Aku masih ingat detik-detik terakhir sebelum semuanya gelap. Sebelum aku tahu bahwa kedalaman 838 meter akan menjadi akhir segalanya. Aku tidak tahu apakah aku masih hidup sekarang, atau hanya suara dari kedalaman yang terperangkap di sini-tempat yang bahkan namanya pun membuat jantung berdebar ketakutan.
Kami adalah tim, saudara, semua satu. Tapi di sini, di tempat gelombang menutupi segalanya dan kegelapan memisahkan manusia dari realitas, kesetiaan kami diuji lebih dari apa pun. Aku melihat teman-temanku jatuh satu per satu, bukan oleh musuh, tapi oleh kejamnya gelombang dan kedalaman yang tak kenal ampun.
Kami tertawa bersama, berlatih bersama, berjuang bersama. Tapi sekarang, hanya ada keheningan, pertanyaan tanpa jawaban, dan rasa sakit yang mengoyak hati. Aku tidak tahu apakah ini akan pernah selesai, apakah ada yang akan menemukan kami di sini, di tempat di mana suara manusia kalah oleh kebisingan laut.
Jika sebuah cerita sudah sampai kepada kalian, ketahuilah: Kami tidak kalah, kami hanya tenggelam. Berjuang hingga akhir, hingga kedalaman memisahkan kami dari segalanya. Aku hanya berharap kalian tahu bahwa di balik semua ini, ada cerita tentang keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan yang tak pernah padam.
Kegelapan ini menelan segalanya, tapi kami tetap bertahan-hidup atau mati, kita akan tetap bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
838
Short StoryKedalaman 838 meter memendam kegelapan yang tak tertembus. Suara tawa para awak kapal tiba-tiba berubah menjadi jeritan yang tenggelam oleh gelombang. Mereka adalah saudara, tim yang tak terpisahkan, tapi sekarang hanya tinggal kenangan dan pertanya...
