting: abad 22

꒰ ・ 。゚ ✦ ・ 。゚ ꒱

Hduh aku (sok) sibuk hari ini. Terimalah cerita ini apa adanya.

Btw aku masukin salah satu karakterku di cerita ini, dan yap, spoiler dikit🥲

[23/02/25]

Days of the AdolescentsWhere stories live. Discover now