Part 1| Awal yang (Tak) Menyenangkan

5.1K 284 9
                                        

Kim Sunoo berjalan keluar dari gerbang kampus dengan langkah santai. Di tangannya ada kantong plastik berisi beberapa barang kecil yang baru dibelinya dari minimarket dekat kampus. Hari itu cerah, tapi Sunoo nggak begitu memperhatikan. Pikirannya masih sibuk membayangkan jadwal kuliah yang mulai penuh minggu depan.

"Aduh, capek juga ya jadi mahasiswa baru," gumamnya sambil mendesah kecil. Tapi, sebelum dia sempat melanjutkan lamunannya, sebuah dorongan keras dari arah kanan membuat tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

"Woi! Liat-liat dong kalau jalan!" Sunoo spontan berteriak kesal sambil melirik ke arah pelaku.

Seorang pria tinggi dengan rambut kecokelatan berdiri di depannya, tampak santai meskipun jelas dia yang barusan menabrak Sunoo. Pria itu mengangkat satu alis, ekspresinya datar tapi jelas menunjukkan kalau dia nggak suka ditegur begitu.

"Harusnya lo yang liat jalan," balas pria itu dingin. "Gue nggak nabrak kalau lo nggak asal berhenti tiba-tiba di tengah jalan."

Mata Sunoo langsung membulat. "Hah?! Lo bercanda, kan? Gue jalan biasa, lo yang buru-buru kayak orang dikejar setan!"

Pria itu cuma mendengus pelan, lalu melirik sekilas ke arah kantong plastik di tangan Sunoo yang isinya hampir tumpah. "Kalau belanjaan lo sampai jatuh, ya salah lo sendiri."

Sunoo benar-benar nggak percaya apa yang baru saja dia dengar. "Lo itu sok banget ya! Udah salah, malah nyalahin orang!"

Pria itu tidak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu dan melangkah pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sunoo berdiri terpaku di tempat, mulutnya terbuka seolah ingin membalas, tapi dia tidak tahu harus ngomong apa lagi.

"Astaga, kesel banget anjir," gumam Sunoo akhirnya sambil mendengus. Dengan langkah kesal, dia melanjutkan perjalanan pulang ke kosnya.

Sepanjang jalan, Sunoo terus mengomel dalam hati. "Tuh orang siapa sih? Muka sok ganteng, tapi attitude-nya nol besar. Kalau ketemu lagi, gue bakal kasih pelajaran!"

Tapi tentu saja, dia tahu itu cuma ancaman kosong. Sunoo hanya ingin melampiaskan kekesalannya. Bagaimanapun juga, insiden kecil itu cukup merusak mood-nya yang tadinya sudah lumayan bagus.

Ketika akhirnya sampai di depan kos, Sunoo berhenti sejenak untuk mengatur napas. Dia mendongak melihat bangunan kosnya yang cukup elit. Tempat itu memang nggak murah, tapi Sunoo merasa beruntung bisa tinggal di sana. Kamarnya nyaman, fasilitas lengkap, dan jaraknya dekat dari kampus. Sempurna untuk mahasiswa baru sepertinya.

🐹🦊🦊🐹

Pintu kos terbuka dengan sedikit bunyi keras. Sunoo masuk dengan langkah berat, wajahnya jelas-jelas nggak bersahabat. Jaketnya dia lempar ke sofa, tasnya dia jatuhkan begitu saja di lantai. Kesel. Bad mood. Siapa pun yang lihat mukanya sekarang pasti bakal mikir dua kali buat ngomong.

Jungwon, yang lagi duduk di meja sambil ngetik tugas, langsung melirik. "Eh, lo kenapa, Sun? Mukanya kusut banget."

Sunoo nggak langsung jawab. Dia malah membanting badannya ke sofa, mendengus sambil melipat tangan di dada. Jungwon cuma bisa ngangkat alis.

Dari depan TV, Haechan yang lagi duduk santai sambil ngemil keripik dan nonton acara komedi ikut nimbrung, "Wah, anak kecil habis diapain nih sampai mukanya kayak habis dimakan dinosaurus?"

Sunoo melotot ke arah Haechan. "Bang, gue nggak anak kecil!"

Haechan cuma ketawa kecil, terus matanya balik ke TV. "Yaudah, lo cerita kenapa mukanya kayak gitu? Jangan-jangan lo disuruh ngerjain tugas tambahan sama dosen?"

"Lebih parah dari itu," Sunoo akhirnya buka suara. Dia duduk tegak, matanya masih penuh emosi. "Tadi gue ditabrak orang di luar kampus. Tapi dia malah nyalahin gue! Gimana nggak kesel, coba?"

Jungwon langsung menoleh, terkejut. "Ditabrak? Lo nggak apa-apa kan? Ada yang luka?"

"Enggak sih," Sunoo menggeleng, tapi nada suaranya masih ketus. "Tapi dia itu... ah, nyebelin banget! Orangnya sok banget, ngomong kayak gue yang salah. Padahal jelas-jelas dia yang nggak lihat jalan!"

"Pasti senior sok jago tuh," komentar Haechan, sambil nyomot keripik lagi. "Tapi ya mau gimana. Dunia kampus kadang kayak hutan. Yang kuat yang menang."

"Lah, ini bukan soal kuat atau menang, Bang!" Sunoo merosotkan tubuhnya ke sofa, jelas masih dongkol. "Gue cuma pengen hidup tenang aja, tapi malah dapet masalah kayak gini."

Jungwon berusaha nahan senyum. "Lo kayaknya lagi kena sial aja, Sun. Tapi ya udah, nggak usah dipikirin. Yang penting lo aman."

Sunoo mendengus lagi, kali ini lebih panjang. "Iya sih. Tapi... tetap aja, Won. Orang kayak dia tuh ngeselin banget."

Haechan akhirnya matiin TV, berdiri sambil menggeliat malas. "Daripada lo ngomel terus, mending kita beli sesuatu. Apa ya yang bikin lo seneng?" Dia berpikir sejenak, lalu senyumnya melebar. "Mint choco, kan?"

Sunoo langsung menoleh, matanya berbinar walau masih mencoba jaim. "Bang, serius? Mau beliin gue?"

"Ya iyalah. Muka lo kusut banget, gue sampai nggak betah ngelihatnya," jawab Haechan sambil nyari kunci motor. "Ayo, ikut gue ke minimarket."

"Gue mau ikut!" sahut Jungwon semangat.

"Nggak, lo di sini aja," balas Haechan, langsung motong. "Lo kan lagi ngetik tugas. Kelarin dulu. Gue sama Sunoo aja."

Jungwon cuma bisa mengangkat bahu, sementara Sunoo langsung berdiri dan mengikuti Haechan keluar. "Bang, jangan bohong lo ya. Beneran mau beliin mint choco?"

"Udah percaya aja sama Abang Haechan lo yang baik hati ini," jawab Haechan sambil cengengesan.

Beberapa menit kemudian, mereka balik ke kosan. Haechan dengan santainya ngelempar kantong plastik kecil ke tangan Sunoo. Di dalamnya ada satu cup es krim mint choco favorit Sunoo.

"Nih, makan yang manis-manis biar muka lo nggak asem lagi," ucap Haechan sambil duduk di sofa.

Sunoo membuka tutup es krimnya, mencicipi satu sendok, dan langsung senyum lebar. "Bang, lo memang abang terbaik di dunia!"

Haechan tertawa puas. "Tuh kan, bener. Mint choco selalu jadi solusi."

Jungwon melirik dari mejanya. "Wah, es krim mint choco bisa bikin Sunoo langsung happy. Gue harus inget itu."

Sunoo cuma nyengir sambil terus menikmati es krimnya. Semua kekesalan yang tadi dia rasain pelan-pelan mulai menghilang. Ada Haechan yang selalu santai dan Jungwon yang perhatian. Mungkin hari ini nggak seburuk itu, pikirnya.

"Thanks, Bang," ujar Sunoo pelan, tapi tulus.

"Ya iyalah," jawab Haechan sambil ngelirik TV lagi. "Abang lo ini kan selalu bisa diandalkan."

Sunoo hanya tertawa kecil sambil menghabiskan es krimnya. Akhirnya, dia bisa merasa lebih baik.

####





🐹🦊
Tolong cintai karya ini sebanyak mungkin yaa, terimakasih.

Terimakasih yang sudah read, vote and comment, kalau ada masukan boleh kasih tau aja ya.

Btw ini cerita perdana aku tentang Heesun,

Parallel Hearts | Heesun/HeenooStories to obsess over. Discover now