BAB 1 : PANGGILAN DARI KEGELAPAN

174 47 109
                                        

Prolog:
Kota yang Hilang

Malam itu, langit di atas kota sunyi ini tampak menakutkan. Awan hitam pekat menggulung, menyelimuti cahaya bulan yang seharusnya menerangi jalan-jalan yang kini hancur. Tidak ada suara, selain desiran angin yang membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih gelap, lebih menakutkan.

Raka berdiri di pinggir jalan yang terjal, menatap kota yang sudah lama terlupakan. Di depannya, bangunan-bangunan yang rusak menyisakan dinding-dinding yang retak, seolah menunggu sesuatu-atau seseorang. Setiap langkah yang diambilnya terasa semakin berat, seperti ada sesuatu yang menariknya ke dalam kegelapan.

"Kita sudah salah jalan, Raka," bisik Lina, suara gemetar. "Ini bukan tempat yang harus kita masuki."

Namun, Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap kota itu, matanya menyala dengan rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan. Bersama Lina dan Dika, ia telah menempuh perjalanan panjang untuk menemukan kota yang hilang ini. Sebuah legenda yang disebut-sebut hanya ada dalam cerita-cerita tua, sebuah tempat yang tak pernah tercatat dalam peta manapun. Mereka percaya, kota ini adalah jawaban atas misteri yang telah menghantui mereka sejak pertama kali mendengarnya.

Namun, kini, saat mereka berdiri di ambang pintu kota yang terlupakan ini, Raka merasa ada sesuatu yang tidak benar. Ada sesuatu di udara, sesuatu yang berat dan gelap, mengintai mereka dari setiap sudut. Sesuatu yang lebih tua dari waktu itu sendiri.

"Ayo," kata Raka, suaranya penuh keyakinan meskipun hatinya dipenuhi rasa takut yang tak bisa ia hindari. "Kita sudah sampai di sini. Kita harus mencari tahu apa yang terjadi pada kota ini."

Dika mengangguk pelan, tetapi wajahnya penuh kekhawatiran. "Kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Lalu, sebuah bayangan gelap melintas di antara reruntuhan, seolah bergerak dengan kecepatan yang tidak mungkin dicapai manusia. Raka terhenti, napasnya tertahan.

"Lihat itu!" teriak Lina, menunjuk ke arah bayangan yang mulai memudar.

Sebuah suara mengerikan terdengar di udara, mengisi ruang dengan gema yang menakutkan. "Kalian sudah terlambat."

Itulah suara pertama yang mereka dengar sejak memasuki kota ini. Tidak ada angin, tidak ada manusia, hanya suara itu-suara yang berasal dari tempat yang jauh lebih dalam dari kegelapan.

Kota yang hilang itu tidak hanya sebuah tempat. Itu adalah penjara, dan mereka telah terperangkap di dalamnya.

------------------------------------------------------------------------

Di sebuah desa terpencil di ujung pulau yang terlupakan, ada sebuah legenda yang sudah lama terabaikan. Desanya sunyi, dikelilingi hutan lebat dan gunung-gunung yang tak pernah dijamah oleh tangan manusia. Namun, bagi orang-orang yang tinggal di sana, cerita tentang *Kota Yang Hilang* adalah sesuatu yang selalu ada di balik setiap bisikan angin malam.

Kota itu, menurut cerita, berada di suatu tempat di dalam hutan yang tidak terpetakan. Dikatakan, kota itu hilang lebih dari seratus tahun lalu setelah sebuah kejadian misterius yang menenggelamkan seluruh penduduknya. Mereka yang pernah melihat kota itu mengatakan bahwa kota tersebut tidak seperti kota biasa. Ada sesuatu yang aneh, yang gelap, dan penuh dengan kekuatan yang tidak bisa dijelaskan.

Namun, bagi Raka, seorang pemuda desa yang sering merasa penasaran, kisah itu lebih dari sekadar legenda. Raka adalah orang yang tidak percaya pada cerita-cerita tua. Dia ingin membuktikan bahwa semuanya hanyalah mitos belaka. Bersama teman-temannya-*Lina*, si pemberani, dan *Dika*, si cerdas-Raka memutuskan untuk mencari kota itu.

Mereka bertiga mempersiapkan perjalanan mereka menuju hutan yang dilarang, di mana tidak ada orang yang pernah kembali dengan selamat. Matahari baru saja terbenam saat mereka berangkat, meninggalkan desa yang kini hanya tampak sebagai bayangan samar di kejauhan. Mereka mengikuti jejak-jejak yang hanya diketahui oleh orang-orang tua di desa.

Namun, semakin dalam mereka memasuki hutan, semakin aneh suasananya. Udara menjadi semakin dingin, dan daun-daun yang jatuh dari pohon-pohon besar seolah berbisik, seakan memperingatkan mereka untuk berhenti.

"Apa kita harus terus?" tanya Lina, suaranya bergetar.

Raka mengangguk, meskipun hatinya juga mulai merasakan kegelisahan yang sama. Mereka terus berjalan, melewati kabut yang mulai turun dengan cepat. Tiba-tiba, Dika yang berjalan di depan berhenti.

"Ada sesuatu di sana," katanya, matanya tertuju pada sebuah bangunan yang tampak dari kejauhan. Bangunan itu, meskipun tertutup kabut, terlihat seperti sebuah kota besar yang terbuat dari batu hitam. Tak ada jalan atau jalan setapak yang mengarah ke sana, hanya kegelapan yang semakin menggelapkan dunia di sekitar mereka.

"Apa itu?" tanya Lina dengan suara pelan.

"Kota yang hilang..." bisik Raka, suaranya hampir tidak terdengar.

Mereka berjalan lebih dekat, dan semakin mendekat, mereka bisa merasakan sesuatu yang tidak wajar. Kota itu sepertinya tidak memiliki kehidupan. Jalanan yang seharusnya dipenuhi dengan orang-orang tampak kosong. Tidak ada suara apapun, hanya angin yang berhembus pelan, seolah mengantarkan mereka menuju kegelapan yang lebih dalam.

Mereka memasuki kota itu dengan hati berdebar. Kota itu penuh dengan bangunan-bangunan tinggi yang hancur, dengan reruntuhan yang menjulang seperti patung-patung sunyi. Jalanan dipenuhi dengan debu dan tanaman liar yang tumbuh tanpa terkendali. Tidak ada jejak kehidupan.

"Ini tidak benar," kata Dika, matanya waspada. "Sepertinya ada yang mengawasi kita."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Mereka berputar, tetapi tidak ada siapa-siapa. Mereka menoleh ke belakang, dan yang mereka lihat hanyalah bayangan yang bergerak di antara reruntuhan. Ketakutan mulai merayapi mereka, tetapi Raka tetap ingin melangkah lebih jauh.

"Tidak ada yang menghalangi kita," kata Raka, meskipun suaranya terdengar ragu. "Kita harus menemukan jawaban."

Mereka melanjutkan perjalanan, namun semakin mereka berjalan, semakin terasa bahwa kota ini bukanlah kota biasa. Ada sesuatu yang janggal. Setiap sudut kota seperti dipenuhi dengan aura gelap yang membuat mereka merasa terperangkap. Raka merasakan sesuatu yang berat menimpa dirinya, seolah-olah dunia ini ingin menelan mereka.

Mereka sampai di sebuah alun-alun yang besar, dengan sebuah patung misterius di tengahnya. Patung itu menggambarkan sosok seorang pria dengan wajah yang tampak mengenali mereka. Raka melangkah lebih dekat, dan tiba-tiba, dia merasakan sebuah kekuatan yang mengalir dari patung itu, seakan ada energi yang mengikatnya.

"Raka, jangan!" teriak Lina, tetapi sudah terlambat.

Tiba-tiba, tanah di sekitar mereka mulai bergetar. Dari bawah tanah, muncul bayangan-bayangan gelap yang bergerak cepat, mengelilingi mereka. Mereka berlari, tetapi bayangan-bayangan itu mengejar dengan kecepatan yang tidak wajar. Mereka bisa merasakan hawa dingin yang menusuk kulit mereka, dan suara berbisik yang terdengar semakin keras, seperti ribuan suara yang memanggil nama mereka.

"Pergi! Kembali!" teriak Dika, tetapi mereka tidak bisa berlari lebih cepat. Kegelapan semakin mendekat, dan mereka merasakan jari-jari dingin yang menyentuh mereka, menarik mereka ke dalam kegelapan.

Mereka berlari tanpa arah, mencari jalan keluar, tetapi kota itu seolah tidak berujung. Semua jalan yang mereka pilih membawa mereka kembali ke alun-alun yang sama, seolah-olah mereka terjebak dalam lingkaran waktu yang tak bisa dihindari.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah gedung besar yang tampak lebih terawat dibandingkan yang lainnya. Namun, saat mereka masuk, mereka disambut dengan pemandangan yang membuat hati mereka hampir berhenti. Di dalam gedung itu, terdapat ribuan mata yang menatap mereka dengan tatapan kosong. Mata-mata itu tidak bergerak, namun Raka bisa merasakan bahwa mereka sedang diperhatikan.

"Mereka tidak mati," bisik Lina ketakutan.

Raka menoleh dan melihat bayangan seorang pria di sudut ruangan, pria yang wajahnya mirip dengan patung yang mereka lihat di alun-alun. Pria itu tersenyum, dan senyumannya tampak jauh lebih menyeramkan daripada apapun yang pernah mereka lihat.

"Kalian akhirnya datang," kata pria itu dengan suara berat, penuh kekuatan gelap.

Kota Yang Hilang: Perjuangan BertahanStories to obsess over. Discover now