"Aku adalah anak gembala, selalu riang serta gembira."—Tasya Kamila
Sejak pertama kali bertemu dengan Bibi, dia selalu menyebutku anak domba yang tersesat. Dengan gayanya yang khas, yang hanya bisa dilakukan oleh Bibi seorang, lama-lama aku ikut percaya bila aku memang hanyalah seekor anak domba. Aku tidak pernah dimanusiakan karena aku memang tidak pernah dianggap sebagai manusia.
"Oh, anak domba yang malang. Jangan khawatir karena Bibi akan menjadikanmu seorang gembala. Suatu hari nanti kau akan menjadi seperti Bibi yang memelihara banyak anak domba."
Saat itu usiaku sepuluh tahun ketika Ibu membawaku menemui Bibi. Kata Ibu, aku harus tinggal bersama Bibi untuk sementara waktu.
"Tapi aku ingin bersama Ibu," rengekku. Aku sungguh-sungguh tidak ingin berpisah dengan Ibu dan ingin ikut ke mana pun dia pergi. Namun, Ibu tidak pernah mendengarkanku. Dia tetap menyerahkanku untuk tinggal bersama Bibi dengan sebuah janji bahwa suatu hari dia akan datang untuk menjemputku.
Aku tidak ingat banyak tentang Ibu. Hampir tidak ada. Hanya samar-samar ingatan tentang punggung ibu yang menghilang di balik pintu. Setelah itu, memoriku hanya berisi tentang kengerian. Ya, aku harus menerima diriku sebagai seekor anak domba yang tersesat peliharaan Bibi.
Rumah Bibi sangat besar dan megah dengan sebuah ruang utama yang luas tanpa diisi perabot. Beberapa ornamen yang membuat bulu kuduk meremang menghiasi dinding-dindingnya. Kami tinggal di bangunan yang lebih kecil di belakang ruang tersebut. Rupanya ruangan seluas lapangan tenis itu digunakan untuk tempat pesta yang diadakan setahun sekali.
Aku baru mengetahuinya sebulan setelah aku tinggal di sana, tepatnya di hari ulang tahunku. Kupikir waktu itu Bibi hendak mengadakan pesta untuk merayakannya. Bibi memberiku baju baru--gaun putih dengan renda bunga warna-warni yang cantik sekali. Aku mengenakannya dengan bersemangat karena ini pertama kalinya ulang tahunku dirayakan. Tampaknya hari kelahiranku adalah peringatan kesedihan untuk Ibu karena pada hari itu Ibu selalu diliputi oleh tangis. Kini, hari itu pun menjadi tonggak peringatan kemalangan bagiku.
Pesta yang diadakan Bibi bukan untukku, meskipun aku adalah bagian penting dari perayaan tersebut. Tamu-tamu Bibi semuanya mengenakan jubah merah menyala dan menutupi wajah mereka dengan topeng-topeng yang mengerikan. Mereka berkerumumun dan menari dalam gerakan yang sama. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu dengan bahasa yang tidak kukenali. Setelah itu Bibi membawaku ke tengah ruangan sementara orang-orang membentuk lingkaran dan mengerubungiku. Bibi memerintahkanku untuk berbaring di sebuah meja batu yang dikelilingi dengan nyala lilin merah. Aku ketakutan, tetapi aku tidak punya pilihan selain menurut.
"Anak domba malangku, apa pun yang terjadi kamu harus menerimanya sebagai takdirmu." Bisikan Bibi terasa seperti embusan es yang dingin dan menusuk. Aku terlalu takut untuk bergerak dan aku berbaring dengan tubuh membeku. Beberapa saat kemudian seorang pria bertopeng hitam mendatangiku. Dia menusukkan sesuatu ke dalam tubuhku berulang kali sampai rasanya aku hampir mati. Aku menangis dan berteriak sekuat yang aku bisa. Namun, semua suara yang keluar dari mulutku teredam oleh nyanyian mereka yang makin keras.
Aku tidak menyadari kapan pesta itu berakhir. Tahu-tahu aku sudah berada di kamarku, merasakan sakit di sekujur tubuhku. Selama beberapa hari aku tidak bisa bangun.
"Oh anak domba yang malang." Itu saja ucapan Bibi ketika menjengukku, beberapa kata yang cukup membuatku ketakutan hebat sekali.
Kehidupan berjalan lambat sampai tiga bulan kemudian aku merasakan sesuatu sedang tumbuh dalam perutku, menyiksa hari-hariku dengan sakit kepala dan mual yang tak tertahankan. Sesuatu itu terus tumbuh, menggeliat, dan hendak meledakkan perutku. Aku menangis tiap malam, sedangkan Bibi terus-terusan menyebutku anak domba yang malang.
Waktu terus berlalu, entah berapa lama. Namun, akhirnya sesuatu itu keluar dari perutku bersamaan dengan darah yang banyak sekali. Sekali lagi aku merasa aku akan mati. Aku hanya melihat sekilas Bibi memungut sesuatu yang keluar dari perutku itu dan terlonjak kegirangan. Kabut di mataku menebal dan aku tidak tahu apa yang dilakukan Bibi selanjutnya.
Hari ulang tahunku datang lagi. Rasanya aku menjadi seperti ibuku dulu yang diliputi ketakutan dan putus asa tiap kali ulang tahunku tiba. Pesta yang sama diadakan lagi, ritual yang sama dilakukan lagi. Aku, dikorbankan lagi. Sesuatu menggeliat dalam perutku lagi. Hingga tiba sesuatu itu lahir, aku mendengarnya menangis ketika Bibi memungutnya dari kakiku. Aku memohon kepada Bibi untuk tidak membawanya pergi, tetapi Bibi terlalu senang atas kehadirannya dan mengabaikanku. Itu pertama kali dan terakhir kalinya aku melihat bayiku. Aku hanya bisa berharap Bibi tidak melakukan hal buruk padanya.
Kami tidak pernah membicarakannya. Apa pun yang terjadi padaku dan segala hal yang terjadi di rumah itu, kami tidak pernah membicarakannya seolah semua hanya terjadi dalam mimpi. Namun, aku sadar betul bila semuanya memang benar terjadi. Aku tidak sedang berhalusinasi.
Hari ulang tahunku tinggal menghitung hari. Saat itu aku sudah berada di ujung keputusasaan. Aku serasa seperti mayat berjalan. Aku bahkan tidak bisa membayangkan lagi hal-hal buruk yang akan segera menimpaku. Lalu, jendela kamarku tiba-tiba terbuka. Aku terlonjak ketika kulihat ibuku menerobos masuk dengan tergesa. Aku ingin sekali menangis, tetapi tidak ada air mata tersisa untuk kukeluarkan.
"Pergilah dari sini. Bersembunyilah, jangan sampai mereka menemukanmu lagi," ucap Ibuku, bahkan tanpa memelukku. Dia memberiku sebuah kantong berisi uang yang aku tidak tahu berapa jumlahnya. "Pergunakan sehemat mungkin, dan berusahalah untuk tetap bertahan hidup. Kau mengerti?" lanjutnya.
Aku tidak sempat menjawab karena ibu segera mendorongku untuk keluar lewat jendela. "Pergi sekarang!"
Aku pun berlari menembus malam sekuat yang aku bisa tanpa menoleh lagi. Kupikir Ibu akan mengikutiku. Rupanya tidak, malam itu adalah terakhir kalinya aku melihat Ibu.
Aku ingin sekali menyalahkannya karena telah meninggalkanku di rumah Bibi sampai aku mengalami semua hal buruk itu. Namun, aku sama sekali tidak bisa membencinya. Lagipula dia juga yang menyelamatkanku.
Tahun-tahun berlalu begitu saja. Ingatan itu masih lekat nyata, tetapi aku bisa bertahan dengan baik. Kejamnya kehidupan jalanan masih lebih mending bila dibandingkan dengan terpenjara di rumah Bibi. Setidaknya di sini, aku hanya perlu berjuang untuk makan lalu berkamuflase menyerupai sampah sehingga tidak ada yang akan peduli.
Kadang-kadang aku mempertanyakan kenapa aku masih bertahan. Apa sebenarnya makna hidup yang kujalani? Kenapa jalan hidupku harus seperti ini? Kenapa aku harus hidup?
Tak jarang aku bermimpi tentang tangisan bayi-bayiku yang diambil Bibi, apakah mereka juga menderita sepertiku? Apakah aku harus menyelamatkan mereka seperti yang dilakukan Ibu padaku?
Seringkali aku masih mendengar Bibi memanggilku anak domba yang malang. Aku harus meyakinkan diri sendiri bila yang kudengar tidak nyata.
"Oh, anak domba yang tersesat, ayo pulang. Sudah waktunya kamu menjadi gembala." Kali ini, suara Bibi terdengar sangat dekat, dan nyata.
#novembertoremember #rawscommunity
