Kapten M ⁰¹

121 13 1
                                        




*******
~Rumah Sakit~

Di sebuah rumah sakit yang terletak di tengah-tengah kota, suasana yang semulanya tenang berubah menjadi rusuh dikala beberapa mobil tentara berdatangan.

Para perawat yang melihat itu langsung berlarian keluar sambil menarik brankar dan kursi roda, dari mobil itu keluar beberapa prajurit yang membopong rekannya yang tengah terluka.

Para perawat dokter langsung bertindak cepat untuk mengobati para prajurit yang terluka, untungnya hari ini rumah sakit tidak terlalu ramai sehingga dapat memudahkan mereka.

Terlihat seorang tentara yang membopong rekannya memasuki salah satu ruangan, dan membantunya untuk duduk. "Saya akan memanggil perawat dan dokter, kapten Mark." ujarnya dan beranjak pergi.

Mark Jung putra sulung dari keluarga Jung, putra Jung Jaehyun dan Jung Taeyong dia menjadi satu-satunya cucu yang mengikuti jejak sang kakek yang merupakan seorang jenderal tentara.

Dia menempuh pendidikan militer setelah lulus dari sekolah, dia menempuh pendidikan di salah satu sekolah militer yang berada di Amerika sama seperti kakeknya dulu, setelah menempuh pendidikan yang cukup akhirnya dia lulus dan masuk ke jajaran lulusan terbaik di sekolahnya.

Berkat kegigihan dan juga keberanian nya, di usianya yang ke 29 tahun nya dia diangkat menjadi seorang kapten di sebuah pasukan, kenaikan pangkatnya bukan karena semata-mata dia adalah cucu dari seorang jenderal.

Kenaikan pangkatnya dari seorang perwira lalu letnan dan mayor sebelum dia di angkat menjadi kapten, pangkat-pangkat itu benar-benar diraih dengan kemampuan nya, dia menjadi satu-satunya yang paling bersinar karena kepintaran dan kecerdikannya dalam sebuah misi, sehingga membuatnya diangkat menjadi kapten.

Ceklek!

Mark menoleh dan mendapati seorang dokter dengan seorang pelayan memasuki ruangan, dokter berjalan tergesa-gesa ke arahnya dan langsung memeriksanya.

Mark diam dan dia menatap nametag yang bertengger di jas dokter itu. ‘Dokter Kim Haechan?‘ batinnya.

Haechan mengerutkan keningnya. ‘ini luka tembak tapi kenapa aku tidak menemukan pelurunya?‘ batinnya bingung.

"Saya sudah mengeluarkan pelurunya saat dalam perjalanan kemari, anda cukup membersihkan dan menjahit lukanya saja," ujar Mark tanpa menoleh.

Haechan menatap Mark sebentar. "Suster, tolong ambilkan aku kapas, alkohol, obat merah dan juga jarum jahit," ujar Haechan.

Suster itu mulai menyiapkan apa yang Haechan minta dengan cepat. "Ini dokter," ujarnya sambil memberikan nampan khusus yang berisikan alat-alat yang Haechan perlukan.

"Terimakasih, Suster." Haechan mulai membersihkan luka Mark dengan hati-hati.

Sedangkan Mark dia hanya diam tanpa ekspresi apapun, Haechan terus melakukan tugasnya sambil sesekali melirik ke arah Mark. ‘Lukanya cukup dalam, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesakitan aneh,‘ batinnya.

"Tuan tentara, luka pada lengannmu ini cukup dalam, tindakan anda yang mengeluarkan peluru sendiri itu cukup bisa berakibat parah dan bisa berakhir infeksi jika tidak ditangani dengan benar," ujar Haechan sambil menjahit luka Mark.

"Hal seperti sudah umum terjadi dilingkungan para tentara, bahkan pembedahan karena terkena peluru sudah sering aku dan para anggota kami lakukan saat di Medan tempur, walau dengan menggunakan alat seadanya dan tenang saja kami juga sudah dibekali tentang hal itu," ujar Mark.

Haechan yang mendengar itu terdiam beberapa saat, lalu dia melanjutkan kembali tugasnya.

"Apa golongan darah mu?" tanya Haechan.

"A," jawab Mark.

"Suster tolong bawa satu kantung darah golongan A kemari, pasien kehilangan cukup banyak darah karena melakukan pembedahan sendiri," ujar Haechan sambil melirik ke arah Mark.

"Baik, Dokter!" Suster itu bergegas pergi dari sana.

Mark membalut luka Mark dengan perban. "Aku sangat heran padamu, aku tau kau seorang tentara tapi tentara juga seorang manusia, bagaimana bisa kau terlihat biasa saja dengan luka yang lumayan parah ini dan bahkan kau juga kehilangan cukup banyak darah."

"Kau ini manusia atau bukan?" tanya Haechan.

Mark hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan Haechan. "Ini sudah bukan? Saya harus kembali ke markas untuk melapor," ujar Mark dan berniat untuk turun dari brankar.

Sebelum Haechan menahannya. "Tunggu! Kau belum pulih sepenuhnya, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan keadaan mu yang seperti ini," ujar Haechan.

Mark mengangkat sebelah alisnya. "Luka karena tembakan seperti ini sudah sering saya dapatkan, jadi anda tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan keadaan saya," ujar Mark dan kemudian turun dan berlari pergi.

"Hey! Tunggu! Bagaimana bisa kau pergi dalam kondisi seperti itu? Yak!!"

Percuma saja Haechan berteriak, karena Mark sudah menghilang dari pandangannya. "Aish! Benar-benar keras kepala, baru kali ini aku menemukan pasien yang keras kepala sepertinya," ujar Haechan.

~Bersambung~

KAPTEN MWhere stories live. Discover now