PROLOG

18 5 2
                                        

"Alejandro, jangan bermain terlalu jauh, sebelum matahari terbenam, kamu sudah harus pulang," tegas Ibunya.

"Iya, Ibu." Alejandro langsung menutup pintu dan berlari menghampiri teman-temannya.

Sekumpulan bocah berusia sebelas tahun yang suka mengelilingi desa tempat mereka tinggal, dan terkadang mengunjungi desa tetangga untuk berpetualang kini berkumpul di halaman rumah. Alejandro bersama empat temannya selalu membawa sedikit uang, untuk persiapan jika saja mereka menemukan seorang pedagang yang menjual makanan enak di desa seberang. Terkadang, jika uang di antara mereka kurang, mereka akan menggabungkan seluruh uang mereka untuk membeli beberapa makanan dan kemudian membaginya untuk dimakan bersama.

Kali ini, Alejandro mengunjungi sebuah desa yang terpisah aliran anak sungai dengan desa mereka. Melewati sungai dengan perahu yang dikayuh oleh seorang pria paruh baya-kenalan mereka. Sesampainya di wilayah muara, mereka segera berlari menuju desa tujuan-untuk memulai petualangan sederhana. Memasuki desa tersebut, ada banyak orang yang berlalu-lalang. Suasana di desa ini benar-benar berbeda dengan desa mereka, karena desa ini berada di dekat gerbang pembatas antara tembok pertama yang merupakan tempat mereka tinggal dengan tembok kedua. Banyak sekali barang-barang yang dikirim dari tembok kedua, kemudian disalurkan ke beberapa desa yang berada di bagian utara, timur, selatan, dan barat tembok.

"Wah, ada banyak sekali makanan enak yang mereka bawa," kata salah satu teman Alejandro.

"Mari kita gabungkan uang kita, kemudian membeli beberapa makanan enak yang mereka jual, lalu kita makan bersama-sama," usul teman lainnya.

Mereka pun serentak mengangguk setuju, lalu menggabungkan uang mereka semua. Melihat-lihat makanan yang dijual, kemudian mendiskusikan untuk membeli beberapa dan memakannya bersama-sama.

Saat mereka sedang asyik memakan makanan mereka bersama-sama di sebuah taman kecil yang ada di desa tersebut, tiba-tiba saja ada pasukan Penjaga Kekaisaran yang memacu kuda mereka menghampiri permukiman warga desa.

"Dengarkan saya! Jika di antara kalian bertemu dengan seorang gadis berusia sepuluh tahun yang sedang mengenakan topi bundar berwarna putih dengan pita topi berwarna biru, juga memakai gaun biasa berwarna putih, beritahu kami segera!" seru seorang Pria.

Kemudian, mereka pergi meninggalkan desa dan pergi ke desa lainnya.

"Hei? Siapa gadis itu kira-kira? Dia bahkan tidak menyebutkan namanya," tanya teman Alejandro.

"Mana aku tahu!" seru temannya yang lain.

Tiba-tiba saja, saat mereka sedang membahas soal gadis yang sedang dicari Pasukan Penjaga Kekaisaran, Alejandro langsung membahas hal yang lain. Ia terlihat mengabaikan topik panas yang baru saja dibahas.

"Hei, bagaimana jika suatu saat kita menjadi bagian dari pasukan Penjaga Kekaisaran, apakah kita bisa mengelilingi seluruh tembok pertama, kedua, dan ketiga?" tanya Alejandro pada teman-temannya.

"Tentu saja, jika kau berhasil menjadi kandidat terbaik di pelatihan nanti," sahut temannya.

"Tapi, aku rasa sangat mengerikan jika kita melewati hutan lebat dan gelap yang membatasi arah mata angin ketiga tembok!" celetuk salah satu temannya.

"Aku rasa di tembok ketiga tidak ada hutan pembatas, karena ukuran mereka tidak sebesar tembok pertama dan kedua," balas Alejandro.

Setelah menghabiskan makanan, dan menyelesaikan pembahasan. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat-matahari mulai terbenam ke arah barat, Alejandro bersama teman-temannya langsung terburu-buru untuk pulang. Menyapa dan meminta untuk diseberangkan oleh pria tua kenalan mereka.

Saat berada di atas perahu, bukannya menikmati pemandangan matahari terbenam dengan air yang terkena pantulan sinar berwarna jingga, mereka justru merasa takut dan was-was. "Aku tidak mau dimarahi oleh ibuku!" keluh temannya.

Mereka pun berlari secepat yang mereka bisa saat tiba di muara-tak lupa mengucap terima kasih dan memberi bayaran dari sisa uang mereka. Setibanya di rumah, Alejandro langsung bertemu ibunya yang baru saja selesai mengangkat jemuran pakaian.

"Untung saja kembali sebelum malam, segera masuk dan mandi, kita akan makan malam," suruh Ibu, dengan nada sedikit kesal dan mengancam.

Alejandro yang merasa tak enak pun segera mengangguk-namun, sebelum ia memasuki rumah, ia sempat melihat seorang gadis yang memiliki ciri-ciri persis seperti yang disebutkan oleh Pasukan Penjaga Kekaisaran, berpapasan dengannya. Akhirnya, ia justru melihat terus-menerus ke arah sang Gadis berjalan, sambil memegangi gagang pintu.

"Hei! Alejandro! Jangan terlalu sering melamun, sedang melihat apa kamu?" tanya Ibunya. Wajahnya kini terlihat masam-sambil memegang keranjang pakaian bersih yang sudah kering karena dijemur di bawah sinar matahari, ia melotot ke arah Alejandro.

"Tidak, Bu! Maaf!" Alejandro yang terkejut pun langsung terburu-buru masuk ke dalam rumahnya.

Janji Sebuah Kunci(Proses Revisi)Stories to obsess over. Discover now