Bu Feni berjalan dengan cepat dilorong koridor sekolah, suara sepatu Bu Feni yang bertemu dengan lantai sekolah berbunyi nyaring. Langkahnya berat dengan wajah yang sudah emosi tergambar dengan jelas diwajah cantik Bu Feni. Kaki Bu Feni berhenti dipintu yang terdpat tulisan Ruang rapat Guru. Bu Feni mengangkat wajahnya memejamkan matanya lalu mengirup nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Tidak akan kubiarkan berhenti disini" guman Bu Feni lalu membuka dihadapannya.
"Selamat sore bapak ibu maaf saya terlambat" ucap Bu Feni dengan tersenyum.
"Silahkan duduk Bu Feni" ucap Bu Melodi.
"Baik terima kasih Bu Melody" balas Bu Feni lalu duduk dibangku kosong yang berhadapan dengan Bu Melody dan para guru.
"Langsung aja kita mulai, waktu saya tidak banyak" ucap Bu Sophia.
"Jadi apa yang mau kamu bahas?" lanjut Bu Sophia.
"Terima kasih untuk waktunya, bapak ibu yang sudah hadir disisni" Bu Feni membuka suara.
"Disini saya ingin membahas tentang ekstrakulikuler voli" lanjut Bu Feni.
"Apalagi yang perlu dibahas bu?" ucap Bu Sophia.
"Ini untuk masa depan anak - anak dan sekolah ini bu" jawab Bu Feni.
"Sesuai perjanjian bu, kalau mau lanjut harus empat besar" jawab Bu Sophia.
"Tapi kita mengerti bagaimana kekuatan di wilayah kita, tentu sebuah keajaiban kita bisa menembus babak delapan besar" ucap Bu Feni.
"Kalau sudah mengerti kenapa masih diterima" jawab Bu Sophia.
"Kalau Bu Sophia sudah mengerti peta kekuatan diwilayah ini kenap memberikan syarat yang bisa dibilang mustahil" balas Bu Feni dengan menatap tajam ke Bu Sophia.
Sementara didalam sedang terjadi perdebatan antara Bu Feni dengan Bu Sophia yang disaksikan oleh Bu Melody dan para guru yang lain. Didepan pintu terdapat dua siswi yang berjongkok menempelkan kupingnya pada pintu.
"Kedengeran gak?" ucap Yori.
"Enngak jelas cumam kedengeran suara Bu Sophia marah - marah" balas Kathrina.
"Udah dua minggu enggak kelar - kelar nih, gimana nasib kita ya" ucap Yori.
"Iya nih cuma kedengeran Bu Sophia marah - marah" balas Kathrina.
Dikantin anggota voli selain Yori dan Kathrina yang sedang memata -matai ruang rapat dan trio pendukung SMA 48 sedang berkumpul menungu Bu Feni memberitahu hasil dari rapat dengan guru. Sudah seminggu mereka sepulang sekolah berkumpul bersama untuk menunggu nasib mereka kedepannya.
"Udah seminggu belum ada berita bagus" ucap Olla sambil memimun es teh yang sudah dipesan.
"Gimana mau ada kabar bagus, Bu Sophia nyerang kita terus" ucap Marsha.
"Bu Melody sama guru yang lain diem - diem aja" lanjut Marsha.
"Kita harus percaya sama Bu Feni, dia ga bakal biarin kita berenti disini" ucap Freya yang dibalas anggukan oleh teman - temannya.
"Hah kenapa orang tua selalu menentukan nasib anak - anak sepeeti kita ya" ucap Gita dengan menghela nafas.
"Kita cuma bisa percaya sama Bu Feni, dan anak - anak Freya Warrior juga uda demo setiap pulang sekolah biar guru - guru liat" ucap Jessi denga sedikit tertawa kecil.
"Apa yang bisa kita kerjain?" ucap Adel.
"Percaya sama Bu Feni dan bertrrima kasih sama Bu Feni dan anak - anak Freya Warrior" ucap Gita yang dibalas oleh anggukan para teman - temannya.
YOU ARE READING
Flying High Season 2 (FreFlo, FreCi, FreFio, FreSha, FreYor)
ActionSetelah kekalahan SMA 48 menghadapi sang raja SMA 85 dibabak delapan besar, ekstrakulikuler voli SMA 48 terancam bubar. Mamoukan Freya dan kawan - kawan dibantu Bu Feni mempertahankan tim Voli SMA 48.
