Prolog

5 1 0
                                        

Asap rokok mengepul dari balik jendela rumah Jeremiah, aroma alkohol masih tercium samar di udara. Blessy mengernyit, menarik napas dalam-dalam. Dia tidak pernah merasa nyaman di lingkungan ini. Ruang tamu Jeremiah dipenuhi asap rokok dan aroma minuman keras, sangat berbeda dengan ruang tamu rumahnya yang dipenuhi buku-buku dan aroma teh. Blessy menunduk, menghindari tatapan Jeremiah yang sedang menatapnya dengan intens.

"Kau tidak perlu takut, Blessy," kata Jeremiah, suaranya terdengar sedikit serak akibat efek dari rokok. "Aku tidak akan menyakitimu." Blessy mengeratkan genggamannya pada tasnya, matanya tertuju pada sebuah kalung emas yang selalu dia kenakan. Sebuah simbol terukir di kalung itu, simbol yang Jeremiah tidak mengerti.

"Keluargaku tidak akan menyetujui kita, Jeremiah." bisik Blessy, suaranya hampir tak terdengar. "Mereka membenci dunia yang kau jalani." Jeremiah terdiam, matanya menatap jauh ke dalam ruangan. "Aku tahu," jawabnya, suaranya terdengar lesu. "Tapi aku tidak bisa meninggalkan masa laluku. Aku hanya ingin kau mengerti."

Blessy terdiam, hatinya dipenuhi keraguan, dihimpit oleh rasa takut dan keinginan. Bisakah dia menerima Jeremiah apa adanya, meskipun latar belakangnya sangat berbeda? Atau, apakah dia harus memilih untuk melupakan Jeremiah, menyerah pada keinginan hatinya?

Breaking The WallsWhere stories live. Discover now