Perasaan Hampa

12 0 0
                                        

Menangis, adalah mekanisme manusia (dan sebagian makhluk hidup) untuk mengekspresikan perihal apa yang tidak bisa lagi ia tahan, tidak bisa lagi ia mengerti, dan tidak bisa lagi ia fahami. Ada banyak pengertian tentang menangis yang bisa menjelaskan lebih detail. Kita bisa menyarinya di google maupun membaca jurnal-jurnal yang mengkaji tentang tangisan. Artinya, menangis adalah kodrat yang dimiliki manusia, kita semua bisa menangis.

Namun, bagi laki-laki. Menangis nampaknya sedikit tabu. Mereka seperti 'tidak boleh' meng-ekspresikan sesuatu yang tidak bisa lagi mereka tahan dengan jatuhnya air mata apalagi rengekan. Batasan laki-laki boleh menangis hanya sampai usia tanggung kebawah. Setelahnya laki-laki harus kuat, laki-laki harus bisa menjadi bahu dan lengan untuk orang-orang disekitar. Oleh karena itu, tidak ada ruang untuk laki-laki menangis. Karena tangisan dan rengekan adalah pertanda paling mudah untuk menilai orang yang lemah.

Bukannya laki-laki juga manusia ? Mereka memiliki perasaan. Kapan laki-laki boleh meng-ekspresikan sesuatu yang tidak bisa lagi mereka tahan dengan menangis sejadi-jadinya ?

***

Jogja dipenghujung tahun. Seperti tempat-tempat lainnya. Jogja akhir-akhir ini sering kali basah. Beberapa kesempatan turunnya air hujan bisa sepanjang hari. Ini wajar dan bisa dimengerti karena saat ini memang musimnya hujan untuk turun. Walau terkadang dibeberapa kesempatan basahnya Jogja ditambah jalanan raya yang sering kali padat membuat kesal. Tadi dilampu merah Condongcatur orang disebelahku misuh kebasahan, karena hujan tiada berhenti. Aku juga basah, baru sampai di kost, tapi aku tidak merasa kesal.

Hari ini aku membolos dari tempat kerja. Dengan beralaskan kertas sakti, surat keterangan sakit yang dibuat di klinik rujukan BPJS yang aku miliki. Aku tidak sakit, ada janji bertemu seseorang di daerah Godean. Kita bisa membuat janji ketemu sepulang kerja, namun akan terlalu larut malam. Waktunya juga kurang, belum harus OTW dari Seturan ke Godean. Aku belum mengambil 'jatah' sakit bulan ini. Alasan yang tepat untuk bolos bukan.

Apakah salah bila tidak bisa merasakan apapun yang telah terjadi atau yang sudah lewat ? awalnya tidak terasa aneh. Namun bila dipikir kembali dan beberapa sekelibat merenung, apa yang ada dibenakku sepertinya salah -tidak benar. Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Apa yang terjadi, apa yang dirasa, sedetik kemudian yang aku rasakan tidak berarti apapun -hampa. Sedikit ikatan yang bisa aku buat dengan semua perasan ini. Kosong, tidak tau, tidak ada. Entah bagaimana cara menjelaskannya. Tapi seperti itu.

***

Akhir tahun lalu, aku menginginkan sesuatu. Kebetulan aku juga ada kegiatan dengan kawanku dan bisa sedikit menghasilkan. Apa yang aku inginkan harganya cukup mahal, bagiku, dan aku menginginkannya. Maka aku lakukan kegitan itu, walaupun disaat merasa lelah, merasa tidak enak, buntu, berhadapan dengan masalah, tetap aku lakukan dan nyatanya bisa aku lakukan. Penghasilanku semakin bertambah, aku menabungnya. Sampai semua terkumpul dan cukup untuk aku tukar dengan apa yang aku inginkan. Aku sangat senang. Rasanya bangga. Aku membawanya dan langsung aku pamerkan dihadapan rekan-rekan. Aku sangat bahagia.

Aku menyayangi apa yang akhirnya bisa aku dapatkan itu. Sekarang aku masih menyayanginya. Namun beberapa jam yang lalu apa yang aku ingin dan akhirnya aku dapatkan aku tukar dengan sekian nominal uang. Saldo di rekeningku menipis dan aku membutuhkan uang untuk membayar makanan untuk aku makan, membayar tempat cuci untuk mencuci pakaianku yang kotor, untuk keperluan lainnya termasuk membayar sewa kost tempatku tinggal. Oleh karena itu kami membuat janji bertemu di Godean. Sesuai janji kami bertemu, kami melakuka transaksi, menukar apa yang aku inginkan dengan nominal yang kami setujui. Lepas sudah apa yang akhir tahun lalu aku perjuangkan kini telah berpindah tangan.

Tentu saja aku sedih dan menyayangkan telah melepasnya. Namun sedetik kemudian rasa itu sirnah dan aku tidak merasakan apa-apa. Kami berpisah dan saling melambaikan tangan. Dia kembali ke asal tujuannya dan aku akan kembali ke kostku.

Ditengah jalan aku mampir di Indomart. Membeli satu cup kopi dingin. Aku meminumnya di kursi depan Indomart. Mengamati motor-mobil lalulalang dijalanan, menikmati seruputan kopi dingin bersama orang-orang yang juga duduk dikursi Indomart.

Aku tidak tau mau melakukan apa, tapi aku belum terlalu ingin segera sampai di kost. Aku ingin mengajak ngobrol orang disebelahku tapi sepertinya dia sedang sibuk dan tidak ingin diganggu oleh orang asing. Aku membuka gawaiku dan scroll sosial media tapi kemudian aku merasa bosan.

Aku melihat iklan yang lewat saat sedang scroll sosial media. Aku membuka dan membacanya sampai akhir. Aku tertarik dan melihat-lihat konten yang mereka buat. Akhirnya aku mebuka laman yang terkait dengan iklan itu. Untuk bisa masuk, aku harus membayar sekian rupiah, tentu ku buka M-banking dan mentrasfer sesuai yang diminta. Aku merasa terhibur dan senang. 

Cukup lama aku terpaku dengan layar gawai dihadapanku. Ada mungkin dua jam aku memantaunya. Selama itu juga sudah beberapa kali aku mentransfer uangku. Aku selalu katakan ini yang terakhir, tapi kembali melakukannya. Aku terlena. Merasa uangku cukup banyak dari hasil menjual barang yang paling aku sayangi. Anehnya aku merasa biasa saja. Maksudku tidak seperti kehilangan. Aku terus melakan sampai akhirnya muncul notif saldo direkeningku tidak cukup saat ingin mentransfer kembali. Aku terdiam sejenak, kepalaku berusaha menjadi mesin hitung.

Aku menyilakan kaki dan menyeruput satu cup kopi yang tinggal seberapa. Aku kembali memandangi jalanan, motor-mobil lalu-lalang. Aku tidak menaruh perhatian pada angka di rekeningku. Tapi aku tau dan aku sadar. Angka di rekeningku tidak tersisa banyak. Perkiraanku untuk membeli satu bungkus rokok yang biasa aku hisap mungkin saja tidak cukup. Ya, uangku habis, lagi. Tidak untuk apapun.

***

Padahal baru saja ku lepas barang yang aku sayangi. Namun dalam beberapa jam uangku habis lagi. Aku terakhir makan jam dua siang tadi, saat ini aku belum makan. Tanggat waktu bayar kost juga tinggal beberapa hari, saat ini aku belum bayar kost. Aku malah duduk menyila didepan Indomart dengan menghisap rokok yang tinggal separuh batang di bungkusnya. Aku tidak memikirkan rekeningku yang kembali kosong. Aku tidak memikirkan perutku yang belum diisi. Aku tidak memikirkan tempat tinggal yang belum aku bayar.

Setelah rokok aku matikan. Aku membuka jok motor dan mengambil mantel. Jalanan basah, hujan agak deras merintik dari langit. Aku menyalakan motor dan menaikinya. Menyusuri jalan yang searah menuju kost tempat aku tinggal. Aku ingin teriak. Aku ingin menyesal. Mungkin menangis. Namun, aku malah tertawa sangat lepas. Dibawah rintikan hujan diatas  motor yang melaju.

"Arrggghhaha HAHAHAHAH !!"

Aku menekan tusa rem, lampu merah menyala. Ini sudah dekat kost. Satu motor juga berhenti di sebelahku. Bajunya basah, sepertinya dia tidak membawa mantel. Walau percuma, satu tangannya berusaha menutupi barang yang dia taruh didepan. 

Aku menarik gas saat lampu menyala hijau. Orang disebelahku juga, tapi dia lebih dalam. Motornya melaju cepat mengebut.

"ASWW!" teriaknya kesal. Cukup keras sampai aku bisa mendengarnya.

Aku sampai dikost. Sepatuku basah. Aku menaiki tanggan menuju kamar kostku yang ada dilantai dua. Perutku berbunyi, ya, aku memang lapar. Aku harap beberapa hari kedepan aku tidak di usir dari sini. Barang kesayanganku baru saja lepas. Tapi aku tidak merasa kesal.

Besok aku harus bekerja, tidak bisa lagi membolos. Apa aku harus membersihkan ragaku yang lusuh dan terlapis keringat yang sudah mengering ? Apa aku langsung istirahat saja agar besok pagi aku bisa masuk kerja dengan segar ? Apa aku rebahan terlebih dahulu sambil scrol sosial media ? Entahlah, yang jelas sepatu basahku harus dilepas dahulu, celanaku juga sedikit basah. Harus  digantung diluar agar besok pagi setidaknya kering.

Selamat malam.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 24, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PerjalananWhere stories live. Discover now