Akhir-akhir ini cuaca sering tidak bersahabat, kadang panas bisa sangat panas, kadang hujan bisa sampai seharian hujan.
Seperti malam ini dua insan yang sibuk menghabiskan waktunya, dengan saling melumat satu sama lain di atas ranjang.
Ara terus mencium bibir chika dengan intens, membuat siempunya terbuai dan membuka mulutnya dan terjadilah pergulatan lidah di antara mereka, decakan suara dari bibir ke duanya membuat kamar sunyi itu terlihat begitu sensual dan panas. Ditambah dengan lampu yang remang-remang, membuat ke duanya semakin gerah.
"Kamu suka, sayang?"
"Hmm.."
Chika masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Mau lanjut?"
Tanya Ara yang berharap chika akan mengatakan setuju untuk mereka melanjutkan ke inti di bawah sana setelah sekian lama, semenjak mereka LDR-an
"Apanya?"
Bingung chika
"Aku mau yang bawah juga"
Pinta Ara membuat chika melebarkan matanya.
"Ngga ga mau, Ara aku cape"
Chika menolak dan itu membuat ara sedikit kesal, ayolah setelah sekian lama tidak melakukan Itu, chika selalu saja menolak.
Setiap ada waktu bertemu mereka hanya sekedar berciuman diakhiri dengan keluhan chika yg selalu merasa lelah, entahlah lelah berkerja atau apa.
"Kenapa ga mau? Aku tau kamu juga udah basah."
"Kamu yakin ga mau lanjut? Apa ga nanggung mau udahan sekarang?"
Bujuk Ara namun lagi-lagi chika menggelengkan kepalanya.
"Jangan sekarang yaa, aku cape banget hari ini"
Ujar chika sembari mengelus rahang Ara yg tegas.
Ara sendiri mendengus dan memikirkan cara supaya chika mau menyetujui permintaannya.
"Tapi, kamu ngomong gitu setiap mau itu, padahal kita ketemu aja sebulan ga nyampe 5 kali"
kekeuh ara yang sudah kepalanga nanggung kalau mereka berhenti di tengah jalan.
"Aku beneran cape, Ara!!"
Ucap chika dengan nada sedikit tinggi.
Ia tetap mempertahankan keputusannya, kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
"Selalu aja gitu!!! Ga sekali dua kali gagal gara gara cape!!."
"Padahal udah dibilang, kosongin waktu kalo lagi ketemu"
Geram ara kemudian melampiaskan kekesalannya, dengan memukul-mukul guling dan juga bantal.
Tidak lama kemudian chika keluar dari kamar mandi, dan mendapati keadaan kasur sudah berantakan. Sedangkan tidak ada siapapun lagi di dalam kamar, entah ke mana perginya si manusia mesum itu.
"Hufft, marah kayanya dia"
Chika sedikit merasa bersalah, dia berfikir sejenak.
Apa yg Ara katakan ada benarnya juga, mereka sudah lama tak bertemu, sekali bertemu chika sangat sibuk sehingga mereka jarang menghabiskan waktu bersama.
.
.
.
.
.
.
.
CHUPPPP!!!
Kecupan hangat mendarat di kening chika, si pelaku tersenyum karena rupanya kecupan tersebut tidak mengganggu tidur sang pujaan hati. Ara sedikit menggerakkan wajah kekasihnya itu hingga berhadapan dengannya dan ara dapat melihat dengan jelas bibir yang dulu pernah membuatnya tergila-gila. Bahkan bukan cuma bibir saja, seluruh aset berharganya chika membuatnya bertekuk lutut di hadapannya.
Itu juga alasan mengapa Ara tak bisa marah atau ngambek terlalu lama.
