Jogja

1 0 0
                                        

Hari pertama Meira di kota yang penuh ketenangan ini. Ya, Jogja. Gadis manis, mojang Bandung ini akhirnya meninggalkan kehidupannya di sana untuk belajar mandiri. Selama ini, ia selalu dikawal oleh ayah dan bunda. Sekarang, waktunya menjalani hidup barunya.

Di dalam mobil:

"Teteh yakin mau di sini selamanya?" tanya ayah dengan nada khawatir.

Meira tersenyum, mencoba meyakinkan. "Ayah, teteh yakin."

Bunda menatap putrinya dengan lembut. "Jangan nakal ya, jaga diri baik-baik, jangan sampai buat masalah lagi."

"Iya, Bunda."

"Dan satu lagi, jangan buat Oma kamu khawatir," tambah ayah. "Kamu harus bisa jaga diri."

"Siappp!" jawab Meira ceria. "Yaudah, kita masuk, nanti Oma bingung kalau kita diskusi terus di mobil."

Meira tinggal bersama Oma dan sepupunya, Kamila. Usia mereka tak jauh berbeda. Kamila di tinggal ibu sejak kecil, ayahnya yang kabur menikah dengan wanita lain dan sejak itu diasuh oleh Oma dan almarhum Kung.

Begitu memasuki rumah, Meira langsung berlari memeluk Oma.

"Omaaaaaa! Meira kangeeeen!"

Oma tertawa senang. "Akhirnya kamu sampai juga! Oma udah buatin makanan kesukaan kamu."

"OPOR AYAM BUATAN OMA!" seru Meira

Oma terkekeh. "Dan gak lupa lontong isi ayam, kesukaan kamu."

Meira menghirup dalam-dalam aroma makanan itu, lalu tersenyum lebar. "Wah, Oma emang paling bisa!"

Sementara mereka asyik mengobrol, ayah dan bunda menyalami Oma.

"Kalau udah cucu, lupa sama makanan anak sendiri," goda Oma pada Bunda.

Bunda tertawa kecil. "Mama ini... tapi kan Mama juga udah siapin sambal terasi lalapan kesukaan aku dan Mas."

Mereka semua tertawa hangat. Namun, Meira merasa ada yang kurang. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Tumben Kamila tidak terlihat.

Dia masih suka menyendiri di balkon kamar sambil nulis cerpen gak ya? Hahaha, itu kan pas kecil. Sekarang udah kuliah, pasti gak mungkin lagi.

Tiba-tiba terdengar suara dari pintu depan.

"Assalamu'alaikum!"

Meira menoleh. Senyumnya langsung merekah. "Mila! Akhirnya panjang umur kamu muncul!"

Mila tertawa kecil dan langsung memeluk Meira erat. "Meira, kamu udah sampai!"

Meira mengedipkan mata jahil. "MasyaAllah, udah jadi perempuan sholeha sekarang."

"Hahaha, maaf ya, aku baru aja datang dari MnG penulis buku."

"Eh, kapan launching buku kesayangan kamu?"

"Doain aja ya! Ayah, Bunda, aku ganti baju dulu," ujar Mila sebelum bergegas ke kamarnya.

Sambil menunggu, Meira dan Oma lanjut mengobrol. Gelak tawa menyelimuti ruangan. Malam itu mereka makan malam bersama dengan bahagia. Sayangnya, ayah dan bunda harus segera pamit karena besok ayah ada operasi pasien yang tidak bisa dibatalkan.

Sebelum pergi, bunda memeluk Oma erat. "Ma, kita pamit ya. Titip Meira."

Oma mengusap punggung Bunda lembut. "Jaga diri kamu, suami kamu juga diperhatikan ya. Mama doain kalian selalu dilindungi."

Ayah dan bunda pun pergi, meninggalkan Meira yang tampak... senang

Ya, akhirnya ia bisa merasakan kebebasan. Oma tidak banyak mengekang, dan ada Mila, si pendiam yang selalu punya cerita menarik untuk dibagikan.

Takdir Yang Bertautan Where stories live. Discover now